TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Pertemuan Dengan Seseorang


__ADS_3

"Permisi, Mbak, Apa owner rumah makan ini sudah datang?" tanya seseorang pada seorang wanita yang bekerja di sebuah rumah makan. Wanita berseragam biru dengan dada kiri ada tulisan dari nama tempat dia bekerja sontak mengernyitkan keningnya. Sementara orang yang tadi bertanya malah tersenyum. "Ini saya yang kemarin malam datang, ingin mengajak kerja sama, Mbak."


Mata karyawan itu seketika melebar. Sepertinya dia tahu siapa orang itu. "Oh, ada, mbak. kebetulan tadi bos saya sudah nitip pesan," ucap karyawan tadi yang sontak membuat orang yang bertanya kepadanya langsung tersenyum senang. "Mbak silahkan duduk dulu, nanti saya panggilan bos saya."


"Baik, Mbak, terima kasih," ucap orang itu yang ternyata adalah seorang wanita. Dia memilih duduk di salah kursi yang ada di sana, diantara para pelanggan yang sedang menikmati makanan pedas khas rumah makan ini.


Sementara itu karyawan yang tadi baru saja mengantarkan pesanan untuk pembeli, sekarang sudah melesat pergi untuk menemui bosnya yang kebetulan ada di dapur. "Mas Sandi, itu tamunya, udah datang," lapor sang karyawan.


Sandi yang saat itu sedang duduk santai sambil ngobrol dengan tukang masak di rumah makan miliknya, seketika langsung mengangguk. "Di meja nomer berapa, dia duduk?"


"Meja nomer dua puluh, Mas," jawab si karyawan. Sandi kembali mengangguk dan dia bersiap diri untuk menemui orang tersebut. Selain penasaran, Sandi juga bersikap waspada karena dia seperti merasakan firasat yang tidak baik dalam pertemuan kali ini. Setelah siap, Sandi segera melangkah menuju tempat dimana tamunya sedang menunggu.


Sementara itu di waktu yang sama, di rumah makan yang lain, dua sahabat Sandi juga sedang melakukan hal yang sama. Padahal jarak ketiga rumah makan yang mereka miliki cukup berjauhan, tapi entah kenapa, orang yang katanya ingin bekerja sama dan membuka cabang rumah makan milik tiga pria itu, mengajak bertemu di waktu yang bersamaan jamnya..


Saat Dandi melangkah untuk menemui tamunya, tamu yang seorang wanita dan sedang menunggunya, terlihat tersenyum sumringah begitu melihat wajah Dandi yang sedang melangkah menuju ke tempatnya berada. Wanita itu langsung berdiri, untuk menyambut kedatangan pemilik rumah makan tersebut.

__ADS_1


"Permisi, apa anda orang yang semalam menghubungi keryawan saya, yang mengajukan diri untuk bekerja sama?" tanya Dandi begitu langkah kakinya tepat berhenti di tempat tamunya berada. Meskipun Dandi tahu kalau itu adalah tamunya, Dandi tetap melempar pertanyaan seperti itu hanya untuk sekedar basa basi agar tidak terasa canggung.


"Iya, benar, Mas," jawab wanita itu dengan sangat antusias. "Anda pasti pemilik rumah makan ini ya, Mas?" tanyanya basa basi.


"Ya, salah pemilik rumah makan ini, silakan duduk, Mbak," ucap Dandi, dan wanita itu langsung duduk kembali. Sandi juga duduk di sana, di kursi yang ada di seberang meja, menghadap tamunya. "Mbak mau minum apa?"


"Apa aja deh, Mas, tapi yang dingin. Udaranya panas banget," balas wanita itu dengan gaya wanita genit pada umumnya. Dandi pun mengiyakan, dan dia memanggil salah satu karyawan untuk membuatkan minuman.


"Jadi, Mbak, yang ingin kerja sama dan membuka usaha yang sama seperti milik saya ini?" tanya Dandi mulai membuka percakapan sambil menunggu minuman yang sedang dibuatkan.


Sementara itu di saat yang sama, tapi di restoran yang ketiga milik tiga pria, terlihat di sana, Randi juga sedang ngobrol dengan tamu wanitanya.


"Memang Mbak sudah pernah makan disini? Mbak berasal dari mana sih?" tanya Randi.


"Ya tentu sudah dong, Mas," wanita itu menjawab dengan wajah yang selalu berbinar. "Kalau nggak pernah menikmati makanan disini, mana mungkin saya mau mengajukan kerja sama dan ijin buka cabang sama kamu, Mas. Kebetulan saya dari pulau seberang yang ingin mengembangkan usaha di bidang kuliner."

__ADS_1


"Oh, gitu?" balas Randi yang langsung mendapat anggukan antusias dari tamunya. "Berarti Mbak udah memiliki banyak usaha?"


Wanita itu kembali mengangguk dengan cepat. "Ya ada beberapa. Usaha kecil kecilan sih, Mas. Tapi ya saya bersyukur bisa menjalaninya."


"Boleh tahu usahanya apa saja?" tanya Randi sedikit menyelidiki.


"Ya ada butik, toko kue, macam macam lah, Mas. cuma yang makanan pedas kayak rumah makan ini, belum pernah gitu."


Randi pun mengangguk beberapa kali sambil bergumam seperti suara lebah. "Tapi sebelumnya saya minta maaf ya, Mbak. Berhubung usaha ini bukan hanya usaha milik satu orang, bagaimana kalau Mbak juga ketemu dengan rekan saya yang juga pemilik dari rumah makan ini."


Deg!


Kening wanita itu sontak berkerut.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2