
"Apa Ibu ngomong kayak kayak seperti ini, karena ada kaitannya dengan pembicaraan kita semalam?" celetuk Bu Farida, dan celetukannua mampu mengalihkan perhatian semua orang yang ada disana.
"Pembicaraan semalam? Maksudnya?" tanya Pak Suryo.
"Jadi gini, semalam Ibu ini datang, saya juga heran dengan kedatangan Bu Dibyo kesini. Apa mungkin Bu Dibyo berubah pikiran karena tahu eyangnya Reyhan itu pengusaha berlian yang biasa dijadikan langganaan para artis dan pejabat."
Ucapan Bu Farida tentu saja membuat semua yang ada disana langsung tercengang. Hanya Bu Dibyo yang langsung bertingkah aneh sambil senyum senyum salah tingkah.
"Owalah karena itu!" seru Pak Suryo sambil tersenyum sinis
"Bukan!" dengan lantang Bu Dibyo membantahnya. "Bukan karena itu, Pak. Murni karena saya sadar tenang cinta anak saya."
Pak Suryo langsung tersenyum lebar. "Sayang sekali ya? Anda telat, kalau anda dari awal langsung setuju hubungan mereka, pasti impian anda untuk memiliki menantu yang kaya raya, akan terwujud."
"Maksudnya, Pak?" Bu Dibyo cukup tercengang mendengarnya.
"Arimbi dan ayahnya Reyhan sebentar lagi akan menikah, Bu."
"Apa! Mana mungkin?" Ibu Dibyo memekik tak percaya.
"Ya mungkin saja dong, Bu. Apanya yang mana mungkin," Pak Suryo menanggapinya dengan sangat santai. "Jadi mohon maaf, kubur impian anda dalam dalam ya, Bu. Arimbi akan segera menjadi milik orang lain."
"Ya nggak bisa begitu dong, Pak. Arimbi dan Mulyadi itu saling cinta. Benar kan, Mbi?" ucap Bu Dibyo langsung menatap wanita yang sedang duduk bersama anaknya di atas tikar bersama Sandrina dan Ibunya Sandi.
__ADS_1
"Maaf, aku nggak pernah bilang mencintai Mas Mul. Bahkan aku sudah berkali kali melarang Mas Mul untuk datang kemari," jawaban Arimbi membuat Bu Dibyo terperangah. Bukan ini jawaban yang dia inginkan.
"Tapi, Mbi ..."Mulyadi terlihat frustasi.
"Maaf ya, Mas," hanya itu yang bisa Arimbi katakan.
"Sudah jelas, kan? Jadi, maaf ya, Bu, kami tidak menerima anak Ibu sebagai menantu kami," ucapan Pak Suryo membuat Bu Dibyo dan Mulyadi merasa sesak seketika. Dengan wajah yang berubah sangat drastis menjadi ketus, wanita itu menarik tangan anaknya, mereka langsung pamit, meninggalkan rumah itu.
"Astaga! Ternyata di kampung, ada orang yang kayak gitu ya?" ucap Sandrina.
"Kalau soal harta ya gitu, Mbak Sandrina, nggak hanya orang kota saja," jawab Bu Farida. "Kalau mereka orang kaya, ya mereka juga harus mendapatkan besan yang sama sama kaya."
"Coba kalau mereka tahu keluarganya Arimbi, pasti Arimbi sudah dilamar anaknya sejak dulu," celetuk Ibunya Sandi.
"Ya kenal lah, Papah juga kenal."
"Astaga! Kenapa kalian baru pada bilang."
Pak Suryo tidak menanggapi lebih lanjut meski Arimbi sangat ingin tahu kabar orang tuanya. Ibunya Sandi hanya bilang kalau orang tuanya Arimbi dalam keadaan baik baik saja. Karena waktu yang semakin menuju siang, keluarga Sandi akhirnya pamit. Reyhan turut serta tapi hanya diantar ke tempat jualan Sandi, karena anak itu sedari tadi merengek.
Sementar itu di tempat lain, di hari yang sama.
"Kamu beneran nggak tahu? Siapa yang memberi perintah kepada tiga orang itu?" tanya Tiwi setelah Rianti menceritakan perisitiwa yang menimpa wanita itu semalam.
__ADS_1
"Kalau tahu, aku sudah pasti ngomong, Wi. Mereka semalam tidak sempat menyebutkan nama orangnya, karena langsung dibawa ke kantor polisi," jawab Rianti. Kedua wanita itu saat ini memilih duduk di taman kota karena pintu toko sedang diperbaiki oleh pemilik toko dan juga suaminya Tiwi.
"Kok bisa sampai ada yang berbuat seperti itu sih? Apa ini ada hubungannya dengan perbuatan si Lila?" tanya Tiwi lagi setelah memasukkan cireng kuah pedas ke dalam mulutnya.
"Ya aku nggak tahu, kalau memang itu perbuatan dia ya, berarti dia memang cari masalah sama aku," Rianti pun juga bercerita sambil menikmati makanan yang sama dengan sahabatnya.
"Terus,kamu ada rencana ke kantor polisi nggak? Buat nyari tahu?"
"Nggak tahu," Rianti menjawab dengan muka masam.
"Kenapa nggak tahu? harusnya kan kamu ke kantor polisi buat nyari informasi, masa nggak tahu?" sungut Tiwi kesal sendiri.
"Ya kan tergantung Dandi. Orang saksi utama kan dia, jadi ya aku tergantung dia aja."
Tiwi menatap lekat sahabatnya. Yang tadinya merasa kesal, wanita itu malah jadi merasa senang setelah mendengar jawaban dari Rianti. "Ceilah, udah keterganttungan sama Dandi nih."
"Apaan sih. Nggak lah."
"Hahaha ..." Tiwi malah terbahak. Di saat bersamaan, Agus datang menghampiri kedua wanita itu. "Gimana, Pah, sudah selesai?"
"Belum," Agus menjawab sambiul duduk di samping istrinya. "Ri, kayaknya malam ini kamu tidurnya harus di temani Dandi lagi deh."
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@...