TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Hasil Dari Usaha


__ADS_3

Arimbi benar benar terbungkam. Kali ini dia seperti tidak ada upaya untuk mencari alasan agar bisa menolak permintaan laki laki yang sudah sah menjadi suaminya sejak jam sebelas siang tadi. Apa lagi gerakan nakal Sandi yang menggesek gesekan benda yang terbungkus kolor, membuat Arimi dilanda resah dan gelisah.


Malam itu, Sandi memang memakai kaos dan celana kolor yang begitu longgar. Namun diluar dugaan, Sandi hanya memakai kolor saja tanpa ada kain segitiga bermuda atau celana kencang lainnya yang dipakai Sandi. maka itu, saat isi kolor Sandi menempel pada tubuh Arimbi yang tertutup baju tidur, membuat wanita itu dapat merasakan isi kolor Sandi yang sudah menegang.


Melihat Arimbi terdiam tidak bereaksi, Sandi menganggap kalau wanita yang telah menjadi istrinya berarti menyetujui ajakannya. Sandi melonggarkan tangan kanannya yang memeluk pinggang Arimbi. Lalu dengan perlahan, tangan Sandi menarik baru tidur Arimbi yang panjangnya sampai lutut, hingga baju tidur itu naik ke atas.


"Apa yang kamu lakukan, Mas?" tanya Arimbi sambil berusaha mencegah tangan suaminya yang mulai nakal.


"Meminta hak sebagai suami," jawaban Sandi, tentu saja membuat Arimbi diam tidak berkutik dengan wajah terperangah. Ingin menolak, tapi kalau sudah berbicara hak sebagai suami, Arimbi tahu betul tentang hukum itu. Siap atau tidak siap, Arimbi memang harus melakukan kewajiban yang satu itu.


Kini tangan Sandi sudah berhasil mengangkat baju tidur istrinya hingga sampai pinggang. Tubuh Arimbi menegang saat jari jari kasar dan kekar milik Sandi, masuk ke dalam baju dan menyentuh perutnya. "Kamu benar benar menjaga tubuhmu dengan baik ya, Mbi. Sudah punya anak satu aja, tubuh kamu masih ramping gini."

__ADS_1


Arimbi benar benar terdiam. Bisikan Sandi malah tiba tiba terdengar sangat seksi ditelinga Arimbi. Ditambah lagi sentuhan jari jari Sandi yang terus mengusap perutnya, membuat wanita itu seperti jatuh ke dalam perangkap yang Sandi buat.


"Aku boleh mengusap yang lain nggak?" Sandi kembali melempar pertanyaan. Arimbi hanya mendengus. Entah kenapa, wanita itu menjadi kesal dengan pertanyaan yang Sandi lontarkan. Padahal pria itu sudah menyentuh perutnya tanpa ijin, sekarang dia malah minta ijin untuk menyentuh yang lain. Lagian Arimbi tahu, kalau tidak dikasih ijin, Sandi akan tetap menyentuhnya.


Lagi lagi diamnya Arimbi diartikan sebagai tanda setuju oleh Sandi. Senyum pria itu pun semakin melebar saja. Kini sasaran tangan Sandi berikutnya adalah benda kembar yang terletak di atas perut Arimbi. Lagi lagi tubuh wanita itu menegang begitu tangan kekar Sandi mulai menyentuh salah satu bukit kembarnya.


"Yah, ternyata ada penghalangnya," Sandi sedikit kecewa saat menyentuh ada kain yang menjerat bukit kembar milik Arimbi. Namun bukan Sandi namanya, akan membiarkan bukit itu tertutup. Dengan satu tangan, Sandi mengeluarkan satu persatu bukit kembar dari penutupnya. Arimbi hanya terdiam dan bagi Sandi itu adalah sebuah kepasrahan seorang istri.


"Ya nyodot lah, sampai delapan belas bulan doang," sungut Arimbi terdengar kesal.


Sandi sontak saja cengengesan. "Sekarang giliran Ayahnya yang nyedot, boleh?" Ariimbi tidak menjawab. Sudah bisa ditebak, Sandi pasti sebentar lagi merengek minta melakukannya.

__ADS_1


Benar juga, Sandi kini malah mengarahkan tubuh Arimbi agar telentang. Arimbi yang sudah pasti hasratnya bangkit, tentu saja tidak menolak saat tangan Sandi menggerakan tubuhnya sampai dia telentang. Bahkan tangan Sandi kini semakin menaikan pakaian tidur Arimbi hingga ke leher, dan dua bukit kembar yang bentuknya cukup besar, terpampang di hadapannya,


"Bentuknya masih sangat indah ya, sayang?" Arimbi tetap tidak merespon. Selain karena malu, bagi Arimbi, percuma menjawab pertanyaan seperti itu yang pada akhirnya tetap Sandi akan berbuat lebih nakal.


Sudah bisa diduga, mulut Sandi mulai menyesap satu persatu bukit kembar istrinya. Awalnya pelan dan lembut, tapi makin kesini, sedotan Sandi membuat wanita pemilik bukit kembar semakin meninggi rasa nikmatnya. Bukan hanya itu saja, tangan Sandi juga mulai bergerlirya ke area bawah perut dan bermain di sana. Tanpa bertanya lagi, Sandi langsung memasukkan jarinya ke dalam segitiga bermuda milik Arimbi yang sudah mulai basah.


Hingga beberapa menit berlalu, semua pakaian yang melekat pada tubuh mereka, telah terlepas dari tubuh suami istri tersebut. Kini Sandi telah bersiap diri dengan batangnya yang sudah menegang, untuk memasuki lubang nikmat berumput tebal milik isttrinya yang sangat dia rindukan.


"Aku masukin lubang kamu sekarang, sayang," ucap Sandi dengan segala hasrat yang sudah melambung tinggi. Tak butuh waktu lama, suara kenikmatan pun menggema, kekuar dari mulut sepasang pengantin baru tersebut.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2