TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Suasana Menegangkan


__ADS_3

"Atas dasar apa kamu berani melamar anak saya lagi, hah!" bentak seorang pria kepada pria yang lebih muda di hadapannya, yang dulu pernah meninggalkan anaknya dengan kesengajaan atas fitnah yang dibuat oleh pria muda itu sendiri. "Apa kamu sudah tidak memiliki rasa malu, sampai berani mengatakan hal yang sangat menjijikan seperti itu!"


Pria muda bernama Dandi menghela nafasnya dalam dalam. Dia sungguh harus bisa menahan kesabarannya lebih luas lagi. Biar bagaimanapun, Dandi adalah pihak yang sangat bersalah, jadi dia memang harus bisa menerima segala makian ataupun ucapan yang bisa membangkitkan emosinya. "Jika atas dasar cinta, saya yakin Om sudah tidak percaya lagi sama saya. Tapi saya memang benar benar ingin menikahi Rianti karena harus melindunginya, Om," ucap Dandi dengan tenang dan tidak gentar.


"Hahaha ..." pria tua yang dikenal sebagai ayahnya Rianti, terbahak dengan pandangan meremehkan. "Melindungi dalam hal apa? Bukankah kamu sendiri yang telah menghancurkan hidup anak saya."


"Saya tahu, Om, saya pernah menghancurkan hidup Rianti, tapi kali ini, saya sangat serius, saya akan melindungi hidupnya agar tidak hancur lagi, karena Rianti hampir saja dinodai oleh empat pria sekaligus, Om."


"Apa!" sekarang bukan ayah Rianti yang bersuara, tapi ibunya. Wanita yang sedari tadi diam itu, baru mengeluarkan suaranya saat nama anaknya disebut dengan musibah yang hampir menimpa anaknya. "Rianti hampir dinodai empat pria?"


"Nggak usah percaya begitu saja, Mah," ucap Ayah Rianti. "Pasti ini bagian dari rencana busuk kamu, kan?"

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Dandi harus bisa menahan segala rasa sabarnya. Tuduhan yang dilakukan ayahnya Rianti adalah buah dari kesalahannya di masa lalu yang telah merusak kepercayaaan mereka dengan sengaja. "Saya tidak berharap Om sama Tante percaya sama saya, tapi Om dan Tante bisa tanyakan sendiri pada Rianti. Sekarang anak Om dan tante sedang berada di rumah saya."


"Apa!"


Jika Dandi sedang menghadapi rasa tegang, berbeda dengan apa yang dihadapi Sandi saat ini. Selain rasa tegang, dua orang yang menjadi orang tuanya Arimbi juga menatap haru pada bocah kecil yang semakin mengencangkan pelukannya kepada pria yang menggendongnya.


"Sejak kapan kamu mengetahui keberadaan Arimbi?" tanya ayahnya Arimbi. Meski penuh dengan rasa amarah, pria itu juga penasaran dengan keadaan anaknya saat ini. Pertanyaaan itu juga mewakili rasa ingin tahu ibunya Arimbi yang terus memandangi anak dalam pangkuan Sandi.


"Apa Arimbi menjalani hidupnya dengan sangat baik?" sekarang giliran Ibu Arimbi yang bertanya. Suaranya terdengar bergetar. Bahkan matanya pun telah memerah menahan air yang hendak keluar dari sudut matanya.


"Arimbi beruntung, Tante, dia menemukan sepasang suami istri yang baik kepadanya. Dia bisa menjalani hidup yang baik di kampung sana meski hatinya tidak baik baik saja. Saya tahu, Om, Tante, perbuatan saya sangat keterlaluan. Maka itu saya malam ini datang kesini, selain untuk meminta maaf, saya ingin melamar anak Om dan tante, untuk saya nikahi," terang Sandi dengan segala ketenangannya. Tapi ucapan pria itu membuat rasa terkejut pada dua orang di hadapannya.

__ADS_1


Sementara itu, ketegangan juga masih dirasakan pria lain saat menghadapi orang tua dari wanita yang pria itu tuju.


"Hahaha ... apa kamu pikir aku akan percaya dengan ucapan kamu?" Pria paruh baya yang diketahui sebagai ayahnya Eliza, terlihat sangat meragukan dengan semua yang keluar dari mulut tamunya yang tidak lain adalah Randi. "Bahkan kamu sampai detik ini, maasih sanggup menfitnah orang lain?"


"Saya tahu, Om, Om tidak akan mudah percaya sama saya begitu saja, " balas Randi. Namun di saat dia hendak menyambung ucapannya, Ayahnya Eliza segera menyambarnya sampai membuat Randi terdiam.


"Oh ya jelas, saya sangat tidak mempercayai kamu. Bahakn selamanya saya tidak akan pernah percaya sama kamu," ucapan Ayahnya Eliza sungguh menohok dan sangat menguji kesabaran Randi. "Saya sangat mengenal calon menantu saya. Dia anak yang baik dan sopan kepada saya, anak yang alim juga. Jadi, mana mungkin dia bisa menghamili anak orang di saat dia hendak menikahi anak saya. Pasti itu hanya karanganmu saja, bukan?"


Randi menghela nafasnya cukup dalam, agar bisa menahan kesabarannya lebih luas lagi. Sebelum membalss ucapan ayahnya Eliza, Randi tersenyum sejenak. "Saya tahu, Om, tapi Om mungkin bisa menanyakan kebenaran tentang semua yang saya katakan kepada Ayunda dan Iren, Om kenal dua sahabat Eliza itu, kan?"


Deg!

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2