TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Hari Cepat Berganti


__ADS_3

Hari pun kini telah berganti. Rasa canggung masih menyelimuti tiga wanita yang berada di rumah tiga prianya masing masing. Meskipun semua keluarga bersikap hangat, tapi entah kenapa rasa canggung itu masih ada dalam benak mereka. Mungkin karena ini pertemuan pertama mereka dan juga masa lalu yang dilakukan tiga pria, membuat hati mereka terlalu canggung untuk sekedar berinteraksi.


terlihat sekarang, Armbi lebih banyak diam di saat semua anggota keluarga Sandi terlihat bahagia dengan adanya Reyhan di sana. Hanya senyum yang sesekali dia tunjukan saat anaknya bertingkah sangat lucu dan menggemaskan. Arimbi jarang sekali mengeluarkan suara kecuali jika dia diberi pertanyaan.


Kamu mau ke rumah Arimbi jam berapa, San?" tanya Papah disela sela sela mereka menikmati sarapan pagi.


"Kemungkinan kalau nggak sore ya malam, Pah," jawab Sandi sambil sesekali menyuapi makanan ke mulut Reyhan dan ke dirinya sendiri. Anak itu pagi ini kembali merengek minta makan bersama Ayahnya. Padahal semalam Reyhan juga sudah tidur dengan Sandi. Arimbi sungguh seperti tersisihkan.


"Nggak kelamaan itu, San?" tanya papah lagi. "Kenapa nggak pagi atau siang saja?"


"Takutnya nggak ada orangnya, Pah. Ini kan hari kerja. Kalau orang tua Arimbi lagi sibuk gimana? Biar nggak bolak balik gitu," ucap Sandi dan alasannya memang cukup masuk akal.


"Lagian, kamu kenapa datangnya pas hari kerja? Kenapa nggak cari waktu akhir pekan di saat mereka lebh santai? Kalau pulang kerja, takutnya orang tua Arimbi malah emosi, karena sudah capek kerja yang sangat menguras tenaga dan pikiran," ucap Mamah.


"Ya kan aku harus ngabisin stok daganganku dulu yang ada di kampung, Mah. Kalau kita mutusin pergi akhir pekan, nanti pembeli pada protes karena tutup kelamaan."


Sang mamah hanya mencebikan bibirnya saja karena pendapatnya dibantah oleh sang anak. Walaupun ucapan sang anak benar, tapi tetap sebagai wanita, Mamah merasa pendapatnya paling benar. Padahal udah kejadian dan unt6k memberi pendapat pun percuma saja.

__ADS_1


Sama seperti Arimbi, Rianti juga lebih banyak diam daripada mengeluarkan suaranya. Apa lagi pagi ini, mereka hanya berempat di meja makan. Meski mamahnya Dandi bersikap sangat hangat, tapi itu tidak merubah kecanggungan yang Rianti rasakan, bisa berubah hangat, sama seperti yang dilakukan wanita tua itu.


"Kalau kamu pergi ke rumah Rianti nanti sore? Terus siangnya kamu mau ngapain? Nggak ada kegiatan kan?" tanya Mamah di sela sela menikmati hidangan sarapannya.


"Ya rencananya mau belanja kebutuhan usaha yang di kampung dan juga nengok usaha yang di sini, Mah," jawab Dandi.


"Sendirian?" tanya Mamah lagi.


"Ya enggak, paling juga sama Sandi dan Randi," jawab Dandi.


"Ya diajak dong, Mah. Kalau nggak diajak, di sini dia sama siapa? Mamah kan pergi?"


"Ya baguslah, yang namanya cewek ya memang harus dibikin senang, bukan untuk dkecewain, ya, nggak, Ri?" Dandi langsung mendengus sebal karena lagi lagi mendapat sindiran oleh Mamahnya.


"Ya, kalau Papah sih cuma bisa nitip pesen, kali ini jangan mempermainkan kepercayaan orang lagi, Dan. Kamu sudah tahu kan? Rasanya tidak dipercaya itu seperti apa?" sang Papah iku mengeluarkan sarannya.


"Tahu, Pah," jawab Dandi. "Aku tahu, ini nggak akan mudah, untuk mendapatkan kepercayaan. Tapi ya memang ini harus dilakukan. Bagaimana lagi, aku harus tetap maju kan?"

__ADS_1


Papah mengangguk dan dia sangat setuju dengan pendapat anaknya. Sebagai orang tua, tentu mereka sangat mendukung keputusan anaknya yang sangat jelas terlihat, ingin berubah ke arah yang lebih baik.


Pembicaraan serius juga terjadi di meja makan rumah Randi. Meskipun kadang ada suara tawa yang menggema, tapi suasana sarapan yang hangat, kali ini diiringi dengan kembali membahas rencana salah satu orang yang ada di sana. Siapa lagi kalau bukan Randi. Eliza sendiri sama seperti Arimbi dan Rianti, lebih banyak diam dan tersenyum, Serta hanya mengeluarkan suara saat ada pertanyaan yang terlontar untuknya.


"Kamu pulang bertiga dengan Sandi dan Dandi? Apa nanti pergi ke rumah Eliza, bertiga juga, Ran? Nggak sendirian?" tanya Kakaknya Randi yang kebetulan menginap di rumah itu juga.


"Ya nggak lah, Mbak, kita pergi sendiri sendiri," jawab Randi agak kesal, karena sedari tadi pria itu mendapatkan sindiran terus dari Mamah dan kakaknya.


"Ya baguslah. Kirain kamu akan pergi bertiga, karena kalian melakukan dosanya juga bertiga," ucap kakak Randi lagi.


"Bukan bertiga, tapi berempat. Kan dulu masih ada Rusdi," sang Mamah ikut nyambung pembicaraan juga.


"Ah iya. empat orang ya? Terus Rusdi sekarang dimana sih? Apa kalian masih musuhan?"


"Nggak tahu lah, Mbak, jangan bahas bahas anak itu. Enek aku," sungut Randi dengan wajah bertambah kesal jika mengingat anak nama mantan temannya. Sang Kakak hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2