
Dandi pulang dengan senyum yang terus merekah di wajahnya. Kedua tangannya menenteng dua kantung plastik yang cukup besar, berisi jus buah yang berhasil dia dapatkan setelah melalui proses yang cukup rumit. Akhirnya Dandi bisa bernafas lega sekarang, karena dia sudah sangat yakin, Rianti akan terus memasok jus buahnya ke rumah makan milik Dandi tanpa adanya perdebatan lagi.
Pria yang sedari tadi duduk di toko Rianti juga merasa heran dengan yang terjaadi diantara Dandi dan pemilik toko buah tersebut. Pria itu merasa dua orang yang katanya sudah kenal sejak kuliah tersebut merasa kalau keduanya seperti pernah terjadi sesuatu. Hal itu dia simpulkan karena dirinya melihat sikap yang berbeda dari Rianti. Wanita itu nampak terpaksa selama membuat jus dalam kemasan untuk Dandi.
"Sepertinya pria yang tadi sangat senang mendapatkan jus bikinan kamu, Ri," tanya si pria, tak lama setelah Dandi pergi dari toko itu. Sepertinya pria itu ingin menyelidiki sesuatu karena penasaran dengan sikap Rianti yang terasa aneh dimatanya.
"Senang bagaimana? Biasa saja kok," jawab Rianti sambil membersihkan beberapa kotoran bekas buah sisa pembuatan jus. Ada kulit mangga, kulit jeruk, buah naga dan beberapa buah lainnya.
"Benarkah? Apa hanya perasaanku saja?" tanya pria itu dengan kening yang sedikit berkerut. "Kok aku merasa dia suka sama kamu ya?"
__ADS_1
Rianti tertegun mendengarnya. Bahkan gerakan tangannya sempat terhenti sejenak dan dia spontan menatap pria yang masih setia duduk di depan tokonya. Rianti juga sebenarnya sudah jengah dengan keberadaaan pria itu. Dia selalu suka berlama lama berada di tokonya, membuat wanita itu harus bersikap sedikit beda dan juga dingin kepadanya. "Suka atau tidak ya hak orang itu kan?" balas Rianti sembari melanjutkan pekerjaannya.
"Ya emang hak dia sih, tapi masa aku kalah sama orang yang baru saja datang ke kota ini?" mendengar ucapan pria itu, Rianti semakin merasa tidak nyaman. Hal seperti inilah yang menjadi salah satu alasan Rianti tidak suka dengan adanya pria itu di sini. Setiap berbicara, selalu ujung ujungnya menjurus ke masalah hati. Rianti lebih memilih diam. Dia terlalu malas menanggapi pria itu yang sudah mulai berbicara tentang perasaan.
"Ri, kok kamu diam?" setelah beberapa detik berlalu, pria itu baru sadar kalau Rianti tidak membalas ucapannya.
"Kenapa?" balas Rianti yang kini tengah mengatur sisa jus buah ke dalam lemari pendingin.
Kening Rianti berkerut sejenak. Ada rasa heran dalam benaknya dengan sikap pria itu. Padahal dia tahu, Rianti bersikap demikian karena tidak ingin dianggap memberi harapan. Rianti juga tidak mau menjalin hubungan dengan laki laki manapun setelah apa yang menimpa dirinya karena ulah Dandi. Tapi pria itu seakan tidak mau mengerti dan terus mengejar Rianti.
__ADS_1
Memang benar, sampai saat ini, tidak ada yang tahu apa yang menimpa pada Rianti tempo dulu, termasuk pria itu. Rianti juga tidak ada minat ingin berbagi cerita dengan orang lain selain Tiwi yang memang dikenalnya sejak lama. Di kota ini, Rianti benar benar ingin menyembuhkan lukanya. Tapi kehadiran beberapa pria yang menunjukkan rasa sukanya, membuat wanita selalu bersikap waspada dengan senyum manis para laki laki kepadanya.
"Ya ampun, Mas, apa kamu nggak bosen tanya itu mulu? Kamu tahu kan alasanku tidak mau terlalu serius menanggapi perasasaan kamu? Kenapa kamu selalu memaksa aku untuk ngertiin kamu?" pria itu nampak begitu terkejut mendengar ucapan Rianti. Meski dia sudah pernah mendapat pertanyaan yang memiliki arti yang sama dengan kata kata itu, tapi entah kenapa pria tersebut selalu merasa terkejut begitu kata itu terucap dari mulut wanita idamannya.
"Apa kamu nggak mau memikirkan perasaanku, Ri? Setidaknya cobalah kamu membuka hatimu untukku sedkit saja," pria itu nampak memohon dan hal itu sangat memuakkan bagi Rianti.
Rianti yang sejak tadi sedikit jongkok di depan lemari pendingin, lantas berdiri dan menatap lekat pria yang sedang menatapnya juga. "Maaf, Mas, aku tidak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuatmu semakin berharap. Jadi tolong kamu mengerti perasaanku juga. Perasaan itu tidak bisa dipaksakan, Mas."
Hati pria itu bergetar hebat. Ada rasa sakit yang dia rasakan meski tidak ada darah yang keluar dari rasa sakit itu. Tangannya terkepal dan sepertinya pria itu memang harus menyerah karena untuk kesekian kalinya dia menerima penolakan.
__ADS_1
...@@@@@...