
"Eh, Paman Iksan udah datang!" seru Eliza yang saat itu sedang berbincang dengan dua sahabatnya, Iren dan Ayunda di depan teras rumah. Wanita itu langsung bangkit dan menyambut kedatangan pria yang selama tiga tahun ini menjadi orang tua pengganti selama Eliza kabur dari rumah.
Mendengar nama Iksan disebut Eliza dengan suara yang cukup lantang, membuat keluarga Eliza yangs sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan pernikahan, langsung mengentikan kegiatan mereka masing masing. Mereka cukup terkejut dengan kedatangan keluarga yang telah lama tidak menyambangi rumah Eliza. Dengan perasaam senang bercampur haru, mereka menyambut kedatangan Iksan dan keluarganya.
Meski begitu, ada salah satu anggota keluarga yang tetap berada di tempat duduknya. Dia adalah Ayahnya Eliza, kakak dari pria yang dipanggil Paman Iksan tadi. Pria itu terdiam bukan karena tidak suka dengan kedatangan adiknya, dia hanya tidak tahu bagaimana cara mengekspersikan perasaannya saat ini. Apa lagi dia dan paman Iksan sudah lama tidak saling komunikasi, sejak mereka bertengkar beberapa tahun lamanya.
"Aku pikir, Paman dan Bibi nggak bakalan datang," ucap Eliza. Dia yang terlhat paling ceria dengan kedatangan sang Paman dan keluarganya. Kini mereka semua sudah duduk di ruang tamu. "Akhirnya kalian datang juga, aku jadi merasa sangat lega.."
"Ini semua kan demi kamu, Za. Kalau bukan karena kamu, ya, Paman nggak bakalan mau datang kesini. Apa lagi kamu pakai ngancam ngancam Paman segala," sungut Paman Iksan dengan wajah terlihat galak.
Eliza dan yang lainnya pun mengembangkan senyumnya. "Karena aku tahu, Paman sayang sama aku, jadi Paman nggak akan nolak dengan permintaaan keponakan yang paling Paman sayangi ini."
"Ya iyalah, Paman sayang sama keponakan Paman. Emangnya Paman sama dengan orang lain, yang membenci bapaknya, terus membenci anak anaknya juga," Paman Iksan masih bersikap ketus. Bahkan ucapannya dengan jelas menyindir satu orang yang ada di ruangan itu.
"Jangan berpikiran buruk, siapa juga yang membenci anak anak kamu," bantah ayahnya Eliza. Dia tahu kalau Iksan menyindirnya. "Kalau ngomong, masih aja seenaknya."
__ADS_1
"Eh, kayak ada suara?" Paman Iksan malah berpura pura kaget. "Siapa yang kentut barusan? Baunya kok kayak bau orang terisinggung dan tidak mau mengakui kebenarannya?"
"Pak ..." istri Paman Iksan mencoba mengingatkan kepada sang suami dengan tatapan matanya. Ibunya Eliza juga, memberi peringatan kepada ayahnya Eliza
"Za, ajak paman sama bibi kamu ke kamarnya gih," ucap Ibunya Eliza.
Eliza lantas mengangguk. "Paman, Bibi, kita ke kamar yuk. Kali aja Paman sama Bibi lelah dan ingin istirahat."
"Yah, memang ini yang Paman tunggu," ucap Paman Iksan sembari bangkit dari duduknya. Eliza kembali tersenyum dan dia juga bangkit dari duduknya lalu beranjak menuju salah satu kamar bersama Paman dan Bibinya. Untuk anak anaknya Iksan, mereka di tempatkan di rumah kakak kakaknya Eliza yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Eliza.
"Santai aja, Ren, nggak perlu tegang," ucap Dandi dengan entengnya. Dia bersama Sandi sedari tadi memang berada dalam satu ruangan dimana sahabat yang akan melangsungkan pernikahan berada.
"Gaya kamu, Dan, kayak nggak pernah ngalamin aja," sahut Sandi, sontak saja membuat Dandi cengengesan.
"Hahaha ... justru karena aku pernah mengalaminya, makanya aku memberi nasehat pada sahabat kita ini," kilah Dandi. "Bayangin aja, kalau setelah ini, nanti malamnya kamu bakalan dapat yang enak enak dari Eliza. Jadi nggak perlu panik gitu."
__ADS_1
"Aku malah nggak kepikiran soal itu," cetus Randi. "Lagian nggak mungkin juga aku malam ini bisa melakukannya. Tamu Papah sama mamah aja pasti banyak banget."
"Oh iya," sahut Dandi. "Tamu kamu juga banyak banget," sungutnya sampai membuat Randi cengengesan. "Kita tebakan yuk?" ucap Dandi lagi.
"Tebakan apa?" tanya Sandi sengan wajah terkejutnya. "Ada ada aja kamu, Dan."
"Kita tebakan, lubangnya Eliza masih segel atau udah jebol, hehehe ..."
"Ih, kamu ini," sungut Randi. "Orang ada teman lagi panik malah mikir yang nggak nggak, pakai ngajak main tebak tebakan lagi."
"Hahaha ... biar kamu semakin nggak tenang dan bertanya tanya."
Randi langsung mencebikan bibirnya, sedangkan Sandi hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, karena heran melihat tingkah sahabatnya itu. namun ucapan Dandi juga cukup sukses membuat kedua pria itu penasaran, terutama Randi. Sekarang pikiran calon pengantin itu semakin tambah berkelana ke hal yang membuatnya dilema gara gara ucapan Dandi tentang Eliza.
...@@@@@...
__ADS_1