TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Masih Di Malam Yang Sama


__ADS_3

"Apa? jadi dia beneran ayah kandung Reyhan?" pekik bu Farida dengan tatapan tak percaya kepada wanita yang kini sedang terduduk sembari menunduk. "Pantes wajahnya kok ya mirip banget. Terus tujuan dia datang ke sini kemarin mau ngapain? Mau menyakiti kamu lagi?"


Arimbi menggeleng pelan. "Aku nggak tahu, Bu. Entah niat dia apaan waktu tahu aku tinggal di kota ini?"


"Owalah, manusia kok kayak nggak punya malu. Udah punya salah, malah main kesini seenaknya," Bu Farida ngedumel. "Lah terus Reyhan tadi ngapain aja sama dia? Apa dia mempengaruhi anak sekecil ini? Apa dia sengaja datang untuk membuat onar agar hidup kamu dan anakmu nggak tenang? Kurang ajar emang!"


"Udah to, Bu, percuma marah kalau nggak ada orangnya. Yang ada nanti Ibu bisa darah tinggi," Pak Seno menasehati istrinya. "Alamatnya mana? Biar bapak datangi orang itu."


"Udah malam lah, Pak. Nggak enak sama tetangga kalau sampai ada ribut ribut," balas Arimbi sembari bangkit meraih anaknya yang masih rewel. Gantian dengan Bu Farida yang mungkin sudah capek karena sudah cukup lama anak itu berada dalam gendongannya.


"Tapi nanti anaknya lama diamnya, Mbi. Reyhan nggak pernah loh rewel kayak gini. Orang kalau demam aja lebih banyak diam," Pak Seno mencoba mendesak.


"Nggak usah lah, Pak. Nanti kalau udah capek juga pasti diam." Pak Seno pun pasrah. Seketika tiga orang dewasa itu terdiam dengan tatapan penuh rasa khawatir.

__ADS_1


Sementara itu masih di malam yang sama, namun di rumah yang berbeda, Eliza juga sedang mendapat ceramah sekaligus nasehat dari sang Paman. Eliza tidak menyangka, paman akan semarah itu kepada Randi.


"Maksudnya pria tak tahu diri nganterin kamu pulang tadi itu apa sih, Za? Kok kamu malah mau aja diantar cowok kayak gitu?" oceh Paman Iksan masih dengan kekesalannya.


"Aku juga udah nolak, Paman, tapi dianya maksa. Apa lagi didukung sama Taryo," jawab Eliza dengan sesekali membalas tatapan sang ]aman yang dipenuhi amarah.


"Apa Taryo nggak tahu dia siapa?" Eliza sontak menggeleng. "Owalah, mbok ya dikasih tahu, terus suruh Taryo ngasih pelajaran pada laki laki seperti itu."


"Ya nggak gitu juga kali, Pak," protes sang istri. "Bapak mau anak kita berurusan dengan hukum? Main hajar anak orang seenaknya."


"Tapi kan membalasnya nggak harus pakai kekerasan juga, Pak. Lagian Ibu lihat orang itu tadi udah minta maaf, dan ibu sih yakin kalau dia memang menyesali perbuatannya dulu."


"Halaah, menyesal. Kalau emang dia menyesal, itu seharusnya dari dulu dia datangi Eliza. Lah ini, udah lebih dari tiga tahun baru mau minta maaf dan menyesal. Terus kalau dia nggak tahu Eliza ada disini, apa dia ada niat mau mencarinya? Pastinya nggak."

__ADS_1


Istri pak Iksan menghela nafasnmya dalam dalam. Dia memilih mengalah daripada mengajak debat suaminya yang lagi emosi. Nasehat apapun tidak akan ada manfaatnya. Yang ada malah Paman Iksan akan terus membantah karena memang terlalu kesal. "Masuk ke kamarmu, Za, udah malam. Nanti kamu kesiangan lagi."


Eliza mengiyakan. Gadis itu lantas bangkit dari duduknya menuju ke kamarnya, kemudian istri Paman Iksan juga mengajak suaminya untuk istirahat daripada menahan kesal.


Masih di malam yang sama, tepatnya di toko buah yang juga menjadi tempat tinggal Rianti, wanita itu sedang terisak dalam dekapan sahabatnya. Begitu selesai memaki dan mengultimatum Dandi, sahabat Rianti yang tadi sempat salah paham langsung mendatangi wanita itu bersama suaminya. Mereka lantas saling meeminta maaf atas pertengkaran yang terjadi gara gara ulah seorang pria.


"Kok kamu nggak cerita sih kalau laki laki itu yang ngebatalin pernikahan kamu?" tanya Agus dengan wajah masih menyimpan kekesalan.


"Buat apa? Aku cuma nggak mau mengingat peristiwa itu," jawab Rianti.


"Ya senggaknya ngasih pelajaran buat dia lah. Udah seenaknya ngancurin hidup cewek, eh malah muncul kayak nggak punya dosa," sungut Agus lagi.


"Ya udah sih. Pah, nggak perlu marah marah. Tadi aja Papah diam waktu mamah maki maki cook brengsek itu. Eh giliran udah di sini, Papah udah kayak mau jadi pahlawan aja," dumel Tiwi yang kini kekesalannya dia lampiaskan ke suaminya. "Sekarang apa rencana kamu, Ri? Kamu nggak akan pergi lagi hanya gara gara ada cowok itu di kota ini kan?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2