
"Setidaknya dengan memaafkan, hati kita jauh lebih tenang bukan?" tanya Bibi dan dengan antusias, Eliza mengganggukan kepalanya beberapa kali. "Tapi kok, kamu sepertinya enggan memaafkan Randi, apa Randi tidak pantas dimaafkan juga, Za?"
Eliza tertegun. Matanya segera berpaling dari sang Bibi. Wanita yang memiliki anak laki laki sebanyak empat orang itu lantas tersenyum. "Kalau belum bisa memaafkan Randi ya nggak apa apa, Semua itu tergantung hati kamu, Za. Baik buruknya, kamu yang akan merasakan sendiri," ucap si Bibi, lantas dia beranjak meninggalkan wanita muda yang kembali merasa dilema akibat ucapan si Bibi.
Sedangkan di tempat lain, Rianti kini sudah berpindah tempat duduk. Kalau tadi dia duduk di taman dengan sepasang suami istri, saat ini dia duduk di lantai dua rumah makan milik Dandi dan masih ditemani sepasang suami istri yang sama.
Sebenarnya Rianti enggan datang ke tempat ini. Tapi karena dia ada urusan dengan Dandi dan juga urusan toko juga belum selesai, mau tidak mau Rianti menerima ajakan Tiwi yang sangat memaksanya untuk ikut. ketiga orang itu sedang menunggu pesanan mereka datang.
"Nunggu lama yah?" suara Dandi tiba tiba terdengar bersama dengan wujudnya yang sedang membawa nampan berisi pesanan tiga orang pembelinya. "Maaf, agak antri."
"Nggak apa apa, di sini tuh mau antri berapa lama juga nggak apa apa, Mas. Ya nggak, Ri," ucap Tiwi dengan tatapan menggoda kepada sahabatnya. Rianti hanya membalasnya dengan dengusan. Sedangkan Dandi sendiri hanya tersenyum lebar lalu dia duduk di sisi Rianti setelah meletakkan pesanan ketiga orang itu.
"Kamu, bisa masak seenak ini, belajar dari mana, Mas?" tanya Agus yang sudah mulai mengaduk makanannya.
__ADS_1
"Ya paling belajar sama Mamah atau pembantu di rumah," jawab Dandi apa adanya.
"Nggak kursus masak gitu?" tanya Tiwi.
"Enggak sama sekali. Ini aja nggak nyangka aku. Awalnya juga iseng, eh malah punya bakat dibidang masak," jawab Dandi terlihat bersemangat.
"Kamu nggak ada yang ingin ditanyaakan, Ri? Mumpung ada orangnya," ucap Tiwi yang sudah bisa ditebak kalau dia hanya berniat untuk meledek Rianti saja.
"Ah iya, katanya kamu ada yang ingin dibacarakan, Ri?" Agus malah ikut ikutan meledak seperti istrinya. "Oh iya, mas, kayaknya nanti malam kamu diminta menemani Rianti lagi, bisa?"
"Kenapa? Kan tujuan kita kesini memang untuk ngomongin itu, kan?" ucapan Agus sungguh membuat Rianti mati gaya. Ingin rasanya dia kabur saja dari tempat itu. "Kamu itu seenggaknya harus berterima kasih sama Dandi. Apa jadinya jika kamu dinodai rame rame lalu direkam. Beruntung dia langsung lari saat kamu minta tolong."
"Iya, aku tahu, Mas. Suami istri kok senang banget bikin aku kesal," sungut Rianti sambil sesekali memasukkan kuah cireng ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Astaga! Jahat banget kamu nuduh aku kayak gitu," ucap Tiwi dengan wajah dibuat cemberut, tapi tak lama setelahnya, wanita itu malah cengengesan, dan kembali sukses membuat kesal Rianti.
"Emang tokonya Rianti gimana? Apa nggak diperbaiki?" tanya Dandi. Pria itu segera bertindak agar Rianti tidak digoda terus oleh pasangan di hadapannya. Agus lantas menceritakan tentang kondisi toko buah, sama seperti apa yang dia ceritakan pada Rianti saat berada di taman kota tadi. "Oh, begitu. Ya itu memang bahaya kalau Rianti tidur sendirian." Seketika Rianti langsung menoleh ka arah Dandi dengan tatapan yang membuat Dandi malah cengengesan. "Bukanya aku ada maksud memanfaatkan keadaan, Rianti. Astaga! tatapannya tajam banget."
"Hahaha ... entahlah, dari tadi tu anak bawaannya marah mulu. Padahal niat kita baik," gerutu Tiwi.
"Oh iya, lalu kalian nggak ke kantor polisi?" tanya Agus yang tiba tiba teringat sesuatu disela sela menikmati hidanganya dan juga obrolan yang sedang terjadi. "Setidaknya kalian harus tahu loh, dalang yang memerintahkan orang orang itu?"
"Aku tahu. Kalau Rianti mau ya rencananya nanti sore aku akan ajak dia ke kantor pollisi, saat tempat ini sudah nggak terlalu rame," jawab Dandi.
"Oh, gitu? Kebetulan Rianti juga sedang nungguin keputusan kamu soal ini," balas Agus yang lagi lagi mkembuat Rianti salah tingkah. "Terus kali ini, kamu memang serius dengan Rianti kan? Nggak ada niat untuk mempermainkannya kayak dulu?"
Dandi lantas tersenyum. "Ya seriuslah. Bahkan minggu besok, aku akan ke kota untuk menemui orang tuanya."
__ADS_1
Deg!
...@@@@@...