TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Menemui Calon Istri


__ADS_3

Sebelum menemui wanita yang katanya ingin bekerja sama dan membuka cabang sebuah rumah makan, tiga pria yang menjadi pemilik rumah makan tersebut, hari ini menjalankan rencana lainnya yang lebih penting, yaitu menemui tiga wanitanya masing masing. Meski masih ada rasa canggung saat berkunjung ke rumah wanitanya, tapi tiga pria itu tetap memantapkan hati untuk membicarakan hal yang menurut mereka penting, agar tiga menjadi masalah dalam hubungan mereka bertiga dengan para wanita.


"Ibu!" seorang bocah laki laki berteriak dengan kencang begitu turun dari mobilnya. Bocah itu langsung saja lari menuju ke arah wanita yang sedang berdiri di teras rumah menyambut kedatangan sang anak, yang sudah dua hari ini ikut ayahnya. Dua wanita yang menyambut anak itu langsung tersenyum dan salah satunya bergerak maju terlebih dahulu.


"Jangan lari lari, Reyhan!" seru ibu dari bocah itu sambil melangkah cepat menyongsong anaknya yang tidak peduli dengan peringatan dari ibunya. Bocah itu, tetap saja berlari agar cepat sampai kepada wanita yang dirindukan anak itu.


Sedangkan ayah dari bocah itu, juga segera turun dari mobil dengan perasaan tak kalah khawatir, melihat sang anak lari begitu saja. Padahal sang ayah yang akrab dipanggil Sandi sudah mewanti wanti agar si anak jangan lari, saat anaknya memaksa turun dari mobil. Tapi anak itu tetap bandel, membuat Sandi gemas sendiri dibuatnya.


"Orang dibilangin jangan lari. Kalau Reyhan jatuh gimana?" ucap Arimbi, begitu si anak sudah berada dalam gendongannya. Bukannya menjawab, anak itu malah tersenyum lebar tanpa merasa bersalah. Arimbi langsung melayangkan ciuman bertubi tubi ke anaknya. Selain gemas, ciuman itu juga sebagai luapan rasa rindu karena dua hari kemarin, anaknya lebih memilih bersama ayahnya.


Begitu sudah dekat, Sandi langsung memberi salam dan menjabat tangan wanita lain yang sedari tadi tersenyum melihat interaksi yang terjadi pada Arimbi dan cucunya. Wanita itu dengan ramah menjawab ucapan salam yang terlontar dari mulut Sandi dan mempersilakan pria itu masuk.


"Gimana? Kalian sudah menentukan tangggal pernikahan?" tanya Ibunya Sandi beberapa saat kemudian setelah dirinya dan yang lain berbasa basi sejenak sebelum memasuki pembicaraan yang lebih serius.


"Maksud kedatangan saya kesini juga karena ingin membahas tentang itu, Tante," jawab Sandi dengan sopan.

__ADS_1


"Oh gitu?" balas sang calon ibu mertua. "Kapan itu?"


"Kalau saya pribadi memilih tanggal sepuluh bulan depan, menurut Arimbi gimana?" tanya Sandi dengan mata mengedar ke arah calon istrinya.


"Tanggal sepuluh?" Arimbi langsung memeriksa tanggal dalam ponselnya. "Bulan depan? Berarti sekitar tiga minggu lagi dong?"


"Ah iya," seru Ibunya Arimbi. "Apa nggak kecepatan?"


"Ya menurut saya sih, lebih cepat lebih baik, Tante. Apalagi diantara kita sudah ada anak. Kasihan Reyhan jika harus menunggu lebih lama. Di saat dia bersama saya, dia mencari ibunya, begitu juga sebaliknya. Lagian kita tidak mengadakan resepsi yang terlalu mewah bukan?"


Arimbi sedikit berpikira sejenak. "Ya kalau itu memang yang terbaik, ya udah, aku ngikut aja. Aku juga nggak mau terlalu sering pisah sama Reyhan."


"Ya sudah kalau begitu, nanti aku sampaikan pada Ayah. Nanti, untuk memantapkannya, kalian bicara lagi dengan Ayah."


"Baik, Tante."

__ADS_1


Di tempat lain, Dandi dan Randi juga sedang membicarakan hal yang sama dengan keluarga para wanita. Mereka juga rata rata sepakat akan melaksanakan pernikahan sesuai tanggal yang diajukan oleh para pria. Mereka juga membicarakan hal lainnya yang berhubungan dengan acara pernikahan mereka.


Sebelum datang ke tempat para wanita, tiga pria juga sebenarnya telah membuat kesepakatan tentang tanggal pernikahan diantara mereka bertiga. Biar tidak berbenturan dan bisa saling mengunjungi, mereka bertiga mengatur jadwal pernikahan dengan jarak masing masing dua minggu.


Ketiga pria itu memutuskan kalau yang menikah pertama adalah Sandi, dengan alasan Sandi sudah memiliki anak. Dua minggu berikutnya baru Dandi dengan, alasan Rianti dan Dandi sudah pernah tidur bareng. Lalu dua minggu berikutnya lagi, baru Randi yang melaksanakan pernikahan, karena tidak ada alasan dan kemungkinan Randi yang acara pernikahannya paling mewah.


"Nanti kalau ada kabar tidak sedap, kamu konfirmasi sama aku ya, Mbi," ucap Sandi begitu pembicaraan dengan orang tua selesai, sekarang Sandi dan Arimbi duduk berdua di teras depan rumah, untuk membahas sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan, yang akan mereka gelar.


"Kabar tidak sedap? Maksud kamu?" tanya Arimbi dengan kening yang berkerut.


"Sepertinya musuh lama Aku, Dandi dan juga Randi, sedang ingin membuat masalah dengan kita. Mereka mengirim wanita untuk menjebak kita dengan ngajak ketemuan di hotel sore ini."


"Astaga! Kamu punya musuh?"


Anggukan kepala Sandi cukup membuat Arimbi mengerutkan keningnya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2