
Rianti benar benar gugup dalam situasi seperti ini. Melihat Dandi yang sudah memperlihatkan tubuh kekarnya, membuat wanita yang sudah menjadi istri Dandi makin salah tingkah, sampai wanita itu memilih memandang ke arah lain. Dandi lantas merebahkan tubuhnya dengan posisi telentang diiringi senyum nakal yang terus terkembang dan matanya lekat menatap wanita yang sedang sibuk mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Udah siap dipijat nih, Yang. Pijatnya yang lembut dan mesra ya?" meski Dandi tahu istrinya sedang dilanda gelisah, pria itu nampak tidak peduli. Dandi bahkan menikmati sikap istrinya itu. Sikap yang Rianti tunjukkan saat ini mengingatkan Dandi pada waktu dia pertama kali mengajak Rianti untuk berhubungan badan kala itu. Mereka sama sama gugup dan salah tingkah dengan hati yang berdebar tak karuan.
Tentu saja Rianti tidak ada pilihan lainnya, selain menuruti permintaan sang suami. Dengan gerakan pelan dan sedikit gemetar, kedua telapak tangan Rianti mulai mendarat pada dada sang suami. Ada yang berdesir dalam tubuh Rianti saat itu juga. Jelas sekali wanita itu masih sangat teringat dengan pasti, ketika dulu wanita itu sangat memuja dada Dandi yang sangat menonjol pada sisi kanan dan kirinya.
"Sayang, menurut kamu, apa dadaku ada yang berubah?" tanya Dandi beberapa saat kemudian saat Rianti sudah melakukan pemijatan. Pria itu juga sangat tahu kalau wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya, dulu sangat menyukai dadanya. Masih terekam dengan jelas, ketika mereka sedang berdua, Rianti selalu meminta Dandi untuk membuka baju yang dia pakai hanya untuk sekedar memijat mijat dada milik Dandi.
Rianti tidak memberi tanggapan. Wanita itu terlalu gengsi untuk menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Dandi. Walaupun Rianti sangat mengakui dan merasakan kalau dada Dandi sekarang lebih bagus, tapi Rianti cukup mengakui dalam hati saja.
"Tangannya diam bisa nggak?" akhirnya setelah beberapa menit berlalu, suara Rianti keluar dengan memberi peringatan. Hal itu disebabkan tangan Dandi yang sengaja diletakan pada paha Rianti dan secara sengaja pula dia mengusap paha yang kain penutupnya tersingkap ke atas.
__ADS_1
"Ngapaian diam, kan udah halal?" Dandi tentu saja tidak mau kalah karena dia sudah bertekad sangat kuat kalau malam ini harus berahasil menjalankan malam pertama.
"Tapi kan aku jadi nggak fokus mijatnya," Rianti mencoba berdalih. Padahal sedari tadi dia memang sudah tidak fokus dengan pijatannya, karena dia tergiur dengan dada sang suami. Secara sadar dan tidak sadar, Rianti menikmati saat memijat dada itu.
"Iya iya," Dandi mencoba mengalah, dan dia dengan terpaksa mengangkat tangannya. Hal itu membuat Rianti sedikit lebih lega. Namun rasa lega itu kembali terusik saat Dandi melakukan hal yang tidak terduga. "Sekarang pijat pinggang dan pahaku, Sayang, pada pegal nih," dengan cueknya Dandi menurunkan sedikit kolor panjang yang dia pakai.
"Yang benar aja!" seru Rianti sambil menutup kedua matanya.
"Ya benar lah, Sayang. Nanti gantian deh," tawar Dandi sambil cengengesan.
"Ya udah cepat pijat, ini permintaan suami loh," Dandi mulai menggunakan senjata yang cukup kuat untuk membuat Rianti tak berkutik. Sesuai dugaan, Rianti pun menurutinya. Dengan rasa resah yang semakin menggelisahkan, tangan Rianti menyentuh pinggang suaminya. Sangat jelas dimata Rianti, ada yang menonjol dari palik kolor yang Dandi pakai. Bahkan benda tersebut sepertinya sudah membesar.
__ADS_1
"Kenapa cuma pakai kolor doang sih? Kayak nggak ada celana lain aja buat dipakai di dalamnya," protes Rianti begitu mulai melakukan pemijatan.
"Ya ampun, Sayang. Masa kamu lupa? Dari dulu kan aku kalau tidur hanya suka pakai celama kolor saja. Bahkan tidak memakai apa apa juga sering," jawab Dandi dengan santainya. Rianti memang tahu akan hal itu karena Dandi dulu pernah cerita, bahkan sempat membuktikannya.
"Tapi kan kali ini beda," Rianti tetap tak mau kalah. Tapi mungkin untuk urusan beginian, Rianti akan kalah dalam perdebatan.
"Beda apanya sih, Yang? Justru sekarang, aku malah senang. Udah ada istri, jadi makin semangat kalau tidur nggak pakai apa apa lagi," Sudah bisa dipastikan, Dandi memang tidak mau kalah. "Itu kolornya turunin, jangan pinggangnya aja yang dipijat. Pahanya juga."
"Yang benar sih," Rianti terlihat terkesiap.
"Ya benar, Sayang," tanpa menunggu Rianti yang bertindak, pria itu segera saja menurunkan kolornya hingga sampai ke lutut, dan hal itu sukses membuat Sang istri diam tak berkutik dengan mata membelalak. "Udah Sayang, cepet pijatin."
__ADS_1
Rianti seperti kesusahan menelan ludahnya sendiri. Di depan matanya, kini terpampang benda yang sudah sangat menegang dengan bulu bulu yang terlalu rimbun menghiasinya. Dandi sukses membuat Rianti semakin gelisah dan Dandi sangat yakin, tidak lama lagi, malam pertama yang dia inginkan akan terjadi.
...@@@@@@...