
Terkejut, itulah gambaran yang terlihat di wajah Pak Rt dan ibu ibu, tetangga Arimbi. Ternyata apa yang mereka dengar, melenceng jauh dari perkiraaan mereka. Sandi dan keluarga Bu farida sendiri hanya tersenyum melihat ekspresi keterkejutan para warga dengan kenyaataan yang baru saja para warga dengar.
"Jadi, orang tua yang dari kemarin datang kesini, itu keluarganya Mas ini?" tanya salah satu warga sambil mengacung ke arah Sandi.
"Iya, mereka orang tua saya," Sandi yang menjawab. "Mereka kesini pengin menjenguk cucu pertama mereka."
"Loh, mereka baru tahu apa gimana, Mas?" tanya warga lagi.
Sandi tanpa beban mengangguk. "Dulu itu memang saya yang salah, Bu. Ya namanya anak muda nakal itu wajar kan, Bu. Tapi nakalku itu keterlaluan sampai ngehamilin anak orang dan nggak mau tanggung jawab. Tapi kan sekarang saya sadar, kalau perbuatan saya dulu salah. Makanya, saya akan ngajak Arimbi untuk menikah."
"Owalah, gitu toh? Terus orang tuanya kamu nggak marah, Mas?"
"Tentu saja marah. Tapi mau gimana lagi, orang sudah kejadian. Apa lagi anaknya sudah gede. Makanya orang tua saya datang kesini, selain menjenguk cucu, mereka juga ingin meminta Arimbi agar mau menikah dengan saya."
"Owalah, ya bagus itu. Memang harus seperti itu," para warga malah memberi dukungan yang tentunya membuat Sandi senang. "Tapi kok Mulyadi bilang katanya dia dan ibunya tadi di hina gitu?"
"Siapa yang menghina?" kini Bu Farida yang bersuara. "Tidak ada yang menghina Bu Dibyo. Ibu Ibu justru pernah lihat kan, sikap Ibunya Mulyadi gimana ke Arimbi?"
__ADS_1
"Iya sih, malah beberapa hari kemarin aku juga lihat Arimbi sedang dimaki maki di depan rumah," ucap seorang warga yang memang rumahnya dekat dengan Arimbi. Bahkan saat kejadian itu, Reyhan sedang bermain bersama anak ibu itu.
"Nah itu! Gini deh, sebenarnya tuh ya, Bu, kejadiannya begini," dengan sangat anatusias, Bu Farida menceritakan semua kejadian beberapa hari kemarin. Bu Farida benar benar terlihat seperti orang yang sedang berghibah dengan para warga karena terlalu bersemangat dalam menceritakan tingkah Bu Dibyo.
"Owalah!" seru para warga hampir bersamaan. "Jadi itu semua gara gara gara gara salah kira? Makanya Bu Dibyo berubah jadi baik?"
"Ya gitulah, Bu."
Akhirnya setelah mengetahui kebenarannya, para warga justru memberi dukungan agar Sandi dan Arimbi segera saja menikah. Apa lagi mereka sudah punya anak. Para warga bersama Pak Rt akhirnya membubarkan diri setelah mendapat kejelasan dari tuan rumah dan juga Sandi.
"Emang tadi warga, datang sudah lama, Pak?" tanya Arimbi.
"Ya belum sih," Bu Farida yang menjawab. "Tadi Ibu mau menjelaskan, eh kamu sama Sandi datang, ya udah, kebetulan, biar warga yang menilai kalau tahu dari sumbernya langsung."
"Ada ada aja. Lain kali kalau Mulyadi kesini, nggak usah ditanggapin, Mbi. Bikin rusuh aja bisanya," Pak Seno terlihat kesal.
"Ya udah deh, Pak, Bu, aku pulang dulu," ucap Sandi.
__ADS_1
"Emang kamu beneran, mau menemui orang tua Arimbi, San?" tanya Pak Seno.
Sandi mengangguk. "Iya, pak, kenapa?"
"Salam saja sama mereka, dan bilang kalau Arimbi dan cucunya sehat gitu. Kalau nggak mau nerima Arimbi dan cucunya, nggak perlu khawatir, mereka ngak bakal kekurangan selama berada di sini."
Sandi hanya tersenyum sambil mengangguk. Arimbi sendiri merasa terharu dengan ucapan pak Seno. Karena waktu yang terus menuju larut, Sandi pun pamit pulang. Di dalam mobil Sandi jadi kepikiran dengan apa yang terjadi di rumah Arimbi tadi. Sandi masih merasa heran dan bertanya tanya, apa yang Mulyadi rencanakan sampai ngomong ke para warga bersama teman temannya.
"Bukannkah itu ..." Sandi tidak melanjutkan kata katanya saat melihat orang yang dia kenal ada disebuah tempat. "Ngapain Mulyadi ada di sana?" gumam Sandi yang kini menjadi penasaran karena melihat Mulyadi berada di tempat karaoke. "Sebaiknya aku intai dia."
Sandi yang tadi sudah meneruskan perjalanannya, langsung putar balik dan kembali, menuju ke tempat Mulyadi berada. Begitu sampai ditempat tujuan dan mobil terparkir tak juah dari tempat karaoke, Sandi malah bingung mau melakukan pengintaian dengan cara seperti apa.
Di saat Sandi sedang bingung memikirkan cara, tiba tiba di sebelahnya ada motor matik terparkir. Dari penampilannya, Sandi tahu, pengendara motor itu pasti bekerja di tempat ini. Saat Sandi sedang mengamati pengendara motor yang sedang memakai lipstik di atas motor, seketika dalam otak Sandi tercetus sebuah ide.
"Aku tahu, apa yang harus aku lakukan."
...@@@@@...
__ADS_1