TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Sifat Manusia Tidak Terduga


__ADS_3

Tidak selamanya pria yang terlihat baik, tidak memiliki keburukan, dan pria yang pernah berbuat keburukan, tidak bisa berubah menjadi pria yang baik. Banyak juga pria yang terlihat sebagai pria baik baik saja, ternyata memiliki sisi buruk yang sangat menmcengangkan. Dan tidak sedikit pula pria yang dulunya pernah berbuat buruk berusaha untuk merubah hidupnya agar menjadi lebih baik.


Seperti Mulyadi dan Sandi, dua pria yang berbeda kelakukannya. Jika Sandi sudah jelas, dia pernah menjadi laki laki yang berkelakuan buruk, dan saat ini dia sedang berusaha untuk menjadi pria yang lebih baik. Berbeda dengan Mulyadi yang sungguh sangat mengejutkan bagi siapapun yang baru tahu kelakuan aslinya.


Setelah menunggu kurang lebih dua jam lamanya, Sandi benar benar dibuat tercengang begitu mendapat informasi dan hasil kerja dari wanita yang dia bayar untuk menolongnya. Selain suka mabuk, Mulyadi juga suka memakai jasa wanita untuk menenami tidurnya. Sungguh sesuatu yang tidak terduga dari pria yang katanya alim dari keluarga terpandang di kampung itu.


Selain terkejut, Sandi juga cukup senang. Setidaknya dia mendapat sesuatu yang bisa dia gunakan untuk menyudutkan Mulyadi jika berani macam macam dan menganggu anak dan calon istrinya. Sandi pulang dengan wajah penuh rasa puas.


Dan haripun kini berganti lagi. Seperti biasa, setiap pagi menjelang siang, tiga pria akan disibukan dengan urusan yang berhubungan dengan usaha mereka. Dengan diringi obrolan yang seru, mereka melaksanakan tugasnya dengan baik hingga menjelang waktunya rumah makan mereka buka. Karena dalam beberapa hari lagi, mereka akan kembali ke kota, tiga pria itu juga telah menyiapkan pengumuman tentang hari libur untuk para pelanggan.


"Eliza!" pekik Randi di saat rumah makan baru buka beberapa menit yang lalu dan matanya menangkap seoraang wanita yang sangat dia kenal, turun dari ojeg dan masuk ke dalam warungnya. Randi yang saat itu sedang ngobrol bersama dua sahabatnya dan dua karyawannya, sontak berdiri dari duduknya dan beranjak menyambut kedatangan Eliza. "Tumben kamu pagi pagi mau mampir kesini? Ada apa?"


"Aku semalam lupa ngasih tahu, aku mau minta kamu menemani aku ke kantor pollisi," ucap Eliza, dan hal itu sukses membuat kening Randi berkerut. Namun setelah Randi ingat pembicaraannya dengan Paman dan Bibinya Eliza kemarin, dia tahu alasan Eliza pergi ke kantor polisi untuk apa.

__ADS_1


"Kamu serius minta aku untuk menemani kamu?" tanya Randi untuk memastikan ajakan Eliza.


"Ya, itu kalau kamu bisa. Kalau kamu nggak bisa ya udah nggak apa apa, aku mau cari alamat orang yang kemarin bantuin kita aja," jawab Eliza agak kesal.


"Ya tentu bisa dong," Randi langsung menyanggupinya dengan sangat yakin. "Aku cuma kaget aja gitu, tiba tiba kamu minta di temani."


"Ya kan kamu saksi utamanya. Kali aja nanti diperlukan saat aku mau mencabut laporannya. Kalau kamu nggak bisa ya nggak apa apa, nanti aku sama Taryo mencoba nyari tiga orang yang kemarin membantu kita."


"Ya sekarang aja, atau kamu lagi sibuk?"


"Nggak!" jawab Randi cepat. "Kami baru buka. Memang belum terlalu banyak pembeli kalau rumah makan baru buka, jadi kita masih bisa santai. Lagian kan ada Sandi dan Dandi juga, jadi aman. Ya udah aku siap siap sebentar, kamu tunggu di samping warung makan ya?" Eliza mengangguk dan dia segera beranjak ke samping rumah makan begitu Randi beranjak meninggalkan dia untuk bersiap siap.


"Kamu nggak bonceng aku?" tanya Randi yang cukup terkejut saat keluar dari rumah makan menuju motornya, dia melihat Eliza yang berdiri tak jauh dari ojeg yang dipakai wanita itu saat pulang dari pasar.

__ADS_1


"Nggak, aku naik ojeg aja, biar nanti setelah urusan dengan polisi selesai, aku bisa langsung pulang," jawab eliza dengan entengnya, tapi cukup membuat Randi kesal.


"Nggak, nggak nggak! Nggak bisa!" tolak Randi dengan tegas. "Orang pergi ke tempat yang sama kok, naik motornya sendiri sendiri."


"Loh, kan biar lebih mudah?" ucap Eiza dengan wajah herannya melihat sikap protes pria itu.


Randi tidak langsung membalas perkataan Eliza. Dengan wajah kesal dia merogoh dompetnya dan mengambil uang dua puluh ribu rupiah lalu menyodorkannya kepada tukang ojeg. "Pak, Bapak pergi aja. Biar wanita ini aku yang ngantar." Tukang ojeg menoleh kepada Eliza seperti meminta persetejuan. "Nggak usah, bingung. Nih terima aja, cukup kan?"


"Cukup banget, Mas," jawan si tukang ojeg sembari menerma uang dari Randi. "Ya udah, Mas, Mbak, aku permisi."


Eliza langsung mendengus dan Randi tersenyum penuh kemenangan. "Yok berangkat!" ajak Randi, dan mereka berdua naik ke motor yang sama.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2