TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Keterkejutan Dandi


__ADS_3

Arimbi bener benar pergi dengan segala amarahnya yang sudah tidak bisa dibendung lagi. Wanita itu bahkan meninggalkan sang anak yang sedang menangis dengan keras. Dia sungguh telah melampiaskan segala amarah yang mungkin selama ini dia pendam beberapa tahun terakhir.


Sedangkan Sandi hanya terpaku menatap kepergian ibu dari bocah yang saat ini menangis dalam gendongannya. Dia tidak menyangka, ucapannya yang terlontar karena kekesalannya justru memancing amarah dan membuka semua dosa masa lalu pria itu. benar kata Arimbi, sandi seperti orang yang menjilat ludahnya sendiri.


"Reyhan sama ayah dulu, nanti kita susul Ibu," ucap Sandi mencoba menenangkan bocah yang terus menangis. Mata pria itu berkeliling sembari berpikir untuk mencari sesuatu yang bisa menenangkan anak kecil yang sedang menangis.


Melihat sebuah minimarket yang letaknya tak jauh dari taman kota, membuat Sandi menemukan ide untuk membawa sang anak ke sana. "Rehyan mau beli eskrim ngggak? hemm? Kalau mau nanti ayah belikan? mau?"


Bocah itu seketika memelankan suara tangisnya dan mendongak menatap pria yang sedang menggendongnya. "Ayah?" ucap Reyhan dengan tatapan yang penuh dengan tanya. Sandi langsung terpaku sesaat mendengar anak kecil menyebut kata ayah. Seketika dalam dada Sandi terasa bergemuuh. Berbagai perasaan berkecamuk jadi satu saat menatap wajah anaknya.


"Iya, ini ayah, Reyhan mau sama ayah?" suara sandi bergetar. Bahkan rasa harunya menyeruak dengan disertai mata yang mengembun. Rasa sesal yang semakin menyeruak karena sempat tidak mau menerima anak itu semakin nampak jelas saat sandi mendekap tubuh anak itu. "Maafin ayah ya? Ayah sudah sangat jahat sama ibu dan Reyhan."


"Ibu .. huhu .." mendengar kata ibu, anak itu kembali merengek. dengan segera Sandi mencoba mengalihkan perhatian anak itu menuju mini market.

__ADS_1


"Loh, kok Reyhan sama kamu? Ibunya mana?" tanya Dandi begitu Sandi kembali ke rumah makan beberapa menit kemudian setelah pulang dari minimarket.


"Ibunya pulang dalam keadaan marah, terus dia pergi ninggalin Reyhan begitu saja," jawab Sandi sambil mendudukan anaknya ke salah satu kursi yang ada di meja pembatas dan menyuapi anak itu dengan eskrim rasa coklat.


"Marah? Marah kenapa?" tanya Randi sembari meletakkan pesanan pembeli ke atas meja pembatas dan tak lama setelahnya salah satu karyawannya mengambil pesanan tersebut.


"Ya gara gara mulutku yang tidak bisa mengontrol ucapan, jadi dia marah dan mengungkit perbuatan aku ke dia."


Dandi dan Randi tercenung dan sepertinya mereka sudah bisa membayangkan apa saja yang dilontarkan wanita tu kepada Sandi. "Apa dia jua bilang soal kamu yang nggak bakalan nerima anak ini?" tanya Randi.


"Lah terus apa yang akan kamu lakukan sama reyhan?" tanya Dandi.


"Ya, biarlah, Reyhan denganku dulu. lagian ni anak sepertinya seneng dekat dengan ayahnya. Biar nanti selepas maghrib aku antar pulang," ucap Sandi. "Rayhan sama tante tante dulu ya? Ayah mau bantuin om om itu?"

__ADS_1


Bocah itu hanya mendongak dan menatap sang ayah tanpa bereaksi lalu Sandi meminta karyawannya untuk menjaga Reyhan. "ini anak mas bos?" tanya salah satu karyawan mewakili yang lainnya.


"enapa? Kaget?" tanya Sandi sembil masuk lewat sisi pojok meja pembatas yang memang sengaja untuk jalan penghubung antara dapur, meja pelanggan dan juga tempat bersih bersih.


"Istrinya mana? Kirain mas bos jomblo," celetuk karyawan yang lainnya tapi Sandi hanya menanggapi celetukan itu dengan senyuman.


Di saat bersamaan, Sandi melihat sosok yang dia kenal, memasuki warung makan miliknya, "Dan, ada Rianti tuh?"


Dandi yang sedang fokus meracik pesanan pelanggan sontak menoleh dan keningnya berkerut. "Bukankah itu wanita yang kemarin bersama suaminya Rianti? Kok mereka akrab banget?" tanya Dandi sembari terus memandang rianti dam seorang wanita melangkah menaiki anak tangga.


"Wahh! Seperttinya ada yang tidak beres nih, Dan," terka Randi. "Bisa jadi dia sahabat Rianti terus main belakang sama suaminya. Kan sekarang marak terjadi hal kayak gitu."


"Bener, Mas bos," celetuk salah satu karyawan yang sedang menjaga Reyhan karena kebetulan dia sedang berada tak jauh dari tempat bosnya. "Pacarku aja ditikung temanku sendiri. benar benar kurang ajar."

__ADS_1


Randi dan Sandi seketika sama sama terkekeh mendangar pengakuan karywawannya. Berbeda dengan Dandi, pria itu malah terlihat emosi. "Aku harus bertindak kalau kayak gini. Nggak bisa aku biarkan Rianti menanggung sakit hati lagi karena perbuatan suami dan temannya."


...@@@@@...


__ADS_2