
Malam itu, di teras rumah milik salah satu warga Di salah satu kampung, suasana tegang dirasakan oleh tiga orang yang sedang duduk di kursi yang ada di sana. Dua pria berbeda usia menatap seorang wanita dengan ketegangan yang berbeda beda, sedangkan si wanita menatap penuh kebencian kepada pria muda yang ada di tempat itu.
Jika pria tua yang dipanggil paman nampak tegang karena penasaran atas pertanyaan yang diajukan keponakannya, berbeda dengan Randi yang tegang karena kejahatannya akan terbongkar oleh wanita yang saat ini tersenyum sinis dengan segala amarah yang kembali bergejolak setelah dia menahan kesakitannya sendiri beberapa tahun lamanya.
"Katakan pada Paman, siapa orang telah menfitnah kamu?" pria yang akrab dipanggil Iksan itu sedikit mendesak sang keponakan. "Sepengecut apa orang laki laki yang tega menghancurkan pernikahanmu."
Elizza tersenyum kecut. Pikirannya kembali melambung pada kejadian dimana satu hari menjelang hari bahagianya, tiba tiba berantakan karena sebuah cerita bohong dengan bukti yang direkayasa. Padahal acara ijab menunggu dua belas jam lagi akan terlaksana. Tapi semua itu gagal, sang calon mempelai pria dan keluarganya memutuskan begitu saja untuk membatalkan pernikahan itu.
"Saya, Pak. Sayalah pria pengecut yang telah menghancurkan pernikahan Eliza," Randi akhinya memiliki keberanian untuk mengakuinya. Pria paruh baya yang sedari menatap sang keponakan langsung menoleh dengan tatapan membelalak.
"Apa!" pekik Iksan begitu lantang.
Randi menunduk dan mengangguk. "Saya orang itu. Orang yang telah menghancurkan pernikahan keponakan Bapak."
bugh!
Brak!
Sebuah hantaman dari tangan terkepal mendarat sempurna di pipi Randi hingga pria muda itu jatuh terjungkal dengan kursinya. Meski sudah tua, tenaga Paman Iksan masih mampu merobohkan pria itu. Eliza yang melihat san paman akan melampiaskan emosinya langsung menahan pria itu.
__ADS_1
"Lepaskan, Eliza, lepaskan! Pria seperti itu memang harus diberi pelajaran!" teriak Paman Iksan lantang sampai sang istri yang ada di di dalm rumah langsung keluar.
"Jangan begitu, Paman. Jangan kotori tangan praman untuk pria seperti itu!" balas Eliza sekuat tenaga menahan tubuh sang paman yang terus memberontak.
"Ya ampun! ini ada apa?" pekik istri Paman Iksan dengan wajah terkejutnya begitu keluar dari rumah.
"Itu, Bu, laki laki brengsek yang telah merusak pernikahan Eliza. Berani beraninya dia menampakkan wajahnya," seru Paman Iksan dengan segala emosinya yang tidak bisa dibendung.
"Apa!" sang istri memekik dan dia menatap pria yang sedang bersimpuh sembari menunduk. "Kamu!"
"Ampuni saya, Ibu, bapak, ampuni saya. Saya melakukan itu semua karena saya cinta sama Eliza," Randi mencoba memberi penjelasan.
Dagh!
"Sabar, Pak, sabar," Sang istri ikut menahan tubuh suaminya.
"Mau sabar bagaimana, Bu! Berani beraninya dia mengancurkan hidup seseorang tanpa perasaan hanya karena cinta? Apa dia tidak punya otak apa gimana? Lihat! akibat perbuatan anak itu, lihat!"
"Ibu, tahu, Pak. Ibu tahu. Tapi bapak jangan emosi kayak gini. Malu sama tetangga," hardik sang istri lalu dia menoleh ke arah Randi yang masih bersimpuh dilantai. "Siapapun kamu, mending kamu saat ini pergi. Tolong, jangan bikin suamiku makin emosi karena keberadaan kamu."
__ADS_1
Randi mendongak menatap tiga orang yang juga sedang menatapnya. "Aku tidak akan pulang sebelum aku dimaafkan, Bu."
"Benar benar mau cari mati kamu ya!" teriak sang paman.
"Mending kamu pulang deh, Kamu mau bikin malu pamanku!" kini Eliza yang membentak Randi hingga mau tidak mau, Randi pun perlahan bangkit.
"Baiklah, saya pulang. Maaf sudah membuat keributan di rumah bapak. Maafin juga saya yang telah menghancurkan pernikahanmu," dengan langkah gontai Randi meninggalkan teras itu menuju motornya. Tak lama berselang, keributan di depan rumah itu pun mereda seiring kepergian Randi.
Di malam yang sama, suasana tegang juga terjadi di dalam sebuah rumah, di kampug yang berbeda. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi suara rengekan seoang bocah sukses membuat tiga penghuninya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bocah itu merengek dengan mata terpejam tak lama setelah dia terlelap
"Ayah huhuu ... ayahh huhuu .."
"Apa Reyhan sedang memimpikan ayahnya, Mbi?" tanya pria tua dengan wajah khawatirnya.
"Nggak tahu, Pak, mungkin saja iya," jawab Arimbi sambil terus menimang nimang anaknya yang masih merengek.
"Ya tuhan, kasihan banget kamu, cucu nenek," rintih Bu Farida. "Seandainya ayah kamu mau bertanggung jawab, pasti nasib kamu ttidak seperti ini, Sayang."
Arimbi hanya terdiam. Meski dia tahu sekarang ayah dari anak itu sepertinya telah mengakui keberadaan Reyhan.
__ADS_1
...@@@@@@@...