TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Pulang Dari Tempat Wisata


__ADS_3

Hening, cuma itu yang terjadi saat ini. Bukan karena tempatnya yang sepi, tapi hening itu tercipta dari dua orang yang baru saja terdiam dan larut dalam pikiran masing masing. Hanya ada suara celotehan anak kecil yang sedang menikmati makanan ringan dan duduk di pangkuan pria yang baru saja melempar sebuah pertanyaan yang cukup mengejutkan.


Arimbi terdiam dan memilih memandang ke arah lain. Pertanyaan yang dilontarkan Sandi, cukup membuat hatinya gusar. Ada rasa terkejut dalam diri wanita itu, bisa bisanya Sandi dengan mudah melempar pertanyaan tentang pernikahan dengan dirinya. Apa pria itu tidak mengerti perasaan Arimbi saat ini? Itulah kira kira pertanyaan yang muncul dalam benak ibu dari anak laki laki yang ada di sana.


Seandainya Arimbi bisa mendengar isi hati Sandi, mungkin apa yang dipikirkan wanita itu pasti lain. Sandi sangat mengerti, Arimbi akan sangat sulit menerima tawarannya karena perbuatan Sandi di masa lalu. Tapi apa mungkin selamanya hidup harus berkubang dalam lingkaran pilu masa lalu? Setidaknya Sandi juga harus membantu Arimbi mengembalikan kepercayaan dirinya tentang sebuah hubungan yang lebih baik.


"Kalau kita tidak bisa menikah dengan alasan cinta, setidaknya kita bisa menikah untuk status Reyhan yang bisa lebih jelas dan juga status kamu, Mbi," mendengar Sandi kembali mengeluarkan suaranya, membuat kening Arimbi berkerut dan berusaha mencerna maksud dari ucapan Sandi.


"Status aku? Maksud kamu?"

__ADS_1


Sebelum menjawab, Sandi meraih air mineral karena anaknya minta minum. "Biar bagaimanapun status kamu harus jelas. Aku tahu kalau kamu pasti banyak menerima cibiran dan hinaan karena perbuatanku. Maka itu biarkan aku yang membantumu untuk menutup mulut orang orang itu. Jangan merasa kuat karena aku tahu, hati pasti akan tetap merasa sakit, sekuat apapun kamu berusaha menahan hinaan dan bersikap acuh."


Arimbi sontak mendengus. "Apa tidak ada hal yang lain untuk dibicarakan? kalau nggak ada, mending kita pulang saja."


Sandi mengembus nafasnya dengan kasar. Dia memilih menanggapi ocehan anaknya daripada melanjutkan pembahasan soal pernikahan yang cukup membuat Arimbi kesal. Sandi pun memilih membantu sang anak saat ingin bermain ke permainan yang membutuhkan bantuan dan pengawasan orang yang lebih dewasa. Arimbi sendiri memilih diam sembari sesekali memandang dua pria beda usia itu dengan perasaan yang campur aduk.


Karena merasa sudah cukup lama berada di tempat wisata itu, Sandi memutuskan mengajak mereka pulang. Tapi sebelum pulang, mereka mampir ke sebuah warung makan karena rasa lapar yang melanda. Meski hari ini keluar banyak uang, tapi Sandi cukup senang melakukannya. Setidaknya uang yang dia kumpulkan dari hasil dari usahanya selama beberapa tahun ini bisa berguna untuk menyenangkan anaknya.


"Loh, Reyhan tidur?" seru pria tua, suami dari Ibu Farida yang saat itu sedang duduk di teras depan rumah. Pria yang usianya lebih dari lima puluh tahun itu sudah mengetahui kalau hari ini Reyhan dan Arimbi sedang pergi bersama ayahnya Reyhan. Makanya pria itu tidak terlalu terkejut saat melihat Sandi menggendong anak kecil yang dia anggap cucu sendiri.

__ADS_1


"Iya, nih, Pak," Sandi menyerahkan anak dalam gendongan ke pria tua itu. Sedangkan Arimbi yang berjalan di belakang Sandi sambil menenteng oleh oleh, langsung masuk terlebih dahulu dengan alasan akan membereskan kamar karena kamarnya juga memang terkunci saat ini. Sandi di sana tidak berlama lama karena waktu yang sudah cukup sore dan juga dirinya juga merasa lelah. Setelah ngobrol sejenak dengan suami Bu Farida, Sandi langsung pamit.


"Ibu kemana, Pak?" tanya Arimbi begitu mobil yang dikendarai Sandi hilang dari pandangan.


"Ibu lagi ngaji," jawab pak Seno yang masih setia duduk di depan rumah sejak tadi sebelum ngobrol dengan Sandi. Arimbi terlihat menganggukan kepalanya dan dia ingat kalau hari ini memang jadwalnya ibu ikut pengajian rutin seminggu sekali di komplek tempat tinggalnya.


"Sepertinya, hubungan kamu dengan ayahnnya Reyhan sudah semakin deket. Apa kalian sudah damai?" tiba tiba Pak Seno melontarkan pertanyaan yang cukup membuat Arimbi terkejut. "Kalau memang sudah damai, ya bapak ikut senang. Setidaknya laki laki itu mau memperbaiki kesalahannya."


Arimbi hanya tersenyum tipis tanpa ada niat untuk membalas ucapannya. Sedangkan Pak Seno terlihat sedang meraih gelas yang berisi kopi dan menyeruputnya sedikit. "Apa kalian tidak bisa menjalin hubungan yang lebih serius lagi, Mbi?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2