TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Gangguan Lainnya


__ADS_3

Sudah bisa dipastikan, perkelahian pun terjadi saat itu juga. Empat orang langsung menyerang Randi secara membabi buta. Gerakan mereka adalah gerakan bertarung yang asal gerak. Bagi ke empat pria itu, asal bisa menghajar lawan, sudah sangat memuaskan.


Berbeda dengan yang dilakukan Randi, gerakan pria itu lebih terarah dan terlihat pasti. meski dalam penglihatan mata, Randi seperti tidak mengeluarkan tenaga. Namun sebenarnya tenaga yang dikeluarkan Randi cukup besar saat memberi serangan kepada lawannya. Maka itu ke empat lawannya justru seperti kehabisan tenaga karena serangan membabi butanya.


Dua orang yang sedari tadi diam karena menunggu kesempatan untuk membawa kabur Eliza, nampak kebingungan. Sebab dua orang itu justru melihat teman temannya kewalahan melawan Randi yang seorang diri. Berkali kali dua orang itu mendengar teriakan dan erangan kesakitan dari rekan rekannya.


"Kapan kita bergerak?" pria yang memakai helm merah mulai merasa khawatir dengan keadaan di depan matanya. "Kalau mereka kalah, kita bakalan ketahuan."


"Aku sendiri juga bingung," balas pemimpin dari orang orang yang menyerang Randi. "Eliza aja malah nggak minggir dari pria itu sama sekali. Bagaimana mungkin kita bisa menculiknya?"


"Ah sial! kita bakalan ketahuan kalau kayak gini. Elizanya nggak kita nikmati, tapi kita yang masuk bui," pria berhelm merah nampak frustasi dan juga kesal.


"Kita ikut serang dia aja, gimana? Aku yakin saat ini tenaga dia sudah berkurang banyak."


"Baiklah. Bagaimanapun caranya, yang penting kita harus bisa menikmati tubuh Eliza," tanpa pikir panjang dia dan temannya langsung maju. Dengan kepercayaan diri yang tinggi, dua orang itu langsung menyerang Randi dengan harapan yang sangat besar.


Tapi sayang, harapan tinggal harapan dan mereka telah salah perhitungan. Randi tidak terkalahkan. Walaupun tenaganya sudah berkurang banyak, nyatanya Randi masih mampu menumbangkan dua orang itu dengan beberapa kali hantaman dan tendangan.


Dakh!

__ADS_1


Bugh!


Dezigg!


Eliza sendiri benar benar berada tidak jauh dari Randi. Dia berdiri disekitar Randi sambil terus mengawasi pertarungan yang sedang terjadi. Mata Eliza juga sesekali berkeliling dan berharap ada bantuan karena Paman dan Taryo berlum ada respon.


Beberapa menit di saat ke enam musuh tumbang, di saat bersamaan, ada dua motor yang melintas. Mereka tentu saja terkejut karena jalan mereka dihalangi oleh motor musuh Randi, dan mereka kaget dengan apa yang dilihatnya. Tentu saja kedua pemilik motor itu langsung berseru memberi peringatan serta segera turun dari motor untuk melerai perkelahian.


"Pak tolongin kami Pak, mereka tiba tiba nyerang kita!" seru Rianti. Keenam orang langsung kelabakan dan bersiap untuk kabur dengan sisa tenaga yang ada. Randi dan tiga orang yang baru datang tentu saja bergerak cepat untuk menahan beberapa orang yang hendak kabur. Sedangkan tiga lainnya bisa menyelamatkan diri dengan melewati kuburan.


"Astaga! Mas Tejo!" seru Eliza begitu helm dan masker para penjahat dibuka. "Jadi kamu biang keroknya!"


"Enak aja minta ampun. Nggak ada ampun ampunan," jawab Eliza lantang dan sengat marah dengan pria itu. "Tadi kamu sudah menghina aku di pasar, dan sekarang kamu mau mencelakakan saya?"


"OH, jadi ini, orang yang membuat kamu cemberut sedari tadi?" ucap Randi yang saat itu langsung duduk di jalan karena kelelahan.


"Iya itu orangnya," sungut Eliza. "Sekarang kamu tahu kan alasan aku nggak bisa sama kamu? Kamu terlalu pengecut. Menghadap keluarga aku aja kamu nggak berani."


"Udah, Mbak, sabar. Enaknya kita apa kan mereka?" tanya salah satu pria yang ikut mengamankan Tejo dan teman temannya.

__ADS_1


"Keluarga aku lagi lapor polisi, Pak. Bentar lagi pasti datang," jawaban Eliza langsung membuat mata tiga pria yang terduduk tak berdaya membelalak.


"Za, maafkan aku. Tolong, jangan laporkan kita ke polisi," rintih Tejo.


"Iya, Mbak, tolong! Jangan laporin kita ke polisi," rengek temen Tejo juga.


"Masa bodoh! kalian sudah berani berbuat, kalian juga harus menerima akibatnya," Eliza berkata dengan wajah penuh emosi.


"Akhh! Sialan kamu, Jo. Kalau tahu bakalan kayak gini, aku nggak mau bantuin kamu. Gagal menikmati tubuh Eliza, ditambah apes karena kita dilaporin ke polisi."


"Apa!" Randi dan Eliza memekik bersamaan begtiu mendengar ucapan teman Tejo mengenai rencana mereka yang sebenarnya.


Masih di malam yang sama, tapi di tempat lain, terlihat juga tiga orang sedang mengendap ngendap di depan sebuah toko yang sudah tutup. Dua orang mengawasi keadaan jalan raya yang terlihat sepi dan satu orang naik ke kursi dan memutar lampu penerang hingga mati.


"Dimana letak cctvnya?" tanya pria yang berada di atas bangku.


"Katanya di pojokan sebelah kanan." jawab rekannya.


"Oke!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2