
"Kamu tidak pulang, Mbak El? ini sudah siang loh," wanita yang usianya diperkirakan lebih dari lima puluh tahun, melempar pertanyaaan kepada wanita yang lebih muda dan berada tak jauh dari tempat wanita tua itu berjualan.
Wanita muda yang saat itu sedang asyik menikmati jajanan, yang terbuat dari tepung ketan, dibentuk menjadi bulatan, lalu di isi dengan gula aren dan ditaburi parutan kelapa agak tua, langsung menoleh ke arah wanita tua penjual bubur kacang hijau di sebelahnya. "Sebentar lagi, Bu. Masih betah, hehehe ..."
Si Ibu penjual bubur pun ikutan tersenyum, lalu jiwa ingin tahunya kembali berkibar. "Lagi kejar target buat modal nikah ya?"
"Hahaha ... nggak lah, Bu. Lagi pengin aja," bantah wanita muda bernama Eliza bersamaan dengan selesainya menikmati jajanan yang lebih terkenal dengan nama klepon.
"Ya kali aja, Secara Mbak El kan sudah cukup umur, sudah punya calon juga. Buru buru diresmikan, Mbak. Takutnya kalau kelamaan malah nggak baik."
Bener loh, Eliza," penjual lain ikut menampali. "Nanti kayak anak tetangga saya. Gara gara menunda nunda pernikahan, eh, sekarang jadi perawan tua. Usianya udah di atas tiga puluh tahun, jadi laki laki udah banyak yang nggak minat."
__ADS_1
"Emang kenapa, Mbak? Kok bisa gagal nikah?" tanya pedagang lainnya lagi.
Ya beginilah kehidupan orang pasar. Bergosip sudah menjadi hal yang lumrah untuk mengusir kejenuhan dari sepinya para pembeli. Agar tidak jenuh, para pedagang yang lokasinya saling berdekatan akhirnya saling berbagi cerita, termasuk menceritakan orang lain. belum lagi bumbu bumbu yang ditambahkan dalam cerita, membuat cerita itu semakin nikmat untuk menjadi bahan gosip.
"Dulu, dia udah punya calon pas usia masih dua puluhan ke atas. Tapi karena wanitanya memilih menunggu mapan dulu, si prianya tidak tahan. Dia menghamili anak orang. Jadinya pria itu nikahin cewek lain dong. Eh pas ada cowok dekatin anak tetanggaku, lagi lagi syaratnya nunggu mapan. Ya secara otomatis para pria mundur, dan setiap ada pria yang mau mendekat, minder dulu karena masalah si cowok harus mapan itu. Jadinya ya,dia nggak sama siapa siapa sampai usia tiga puluhan."
"Owalah!" seru para pedagang hampir bersamaan. Ternyata yang mendengarkan cerita dari ibu penjual ikan bandeng yang diasinkan itu cukup banyak. Bahkan beberapa pedagang pria juga ikut bereaksi. "Jadi wanita itu emang serba salah. Apa lagi wanita kampung. Kalau usianya sudah di atas dua puluh lima tahun, memang sebaiknya cepat menikah, kalau sudah punya pasangan. Nggak perlu menunggu nunggu lagi," ucap pedagang tahu.
"Dengerin tuh, Za," celetuk penjual tempe. "Mending kamu disegerakan untuk nikah. Apa lagi calon suami kamu ganteng banget kayak artis india. Nggak usah mikir lama lama, nggak perlu pesta yang mewah. Cukup ijab kabul, sah, syukuran keluarga. Beres."
Pembicaraan para pedagang, tidak berhenti sampai di situ saja. Dari awalnya hanya cerita tentang satu wanita, kini cerita semakin meluas dengan berbagai kisah wanita lainnya. Ditambah lagi ada juga cerita tentang pria. Eliza sendiri hanya menjadi pendengar yang baik sambil mulai merapikan barang dagangannya.
__ADS_1
Waktunya pulang pun tiba. Setelah semua barang dagangan dirapikan, Eliza pamit pulang kepada para pedagang. Dengan langkah ringan, Eliza berjalan menuju ke arah pintu utama pasar. Tangan kirinya menenteng tenggok berisi barang bawaannya yaitu wadah bekal dan juga beberapa bumbu dan sayur untuk keperluan rumah. Uang hasil penjualan ada di tas slempang yang Eliza bawa.
"Pulang sama aku aja yuk, Za?" tiba tiba seorang pria menghampiri wanita yang saat itu sudah berada diluar komplek pasar dan hendak mencari ojeg. Jelas saja Eliza sangat terkejut dengan kehadiran pria itu. Apa lagi pria itu hendak mengambil alih tenggoknya.
"Eh, nggak usah, nggak usah," meski terkejut, Eliza masih bisa mengontrol nada bicaranya. "Aku biar naik ojeg aja," tolak Eliza dengan menarik dan menahan tenggoknya agar tidak berpindah tangan.
"Sama aja kan?" pria itu terlihat kesal. "Lagian kenapa sih, kamu nggak pernah mau diantar pulang? Aku udah beberapa kali nawarin loh."
"Hehehe ..." Eliza tertawa pelan. "Nggak perlu, Mas. Aku nggak mau ngerepotin. Kan Masnya harus kerja juga."
"Aku nggak pernah ngerasa direpotin, Za," sanggah pria itu. "Aku cuma butuh bukti aja, apa benar omongan orang tentang kamu, makanya aku pengin nganter kamu."
__ADS_1
"Maksudnya?"
...@@@@@@...