
Suasana haru dan bahagia, kini menyelimuti semua orang yang menyaksikan acara akad yang baru saja selesai dikumandangkan. Tak sedikit orang yang hadir, mengeluarkan air mata saat kata sah terucap dari semua mulut yang menjadi saksi bagi seorang pria yang baru saja mengucapkan lafaz paling sakral menurut agama yang dia anut.
Rasa haru dan bahagia yang sama, juga dirasakan oleh dua anak manusia yang akan menjalani babak baru dalam hidup mereka. Meski pernikahan itu diawali dengan perjalanan yang tidak mudah, namun kedua mempelai yang sudah dikaruniai seorang anak itu, merasa lega dengan lancarnya acara pernikahan yang mereka jalani saat ini.
Setelah acara ijab qabul selesai, kini acara selanjutnya adalah resepsi yang langsung diadakan saat itu juga. Karena acara pernikahannya dilangsungkan secara sederhana, jadi acara tersebut cukup diadakan di rumah mempelai wanita saja. Meski begitu tamu yang datang juga cukup banyak.
KIni, sepasang pengantin telah duduk berdampingan di atas pelaminan. Mereka harus menjalani prosesi selanjutnya sesuai adat yang mereka gunakan dalam acara pernikahan mereka. Setelah satu persatu prosesi pernikahan selesai, kini saatnya para tamu dan juga anggota keluarga untuk memberikan ucapan selamat serta pengambilan gambar untuk mengabadikan momen pernikahan tersebut.
"Apa kamu nanti sanggup menjalankan malam pertama, San?" tanya Randi begitu semua acara prosesi pernikahan selesai. Kini masing masing dari mempelai sedang duduk terpisah dengan temannya masing masing. Arimbi juga nampak sedang berbincang dengan sahabat sahabatnya.
"Sanggup dong," jawab Sandi dengan penuh percaya diri. "Lihat, hasil sodokanku!" ucapnya sambil menunjukan bocah yang kini duduk santai dia atas pangkuannya.
"Maksud aku bukan sanggup dalam melakukan permaianan ranjangnya," bantah Randi."Maksudnya gini, apa kamu sanggup mencegah anak kamu itu agar tidak mengganggu malam pertama kamu nanti."
"Ah iya!" seru Dandi. "Reyhan pasti bakalan nempel terus sama kamu ya?"
__ADS_1
"Ya harus bisa dong," Sandi tetap tidak mau kalah. "Nanti dia akan aku ungsikan dulu agar tidur sama eyangnya."
"Yakin, kamu mampu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Dandi, sangat menunjukan kalau pria itu meragukan keyakinan sahabatnya.
"Harus mampu dong. Inikan demi terciptanya adik adik Reyhan dengan lancar," Sandi tetap tidak mau kalah. Biar bagaimanapun lelaki yang sudah dewasa itu sangat menunggu momen malam pertama. Walaupun dia dan Arimbi sudah pernah melakukannya, tapi Sandi tetap menganggap kalau ini adalah malam pertama baginya karena sudah sah sebagai seorang suami.
Seiring dengan bergulirnya waktu, satu persatu, para tamu undangan meninggalkan rumah Arimbi. Keluarga Sandi juga sudah pulang sejak beberapa waktu yang lalu. Yang tersisa, kini hanya ada keluarga Arimbi serta beberapa orang yang sedang merapikan tempat berlangsungnya acara tersebut.
Di sana, di dalam salah satu kamar yang digunakan oleh pengantin baru, suasana canggung jelas sangat terasa. Meski sejak beberapa hari sebelumnya, keduanya sudah lebih dekat, bahkan dulu mereka juga sering berada dalam satu kamar saat masih pacaran, rasa canggung itu tetap ada pada sepasang pengantin baru itu.
"Keluar? Ngapain?" Sandi cukup terkejut. Meski dia juga cukup senang saat kata Mas keluar dari mulut wanita yang telah sah menjadi istrinya. Mata Sandi menatap lekat, punggung wanita yang sedang menghadap ke arah cermin.
"Aku mau ganti baju," jawab Arimbi dengan wajah tersipu. Dia bahkan agak menunduk dan tentunya menjadi salah tingkah sendiri.
Senyum Sandi sontak saja langsung terkembang dengan menunjukan deretan gigi putihnya. "Lah terus, apa hubungannya denganku? Orang tinggal ganti baju aja, ngapaian aku harus kelua?"
__ADS_1
Arimbi seketika langsung mendengus. "Sebentar aja, tolong lah. Sekalian bawa Reyhan keluar."
"Nggak mau," bukan Sandi yang menjawab, tapi sang anak yang saat itu sedang bermain robot roboitan bersama ayahnya. "Reyhan mau disini sama Ayah."
"Tuh, anak kamu aja nggak mau, apa lagi aku," Sandi kembali bersuara. "Lagian, kita kan sudah pernah lihat dulu, Mbi. Ngapain mesti malu sih?"
"Enteng banget kalau ngomong," sungut Arimbi. "Ada anak kecil, jangan ngajarin kayak gitu. Lagian aku nggak pernah ganti baju di depan Reyhan."
Mendengar Arimbi yang nampak kesal, Senyum Sandi pun kembali melebar. Namun dia memilih mengalah. Sandi segera saja bangkit dan berbaringnya dan langsung meraih tubuh anaknya. "Kita keluar sebentar yuk, nanti Ibu marah," ucapnya. Reyhan pun mengangguk setuju.
Sandi pun melangkah menuju ke arah pintu. Namun sebelum dia keluar kamar, Sandi menatap Arimbi lagi. "Tapi nanti malam, kamu nggak malu kan, kalau kita buka baju sama sama?"
Deg!
...@@@@@...
__ADS_1