TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Obrolan Di Tempat Wisata


__ADS_3

Dua orang yang dulu pernah terlbat dalam sebuah hubungan, kini nampak saling terdiam. Hanya mata yang bergerak aktif memandang ke arah anak kecil yang sedang asyik bermain sendiri dengan permainan sederhana yang ada di tempat itu. Sesekali suara tawa mereka juga terdengar saat anak kecil itu sedang bertingkah yang terkesan lucu.


Dialah Sandi dan Arimbi, orang tua dari bocah itu, yang belum menjalin hubungan halal meski sudah berpredikat sebagai orang tua. Kehadiran bocah yang awalnya tidak diinginkan, sekarang malah menjadi jalan bagi keduanya untuk sering bertemu. Bahkan juga untuk menghabiskan waktu bersama meski tidak terlalu sering.


"Kamu tiap harinya di rumah aja atau gimana, Mbi?" akhirnya satu pertanyaan lolos dari mulut Sandi. Sedari tadi tidak ada obrolan diantara keduanya, hingga membuat keadaan diantara mereka berdua begitu hening. Padahal di sekitar mereka terlihat sangat ramai dengan kedatangan para pengunjung wisata yang kebanyakan keluarga kecil.


Meski enggan, Arimbi pun menjawab tentang kesehariannya selama ikut Ibu Farida. Jelas sekali kalau kehidupan wanita itu memang berubah. Dulu yang Sandi kenal, Arimbi adalah anak yang cukup manja dan angkuh. Bahkan karena keangkuhannya, wanita itu sampai menolak Sandi. Dari penolakan itulah akhirnya Sandi memilih jalan yang menjadi awal perubahan hidup Arimbi menjdi seperti sekarang ini.


"Lalu, pria yang tadi itu siapa? Sepertinya dia sangat dekat dengan kamu dan Reyhan?" Sebenarnya dari banyaknya pertanyaan yang tadi Sandi lontarkan, inilah pertanyaan utama yang sedari kemarin menganggu pikiran Sandi saat melihat Arimbi dan Reyhan dekat dengan pria lain. Sandi sangat penasaran sampai dia berpikir kalau pria itu memiliki hubungan yang spesial dengan ibu dari anaknya.


Sebelum menjawab, Arimbi menatap sedikit tajam ke arah pria yang melempar pertanyaan, lalu kembali mngedarkan pandangannya ke arah anaknya yang saat ini sedang berusaha akrab dengan anak kecil lain yang sedang bermain di sana juga. "Namanya Mulyadi. Seperti yang kamu lihat, Reyhan memang cukup dekat dengan pria itu."

__ADS_1


"Cuma dekat dengan Reyhan atau dengan Ibunya juga?" pertanyaan Sandi yang seakan sedang menyelidiki sontak saja membuat Arimbi mendengus.


"Emang apa salahnya kalau Ibunya juga dekat? Bukankah ibunya juga seorang yang tidak memiliki ikatan?" sekarang gantian Sandi yang merasa kesal begitu mendengar jaawaban dari Arimbi.


"Ya nggak ada salahnya sih, tapi apa dia juga tulus menerima dan menyayangi Reyhan?"


"Untuk itu aku kurang tahu, maklum aku tidak bisa membaca isi hati seseorang. Aku takut salah aja,bkarena aku pernah terjebak dalam permainan seseorang yang terlihat tulus, tapi nyatanya aku dijadikan barang taruhan sampai Reyhan tumbuh di rahimku."


Seketika Sandi terperangah lalu dia tersenyum cukup lebar. Bukan karena dia senang, senyum yang Sandi kembangkan lebih ke arah malu, karena orang yang diceritakan oleh Arimbi adalah dirinya sendiri dengan perbuatannya di masa lalu. Jelas sekali kalau saat ini Sandi sangat tersindir dengan ucapan Ibu dari anaknya.


Arimbi tersenyum kecut. "Percuma juga kamu menyesal, tidak akan mengembalikan keadaan seperti sedia kala. Semua sudah terjadi dan Reyhan semakin bertambah besar."

__ADS_1


"Semua memang sudah terjadi, tapi bukankah dari peenyasalan itu, keadaan kedepannya bisa diubah agar lebih baik? Reyhan juga belum terlalu besar. Aku tidak mau, Reyhan nanti tahu betapa brengsek ayahnya dulu sampai tidak mau mengakui kehadirannya. Dari sekarang, aku masih bisa, menjadi ayah yang baik walau sedikit telat."


"Yayaya, terserah kamu saja enaknya bagaimana." Arimbi memilih mengakhiri pembicaraan dengan beranjak menghampiri anaknya yang memang saat itu memanggil dirinya. Arimbi pun mengangkat tubuh anaknya dan meminta si anak untuk istirahat terlebih dahulu. "Apa Reyhan nggak capek? Main terus dari tadi."


Bocah itu menggeleng sambil menyeruput air mineral dalam botol melalaui sedotan. Sandi tersenyum lebar melihat anaknya yang begitu menggemaskan. Selesai mimun, Reyhan memungut satu buah jajan dan berpindah tempat duduk ke pangkuan ayahnya. "Ayah, buka."


Dengan sigap, Sandi mengambil alih makanan ringan dari tangan Reyhan dan membuka bagian ujungnya. "Makannya yang pelan," ucap Sandi sembari menyerahkan kembali makanan itu kepada anaknya dan si anak langsung mengangguk cepat.


"Gimana, Mbi? Kamu sudah memikirkan tentang ucapan Bu Farida?"


"Ucapan Ibu? Ucapan Ibu yang mana?"

__ADS_1


"Yang di rumah makanku kemarin, yang meminta kita untuk nikah."


...@@@@@...


__ADS_2