
"Aku tuh disuruh jagain Eliza. Malah kalau Elizanya nolak perintah Paman, kita mau dinikahkan."
"Hah! Mana mungkin!" Ayunda dan Iren menatap dua orang yang saat ini sedang bersama mereka secara bergantian. Keduanya begitu terkejut dengan ucapan pria yang sedang mereka sidang. "Apa kamu selama tinggal di rumah Pamanmu, jadi anak yang ditekan juga, Za?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Iren, tentu saja mengundang reaksi terkejut bagi Randi dan juga wanita yang dilempar pertanyaaan itu sendiri. "Mana ada Eliza ditekan," Randi melakukan pembelaan.
"Nah, buktinya. Eliza dipaksa dengan dua pilihan yang semuanya berhubungan dengan kamu. Terus Eliza juga dilarang menolak keduanya. Bukankah itu namanya penekanan dan pemaksaan?" sungut Iren.
"Jangan jangan, ini akal akalan kamu lagi yah? hayo loh," tuduh Ayunda dan tentu saja tuduhan itu membuat Randi tersenyum gemas.
"Za, ikut jelasin dong! Kok kamu malah diam mulu? Jelasin ke mereka yang sebenarnya," Randi malah minta bantuan kepada Eliza, karena dua sahabat wanita itu sama sekali tidak percaya, dan malah menuduh Randi yang tidak benar.
"Bodo amat," Eliza malah bersikap acuh. Biar bagaimanapun Eliza juga kesal sama Pamannya yang tidak memberikan pilihan untuk menolak aturan yang Paman berikan. Meskipun itu untuk kebaikan dirinya, Eliza masih berpikir dan yakin, pasti ada cara lain yang bisa ditempuh. Bukan harus tergantung pada Randi.
"Nah! Eliza aja nggak tahu. Pasti kamu yang merencanakan semua ini kan?" tuduhan Ayunda semakin memojokkan Randi, sikap Eliza juga semakin membuat pria itu bertambah kesal. Daripada Randi terpancing emosi nantinya, Randi langsung berdiri dan meninggalkan ketiga wanita itu, meski mereka protes dengan kepergian Randi, pria itu tidak peduli.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Dandi begitu melihat Randi turun dengan wajah yang sangat kesal. "habis disidang?"
"Tahu tuh, dua cewek rese," sungut Randi yang mengambil duduk di sebelah Dandi, sedangkan Sandi sedang membuatkan pesanan untuk pembeli. "Mentang mentang udah pernah berbuat salah, mereka seenaknya nuduh nuduh gitu. Susah amat jadi orang jujur."
Sandi dan Dandi yang mendengarnya hanya tersenyum masam. Keduanya juga saat ini sedang merasakan hal yang sama, merasa susah untuk berubah menjadi orang yang jujur dan lebih baik bagi para wanitanya.
"Tadi aku lihat Reyhan digendong Sandrina, orang tua kamu sudah ngasih restu, San?" Randi membuka suara lagi.
"Ya orang udah keluar anak, ngapain nggak ngasih restu?" balas Sandi begitu selesai dengan pekerjaannya dan hidangan yang sudah di taruh di tempat saji, kini sudah diambil alih oleh karyawannya. "Nanti abis maghrib orangtuaku akan ke rumah Arimbi."
"Hahaha ... ada ada aja kamu," sahut Randi. "Nah, kamu jadi ke tempat Rianti nggak?"
"Jadi dong, nanti mungkin kalau tempat kita nggak terlalu rame," jawab Dandi. "Kamu nanti malam jaga sendirian nggak apa apa?"
"Ya nggak apa apa. Lagian kan tinggal beberapa menu aja, kan, yang sisa? Banyak yang habis dari jam tiga," balas Randi. "Lagian nanti saat kalian beres beres juga, aku pergi nganter Eliza pulang."
__ADS_1
Dua Sahabat Randi pun nampak mengangguk. Kerja sama mereka sangat terjalin dengan baik dan mereka juga saling pengertian, makanya persahabatan mereka bisa awet sampai sekarang.
Dan tanpa terasa petang telah datang. Di rumah Arimbi, saat ini wanita itu sedang membantu Bu Farida dan Pak Seno, mengecek barang dagangan serta keuangannya. Sedangkan dua orang tua yang ada di sana, sedang menikmati makan malam sambil memperhatikan wanita yang bukan anaknya itu, tapi sudah mereka anggap sebagai anak sendiri.
"Reyhan nggak kamu jemput, Mbi? Udah malam loh," tanya Bu Farida begitu makanan dalam piring di hadapannya, telah dia habiskan.
"Enggaklah, Bu, nanti juga ayahnya yang ngantar. Biar dia main sepuasnya dengan ayahnya," jawab Arimbi dengan mata menatap buku yang berisi barang dagangan milik kedua orang tua itu.
"Itu anak, kenapa bisa jadi dekat banget sama ayahnya ya? Padahal belum ketemu lama loh," Pak Seno juga ikut bersuara begitu menghabiskan makanan dalam piringnya.
"Mungkin sudah ikata batin, Pak," jawab Bu Farida. Di saat bersamaan, mereka mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah mereka. "Kok kayak ada suara mobil di depan?"
"Ada tamu kayaknya, Bu," ucap Pak Seno. "Mbi, coba dilihat siapa yang datang?"
Arimbi mengangguk. Setelah meletakkan buku catatan di atas lantai, dia bangkit dan beranjak ke ruang tamu. Begitu pintu rumah dibuka, kening Arimbi sontak berkerut.
__ADS_1
...@@@@@@...