
Suasana tegang sekaligus canggung, saat ini sedang berlangsung di teras sebuah rumah. hanya ada dua pria dewasa di sana, tapi justru dua pria itu yang menciptakan suasana mencekam. Tidak ada tegur sapa yang bisa membuat keadaan lebih hangat.
Sejak memutuskan untuk ikut anaknya jalan jalan, Arimbi memang meninggalkan dua orang tamunya untuk bersiap diri sekalian menyiapkan berbagai kebutuhan sang anak. Reyhan sendiri saat ini sedang mandi bersama Bu Farida. Tadinya anak itu merengek minta dimandiin ayahnya, tapi berkat bujuk rayu yang cukup lama, anak kecil itu akhirnya mau saja mandi bareng wanita yang dipanggil nenek oleh Reyhan.
Salah satu pria yang ada di sana bernama Mulyadi. Ada rasa iri dan cemburu saat melihat langsung interaksi Reyhan dan ayahnya. Padahal selama beberapa bulan ini, pria itu sangat dekat Reyhan. Bahkan dia sangat optimis sekali, bisa meraih hati Arimbi melalui anaknya. Tapi sayang, kedatangan Sandi seakan menjadi penghalang dirinya untuk bisa meraih Arimbi.
Sandi sendiri sebenarnya masih bersikap santai. Dia hanya merasa aneh saja dengan pria yang saat ini duduk tak jauh dari dirinya. Padahal pria itu tahu, kalau si pemilik rumah akan pergi, tapi pria itu malah masih saja duduk disana. Entah apa yang sedang dia tunggu. Apa mungkin pria itu berharap untuk ikut piknik juga.
"Sudah lama dekat anak saya?" akhirnya Sandi memilih mengeluarkan suaranya terlebih dahulu. Tentu saja pertanyaan yang terlontar sudah Sandi pikirkan matang matang.
"Ya lumayan lama, sejak dia masih kecil," ada sedikit kebohongan dari jawaban Mulyadi. Sepertinya dia memiliki tujuan sendiri dengan memberi jawaban seperti itu.
Sesuai yang diharapkan Mulyadi, Sandi cukup terkejut mendengar jawaban yang keluar dari mulut lawan bicaranya."Sejak Reyhan masih kecil? Apa sejak dia lahir atau gimana? Soalnya kan, sekarang aja Reyhan memang masih kecil?"
__ADS_1
Bukan bermaksud ingin meledek, tapi pertanyaan Sandi sedikit membuat Mulyadi merasa kesal. "Ya nggak juga, tapi bisa dibilang cukup lama. Malah banyak yang ngira kalau aku adalah ayah anak itu."
Sandi pun tersenyum masam. "Untungnya wajah kalian tidak mirip ya?" ucapan Sandi begitu halus, tapi terdengar seperti ucapan mengajak untuk perang.
Dan tidak perlu ditanya lagi, Mulyadi cukup kesal mendengarnya. Tapi pria itu masih bisa bersikap layaknya tidak terjadi apa apa. "Apa tujuan kamu datang ke kota ini?" bukannya menjawab pertanyaan Sandi, Mulyadi malah melemparr pertanyaan yang terkesan sedang mencari tahu.
"Sepertinya, aku tidak punya kewajiban untuk memberi tahu kamu. Kita nggak sedekat itu untuk saling berbagi informasi bukan?" lagi lagi jawaban Sandi terdengar sangat menohok. Mulyadi benar benar menahan gemuruh yang mulai membakar rongga dadanya.
"Aku tahu, makanya aku merasa kedatangan kamu ke sini hanya untuk menyakiti Arimbi saja. Aku harap dugaanku salah."
"Ya syukur kalau salah," balas Mulyadi tak kalah santainya.
Merasa tidak perlu ada yang diberdebatan lagi, Sandi memilih diam, mengakhiri perang dingin yang baru saja tercipta. Hanya senyuman yang cukup lebar sebagai balasan atas ucapan Mulyadi. Sandi terlalu malas menangapi perdebatan. Apa lagi lawan bicaranya saat ini terlihat sangat percaya diri. Sandi tahu betul kalau pria itu tidak akan berhenti begitu saja untuk mendekati Arimbi.
__ADS_1
"Ayah!" lagi lagi suara teriakan Reyhan langsung menghangatakan suasana. Bocah itu langsung saja berlari ke tempat ayahnya.
"Wah, anak ayah udah wangi," puji Sandi sambil melayangkan kecupan beberapa kali ke anaknya sampai si anak tertawa kegelian. Mulyadi lagi lagi merasa iri melihat pemandangan seperti itu.
"Ya udah, sambil nunggu ibu, kita ke mobil sekarang ya?" Reyhan mengangguk dengan sangat antusias. Anak itu bahkan sangat tidak sabar ingin berada di dalam mobil yang Sandi bawa.
"Kamu masih disini, Mas?" tanya Arimbi begitu keluar, matanya menangkap sosok laki laki yang sejak tadi sudah berada di rumahnya.
"Ya seperti yang kamu lihat, emang kamu berharap aku pergi gitu," balas Mulyadi yang cukup mengejutkan bagi Arimbi.
"Ya nggak salah kan kalau aku mikirnya gitu? Kan Kamu tahu sendiri aku mau pergi? Apa kamu mau ngobrol sama ibu?"
Mulyadi langsung tersenyum sinis. "Padahal laki laki itu baru datang, tapi kamu sudah sangat mengistimewakannya. Nggak takut disakiti lagi?"
__ADS_1
...@@@@@...