
"Menurut kamu gimana, Ran? Perbuatan Ibu dan Eliza, sangat gegabah, kan?" tanya Paman Iksan dengan tatapan yang cukup menyeramkan. Jelas sekali kalau tatapan itu membuat pria di hadapan si Paman merasa sedikit bergidik.
Randi menatap sepasang suami istri di hadapannya secara bergantian. Pertanyaan yang keluar dari Paman Iksan membuat Randi cukup merasa dilema. Di satu sisi, dia ingin membela Paman yang kelihatan menyeramkan dan pendapatnnya juga benar. Di sisi lain, dia juga setuju dengan sikap yang diambil Eliza dan bibinya.
"Ealah, ni bocah! Ditanya kok malah bengong," Paman Ikssan malah terlihat kesal kerena Randi tidak langsung menjawab pertanyaanya. "Gimana menurut kamu? Mereka gegabah tidak?"
"Jangan galak galak sama anak orang, Pak?" Bibi malah kesal dengan sikap suaminya. "Nggak lihat apa, kita jadi pusat perhatian. Bikin malu." Paman Iksan langsung mengedarkan pandangannya. Benar saja, hampir semua mata orang yang satu ruangan dengan mereka, sedang menatap ke arah tiga orang itu.
Randi agak tersentak juga dan dia langsung tersenyum lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya menurut aku sih perbuatan Paman dan Bibi tidak ada yang salah. Semua demi kebaikan juga kan?"
"Huu! Ditunggu jawabannya malah plin plan gitu?" sungut Paman Iksan yang tidak puas dengan jawaban Randi.
"Lah terus aku harus jawab apa, Paman?" balas Randi sambil cengengesan. "Itu kan menurut pemikiranku."
"Iya, Paman tahu. Mentang mentang Eliza mau menjadi istrimu, ya wajar kamu membelanya," tuduh Paman Iksan sampai Randi hanya bisa cengengesan tanpa bisa berkata apa apa lagi. "Terus rencana pernikahan kalian gimana? Persiapannya sudah sampai mana?"
__ADS_1
Pertanyaan Paman Iksan langsung membuat Senyum lebar Randi menghilang. Dia kebingungan dengan pertanyaaan yang satu itu. Padahal itu sebuah kebohongan belaka. Walaupun Randi memang ingin menikahi Eliza, tapi dia belum mempersiapkan apapun. Randi benar benar berpikir cepat untuk segera mencari jawaban. Sampai beberapa detik kemudian, Randi teringat sesuatu dan dia harus menggunakan hal itu untuk menjawab pertanyaan dari Paman
"Persiapannya ya belum terlalu banyak, Paman. Kan rencananya aku akan menghadap orang tua Eliza terlebih dahulu. Kemungkinan kalau masih diberi umur, aku akan kembali ke kota untuk menemui orang tua Eliza."
"Wahh! Kamu gerak cepat juga ya, Ran?" tanya si Bibi.
Randi langsung tersenyum lebar. "Ya bagaimana lagi, Bi. Aku harus bergerak cepat dong, agar Eliza ada yang melindungi? Dua kali loh Eliza hampir celaka. Kalau aku nggak gerak cepat, nanti terjadi apa apa sama Eliza lagi, bagaimana?"
"Baguslah. Kamu memang paling bisa Paman andalkan," puji Paman Iksan. "Coba kalau kamu dulu bisa bersikap kayak gini, mungkin Eliza dan kamu masih baik baik saja hubungannya."
"Pasti dia sangat kecewa karena perbuatan kamu itu," ucap Bibi. "Makanya, begitu ketemu yang cocok, mantannya Eliza langsung nikah aja."
"Bukan gitu, Bi," bantah Randi. "Mantan Eliza, menikah lebih cepat karena ceweknya hamil, dan yang menghamili itu mantan calon suami Eliza. Hamilnya aja udah dua bulan, mau jalan tiga bulan."
"Astaga! Jadi Eliza diselingkuhin?" tanya Paman Iksan.
__ADS_1
"Udah pasti, Paman. Untung saja kan? Aku menggagalkan pernikahan Eliza? Kalau dia jadi menikah, gimana nasibnya coba? Pasti dia sangat sakit hati banget. Nggak mungkin kan, dia akan nuntut cerai diusia pernikahanya yang masih muda?"
"Yayaya, Paman paham. Setidaknya perbuatan buruk kamu ada hikmahnya ya, Ran?" Randi mengangguk. "Ya sudah, aku tunggu kabar baiknya dari kamu. Tapi kalau kamu juga selingkuh, kamu akan langsung Paman bantai."
"Hahaha ... semoaga enggak lah, Paman. Dapatin Elizanya aja susah setengah mampus."
"Baiklah, kalau gitu Paman pulang, udah sore. Nggak enak juga sama yang lainnya, udah duduk terlalu lama disini."
Randi pun mempersilakan. Awalnya Randi masih menawarkan makanan untuk dibawa pulang, tapi suami istri itu menolaknya. Mereka pulang dengan perasaan yang cukup lega. Begitu juga dengan Randi.
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di kantor polisi, Dandi dan Rianti nampak sedang ngobrol dengan polisi yang bertugas, tentang seputar kejadian yang menimpa Rianti. Kedua orang itu sangat penasaran dengan orang yang memberi perintah untuk mencelakai wanita pedagang buah. Keduanya cukup terkejut saat di kasih tahu nama orang yang menjadi otak kejahatan yang hampir saja menimpa Rianti.
"Benar, Pak? Dia orangnya?" tanya Rianti dengan wajah terlihat sangat terkejut.
"Benar, Ibu, mungkin sebentar lagi orangnya akan datang." Rianti mengangguk dan kedua tangannya terkepal dengan erat.
__ADS_1
...@@@@@...