
"Kamu serius, Mbi? Mau menerima Mulyadi?"
"Nggak, Bu. Jangan percaya sama Sandi, ngarang aja kalau ngomong."
"Ya kalau emang nggak ada calon, kenapa nggak nikah aja kalian berdua?" semua mata sontak menatap orang yang baru saja mengatakan pendapatnya. "Kenapa malah pada menatap ke saya semua? Omongan Papah benar kan, Mah?"
"Benar sekali," jawab Mamah, lalu menatap dua orang yang duduk diantara anak kecil. "Lagian anak kalian kan sudah gede, makin kesini juga nanti dia akan tahu. Kalau sampai dia memahami Ibunya nggak nikah sama ayahnya, bagaimana perasaan Reyhan? IBu tahu, Arimbi, kamu akan sulit menerima Sandi dengan perbuatannya yang sudah sangat keterlaluan. Tapi setidaknya pikirkanlah dari sisi Reyhan."
"Aku juga pernah bilang seperti itu sama Arimbi," Pak Seno juga mengeluarkan suaranya. "Entah apa yang menggajal dalam hatinya? Mungkin lebih dari sekedar perbuatan Sandi. Benar kan, Mbi?"
Arimbi hanya menunduk tanpa bereaksi apa apa. Dirinya juga bingung untuk sekedar memberi jawaban yang dilempar kepadanya. "Apa kamu merasa berat karerna takut orang tua kamu tidak memberikan restu?" pertanyaan dari Sandi sontak membuat Arimbi mendongak dan menatap ayah dari anaknya.
"Kalau urusan orang tua kamu, biar itu menjadi urusan Sandi," Papah kembali bersuara. "Dia yang membuat masalah jadi rumit, ya dia juga yang harus menyelesaikannya. Kalau bisa secepatnya, jangan menunda waktu."
"Mana bisa secepatnya, Pah. Aku kan harus dagang. Kemarin aja kita udah libur. Paling nunggu bulan depan."
"Dagang mulu yang dipikirin!" sungut Papah. "Orang ada yang lebih penting. Berapa keuntungan kamu dalam sehari? Biar papah ganti semuanya selama kamu pergi."
__ADS_1
"Iya, Bang Sandi, tinggal nurut napa?" Sandrina juga tak kuasa menahan suaranya karena gemas dengan sikap kakaknya. "Kamu nggak mau kan, Papah nyuruh kamu pakai baju gamis punya Mamah?"
"Laki laki kok kayak gitu. Orang udah punya anak satu, masih takut aja ngehadapin masalahnya," ejek Papah.
"Iya, iya, secepatnya aku akan menemui orang tua Arimbi, puas?" Sandi benar benar gemas karena selalu disalahkan sejak sore tadi.
"Ya, belum puas, orang belum ada hasilnya gimana Mamah bisa puas?"
"Ighh! Kalian ini, senang bangat bikin anaknya malu di depan cucu kalian sendiri," gerutu Sandi, namun tak ada yang membalasnya. Semua malah tersenyum lebar melihat sikap Sandi yang kesal sendiri, termasuk Arimbi.
Keluarga Sandi memutuskan menginap di hotel yang ada di kota ini. Esok hari, mereka berencana akan mengajak cucu mereka untuk piknik tanpa Sandi. Awalnya Sandi protes dan tidak terima karena dilarang ikut oleh keluarganya. Namun, setelah orang tuanya memberi alasan yang cukup masuk akal, akhirya Sandi mengalah untuk tidak ikut.
"Ini, Reyhan mau buka warung apa gimana? Mainan dan jajannya banyak banget," gerutu Bu Farida saat matanya menatap beberapa kantung plastik yang cukup besar. "Padahal baru tadi siang dibuang sekarung, eh ini malah tambah lebih dari sekarung."
"Tapi kan yang beliin beda orang, Bu," jawab Arimbi ssambil menepuk nepuk tubuh anaknya yang sudah mulai terpejam matanya.
"Iya yah? Lain kali kalau Mulyadi kesini, ngomong aja, nggak usah bawa apa apa untuk Reyhan. ibunya nggak ikhlas gitu. Nanti kamu dirongrong lagi," sungut Bu Farida.
__ADS_1
"Emang Ibunya Mulyadi ngomong apa?" tanya Pak Seno yang sedari tadi masih duduk di tempata yang sama.
"Omongannya pahit banget, Pak. Bau bangkai. Nuduh Arimbi memanfaatkan Reyhan untuk menjeratnya. Apa nggak kurang ajar namanya?" sungut Bu Farida.
Kepala Pak Seno menggeleng beberapa kali. "Tu kan, Mbi, lihat! Beda aja kalau sama keluarga kandung Reyhan. Itu baru Mulyadi yang deketin. Coba kalau kamu jadi istrinya, kamu bisa memikirkan sendiri, kemungkinan terburuk yang bisa kamu dan Reyhan alami."
"Nah, bener tuh. Lain kali kamu harus lebih tegas sama Mulyadi."
"Iya, bu iya," jawab Arimbi dengan segala kesabarannya. Wanita itu lantas bangkit sambil mengangkat tubuh anaknya memasuki kamar. Arimbi juga ikut berbaring di sisi anaknya. Matanya menatap wajah menggemaskan bocah laki laki yang matanya terpejam. "Apa ayah kamu benar benar akan berubah, Nak?" gumamnya.
Masih di malam yang sama tapi di lain tempat, Mulyadi justru sedang terlihat emosi di dalam salah satu ruang karaoke. "Kapan kita akan menjalan renccananya? Kok lama banget?" sungutnya kepada dua orang temannya.
"Sabar, Mul, nunggu kesempatan yang bagus," jawab sahabat Mulyadi yang bertto banyak di tangannya.
"Kelamaaan! Aku sudah tidak sabar tidur dengan Arimbi, tahu nggak!" dua teman Mulyadi malah terkekeh mendengar ucapannya.
...@@@@@...
__ADS_1