TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Wanita Tanpa Status


__ADS_3

"Tapi, San, kapan kamu akan memberi tahu orang tua kamu, kalau kamu sudah memberi mereka cucu sebesar ini?" pertanyaan yang keluar dari mulut Randi, seketika membuat Sandi kembali diserang rasa dilema. Meski Sandi sudah pernah memikirkan dan mencari jalan keluar tentang Reyhan, bayangan murka dari kedua orang tuanya tentu saja menjadi alasan utama seorang Sandi belum memiliki keyakinan untuk berterus terang.


"Malah bengong," celetuk Dandi. "Orang lagi ditunggu jawabannya juga."


Sandi sontak saja mendengus kesal. "Sekarang aku yang tanya, apa yang akan kalian lakukan jika berada di posisiku saat ini? Apa kalian akan dengan senang hati memberi tahu kabar kepada orang tua kalian kalau wanita yang sudah kalian hancurkan, memiliki anak sebesar Reyhan?"


Seketika kedua teman Sandi terbungkam. Mereka sendiri tidak mampu menjawab jika berada di posisi Sandi. Pastinya mereka masih sangat ingat dengan jelas kemarahan orang tua mereka saat mengetahui apa yang mereka lakukan.


"Sekarang kalian diam bukan?" Sandi masih mengeluarkan sedikit rasa amarahnya. "Makanya, jangan suka mendesak orang lain untuk menjawabnya."


Randi dan Dandi serentak saling senyum merasa tidak enak hati. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang mulai bertambah karena para pembeli mulai bertangan. Sandi menitipkan Reyhan pada salah satu karyawannya yang duduk di meja kasir.

__ADS_1


Sementara itu pria yang tadi datang bersama Arimbi ketika hendak menjemput Reyhan, saat ini sudah berada di rumahnya. Wajahnya terlihat kesal saat dia membuka helm sekalian memasuki rumahnya. Sikap pria itu tentu saja menjadi perhatian wanita paru baya yang dandanannya terlihat sangat mencolok sebagai simbol kalau dirinya adalah salah satu keluarga terpandang dan juga kaya.


"Kamu kenapa, Mul? Kok pulang kayak marah gitu?" tanya wanita itu sembari menjatuhkan pantatnya di salah satu sofa yang letaknya di ruang tengah menghadap televisi. Pria yang bernama Mulyadi juga berada di sana sedang mendudukan tubuhnya sembari melepas lelah.


"Nggak kenapa kenapa, Bu, lagi merasa capek aja," balas Mulyadi sembari melepas jaket yang melekat di bajunya.


Mendengar jawaban dari anaknya, Ibu itu nampaknya tidak percaya begitu saja. Mata wanita yang saat ini memakai baju lebar berwarna hijau sage langsung menatap anaknya dengan kening yang berkerut. "Yakin tidak ada apa apa? Atau jangan jangan kamu habis dari rumah Arimbi dan kamu ditolak lagi?"


"Orang nggak jelas asal usulnya kok masih dikejar, Mul," tepat seperti yang Mulyadi duga. Jika mengenai Arimbi, sang ibu pasti akan memberi ceramah yang intinya kalau wanita itu sangat tidak setuju anaknya mengejar wanita beranak satu tersebut. "Udah datang ke kampung dalam keadaan hamil dan kamu mau mengemban tugas sebagai ayah dari anak yang nggak tahu bapaknya siapa? Kamu itu benar benar bodoh, Mulyadi."


"Bu, tolonglah, jangan bahas tentang hal ini, Oke?" Mulyadi sampai memohon karena dia tahu ibunya pasti akan mulai mengeluarkan hinaanya. "Setidaknya hargai perasaanku. Aku tuh suka sama dia tanpa melihat status dia, Bu."

__ADS_1


Sang ibu berdecak sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan tatapan sedikit tajam ke arah anaknya. "Kamu itu usia sudah kepala tiga tapi kok ya tingkahnya kayak ABG labil. Hanya karena cinta, kamu sampai tidak menggunakan logika. Harusnya kamu tuh mikir yang lebih jernih lagi. Udah tahu status Arimbi itu tidak jelas, masih aja dibutakan cinta. Di bilang janda, belum pernah menikah. Dibilang gadis, tapi sudah punya anak. Lalu, apa status wanita itu?"


Niat hati kembali ke rumah ingin menghilangkan rasa kesalnya, tapi malah Mulyadi semakin merasa kesal begitu mendengar ucapan wanita yang telah melahirkannya. Meski Mulyadi sering mendengar kata kata itu keluar dari mulut sang ibu, entah kenapa Mulyadi sangat tidak terima saat hinaan untuk Arimbi keluar dari mulut ibunya.


"Ibu kenapa sih? Kenapa ibu kayak benci banget sama Arimbi? Dia punya salah apa sama Ibu?"


Wanita yang dipanggil ibu sontak tersenyum sinis. "Dia memang tidak punya salah sama Ibu. Tetapi sebagai wanita, kenapa dia tidak bisa menjaga kehormatannya sendiri? Statusnya aja tidak jelas, lalu kamu berharap Ibu merestui wanita itu jadi menantu Ibu? Nggak akan!"


Tapi, Bu? Arimbi tidak seburuk yang ibu pikirkan."


"Apapun itu alasannya, Ibu tidak akan pernah setuju kamu menikah dengan wanita yang statusnya sangat tidak jelas itu, paham!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2