
"Mbak Rianti, tolong, maafkan anak saya. Tolong, jangan penjarakan Romi, Mbak, saya mohon," rengek seorang ibu sembari berlutut kepada wanita muda yang duduk di kursi kayu. Wanita muda itu masih dalam keadaan sangat terkejut. Rianti bahkan tidak bisa mengatakan apa apa saat ini karena syok yang menderanya secara mendadak.
"Bagaimana Kami bisa memaafkan anak bapak dan ibu. Bukankah perbuatannya sudah sangat keterlaluan?" Dandi yang menbalas ucapan orang tua dari tersangka utama yang hampir membuat Rianti celaka.
"Saya tahu, tapi sebenarnya itu bukan perbuatan Romi, Mas, Romi diacam," kini seorang pria yang berbicara.
"Romi diancam? maksud bapak?" tanya Dandi lagi dan pertanyaan itu juga mewakili rasa keterkejutan Rianti yang makin bertambah.
"Anak saya ditekan dan di ancam oleh keluarganya Lila, Mas."
"Apa!" pekik Dandi dan Rianti hampir bersamaan. "bagaimana bisa, Pak?" sekarang Rianti yang memberi pertanyaan.
Bapaknya Romi menganguk. Dia hendaak bercerita tapi Dandi memerintahkan terlebih dahulu dua orang tua itu untuk bangkit dan duduk di atas kursi kayu yang lain, di sebelah kursi yang Dandi dan Rianti duduki. "Bagaimana ceritanya, Pak? Kok bisa Romi diancam?" tanya Dandi setelah dua orang itu duduk dan sikap mereka lebih tenang.
"Semua ini karena ada hubungannya dengan hutang dan juga masa lalu, Mas," jawab si Ibu.
"Hutang dan masa lalu?"
__ADS_1
"Jadi begini ..." Si bapak mulai bercerita, kalau anaknya memiliki hutang seratus juta kepada kakaknya Lila. Dulu Romi pernah merintis usaha yang cukup besar dan kakaknya Lila menginvestasikan uangnya ke usaha milik Romi. Tapi baru jalan satu tahun ada musibah virus corona, otomatis usahanya menurun drastis. Uang insvetasi sebesar dua ratus juta baru dikembalikan separuh.
Romi sebenarnya sudah mencicilnya beberapa bulan, dan dia mendapat penawaran, kalau Romi mau menikahi Lila, maka hutang Romi lunas. Tapi yang namanya hati tidak bisa dipaksakan. Apa lagi beberapa bulan kemudian Romi bertemu dan berkenalan dengan Rianti. Dari sanalah Romi mantap untuk menolak Lila.
Namun karena Lila yang sudah sangat terobsesi, membuat wanita itu tidak terima. Keluarganya Lila sendiri mau menjodohkan dengan Romi karena sebenarnya mental wanita itu seperti terganggu. Sudah banyak pria yang mereka kenalkan pada Lila dan semuanya mundur meski pria pria itu dijamin keuangannya.
"Lalu, kenapa Romi memiliki rencana untuk menodai Rianti?"
"Sebenarnya itu bukan rencana Romi, Mas. Itu rencana kakaknya Lila."
"Apa! Tapi kenapa Romi yang ngaku?"
"Astaga! Jadi begitu? Sialan!" Dandi jadi ikutan kesal sendiri, sedangkan Rianti masih terdiam, meski da juga sama terkejutnya. "Apa keluarganya Lila itu orang yang berkuasa?"
"Mereka cukup berkuasa, Mas. Kakaknya kepala kecamatan di sini," ucap ibunya Romi. "Maka itu saya mohon, tolong jangan penjarakan Romi, Mbak?"
Rianti menoleh ke arah Dandi. Dari tatapan matanya jelas sekali kalau dia bingung harus bersikap bagaimana. Dandi pun mengerti dan dia yang akan mengambil tindakan. "Ya udah, Bu, Pak, mending kalian pulang dulu. Urusan Romi, biar kami yang urus. Aku dan Rianti akan berbicara terlebih dahulu dengan Romi."
__ADS_1
Sekarang gantian suami istri itu yang saling pandang. Namun itu tak berlangsung lama karena setelahnya, mereka lantas pasrah dan setuju dengan apa yang Dandi katakan. Mereka pun pamit pulang dengan membawa harapan besar mengenai kebebasan anaknya.
"Apa yang harus kita lakukan, Dan?" tanya Rianti begitu mobil yang membawa orang tua Romi pergi dari halaman kantor polisi.
"Kita temui dulu, Romi dan tiga tersangka lainnya," ajak Dandi, dan Rianti menyetujuinya. Mereka lantas kembali masuk ke kantor polisi untuk meminta ijin bertemu dengan empat orang tersangka. Polisi mengijijnkan dan memberi mereka waktu yang cukup lama untuk berbicara.
"Kenapa kamu begitu bodoh sih? Kamu kan bisa memberontak?" tanya Rianti begitu mereka duduk berhadapan di sebuah ruangan.
"Aku tidak punya pilihan lagi, Ri. Apa lagi tiga orang itu memberi keterangan palsu dengan segala buktinya," ucap Romi dengan kepala menunduk.
"Emang kapan ponsel kamu hilang? Apa mungkin pas malam itu sejak kamu sama Lila pergi dari tokoku?"
"Sepertinya saat itu, Ri, soalnya aku sendiri juga ingat, sebelum ke tempat kamu, aku masih megang ponsel, dan saat pergi dengan Lila, aku juga masih memegangnya."
"Emang kamu sama Lila pergi kemana?" tanya Dandi yang duduk di sebelah Rianti.
Romi terdiam. Jelas sekali kalau dia merasa ragu untuk menjawab pertanyaan Dandi membuat kedua orang di hadapan Romi menjadi penasaran.
__ADS_1
...@@@@@...