
Ayahnya Rianti benar benar dibuat tercengang dengan semua kata yang keluar dari mulut sang istri. Pria itu tidak menyangka jika selama ini, sang istri bisa berbicara sebanyak itu saat sedang marah. Ayahnya Rianti bahkan seperti tidak diberi kesempatan untuk membantah ucapan wanita yang telah memberinya empat orang anak.
Sejak dulu, setiap sang istri protes, memang ayahnya Rianti selalu bisa membantahnya. Apalagi jika sedang membahas tentang satu satunya anak perempuan mereka, sang istri selalu kalah debat dan lebih banyak diam. Padahal kalau diperhatikan, sang istri lebih banyak diam karena tidak mau ada pertengkaran, tapi setiap membahas Rianti, sang ayah seakan akan selalu berusaha untuk menang.
"Mah, Papah itu bertindak tegas ke Rianti karena Papah ingin yang terbaik untuk anak itu," seperti biasa, Papah akan mencari alasan untuk membenarkan sikapnya. "Mamah tahu kan kalau ..."
"Ya! mamah tahu! Sangat tahu! Selalu kata itu yang digunakan Papah untuk membenarkan sikap Papah. Untuk kebaikan Rianti. Papah pernah nggak beralasan seperti itu untuk anak papah yang lain jika berbuat salah? Pernah nggak?" Ibu semakin menunjukan taring amarahnya. "Anak pertama papah sampai menjual mobil diam diam karena terlilit hutang judi, apa ada nasehat untuk dia, dengan segala kemarahan Papah demi kebaikan anak itu? Tidak! Apa mamah harus mengungkit semua kesalahan anak laki laki kita!"
Papah semakin tercengang sampai dia lupa dengan apa yang akan dia katakan. Puluhan tahun hidup bersama sebagais suami istri, baru kali ini pria itu melihat kemarahan istrinya yang diluar dugaan.
"Sudah lah, percuma Mamah ngomong panjang lebar, tapi hati Papah tetap membatu. Mungkin seandainya Rianti benaran dinodai rame rame, Papah lah orang yang paling bahagia di dunia dan akan semakin menyalahkan Rianti karena telah memilih kabur dari rumah. Papah memang dari dulu manusia paling benar di dunia." sindiran telak sang istri membuat Papah terbungkam.
Munngkin karena unek uneknya sudah keluar semua, ada perassaan lega dalam hati Ibunya Rianti. Wanita itu lantas bangkit dan hendak beranjak dari ruang tamu. Namun sebelum wanita itu pergi, sebuah kata kembali keluar dari mulutnya. "Kalaupun jika perceraian adalah yang terbaik, Mamah siap bercerai dari papah diusia setua ini dan akan memilih hidup dengan Rianti di tempatnya yang baru."
__ADS_1
Deg!
Mata Ayahnya Rianti langsung membulat sempurna sembari terus menatap kepergian sang istri tanpa mampu membalas ucapan wanita itu.
Di tempat yang berbeda, suasana hening juga tercipta di sebuah ruang tamu. Sepasang suami istri terdiam setelahh tamu yang tidak terduga kedatangannya, pergi dari rumah itu. Mereka tidak menyangka anak yang selama ini pergi dari rumah, begitu banyak mengalami hal buruk.
"Ternyata selama ini, Iksan yang menolong Eliza, saudara yang tidak pernah dianggap ada, ternyata masih mau menerima anak kita," ucap sang istri tiba tiba, dan ucapannya sukses membuat sang suami terkejut.
"Apa maksud Mamah?" Ayahnya Eliza cukup tertegun mendengar ucapan istrinya sampai dia menatap ke arah sang istri dengan tatapan yang cukup tajam.
"Papah tidak pernah nganggap Iksan tidak ada loh, Mah," Papah membela diri.
"Halah! Nggak usah menyangkal," pernyataaan papah langsung dibantah oleh istrinya. "Apa perlu Mamah ingatkan? Baiklah jika itu yang papah mau. Coba Papah ingat, saat Eliza menghilang, Saudara mana saja yang Papah hubungi? Coba ingat ingat ingat?"
__ADS_1
Meskipun tidak terlihat kemarahanya, Mamahnya Eliza terlihat begitu kesal. Bahkan dari nada bicaranya terdengar kalau wanita itu sangat geram. Papah yang di lempar pertanyaanpun memilih bungkam karena dia sudah tahu jawabannya.
"Bahkan saat Mamah memberi saran untuk bertanya kepada Iksan, Papah tidak mau melakukannya dengan dalih tidak memiliki nomer telfon yang bisa dihubungi," sindir mamah lagi.
"Tapi kan nyatanya Papah memang tidak memiliki nomer telfon Iksan," Papah berusaha membela dirinya.
"Papah tidak memilikinya karena memang sengaja dihapus nomernya!" hardik Mamah. "Kalaupun Papah nggak punya nomer telfon, apa Papah nggak punya mobil? Sampai selalu beralasan jika disuruh menemui Iksan? Seandainya Mamah masih ingat alamatnya, Mamah akan pergi sendiri ke rumahnya."
"Ya kan, Papah sudah tua, Mah, papah nggak mungkin melakukan perjalanan jauh dengan membawa mobil sendiri," Papah masih berusaha mencari alasan.
"Kan ada Adi, supir sewaan juga banyak. Mau alasan apa lagi? menemui temen papah yang rumahnya lebih jauh dari kabupatennya Iksan aja papah masih mampu menyetir, ini pakai alasan segala," lagi lagi sindiran telak keluar dari mulut wanita itu. "Kalau Papah begini terus, lebih baik Mamah ikut Eliza tinggal di kampung!"
Deg!
__ADS_1
...@@@@@...