
Siapapun orangnya pasti akan sangat sakit hati jika dituduh sebagai orang yang tidak benar. Terutama jika orang itu adalah wanita. Hanya karena memiliki seorang anak diluar nikah, anggapan sebagai wanita yang berkelakuan buruk langsung menempel tanpa tahu alasan yang terjadi pada wanita itu.
Sama halnya dengan apa yang dirasakan Arimbi saat ini, hatinya cukup sakit mendengar perkataan dari wanita yang duduk di meja belakangnya. Meski keduanya tidak saling kenal, tapi Arimbi tahu kalau yang dibicarakan wanita itu bernama Sintia adalah dirinya. Apa lagi lawan bicara Sintia adalah seorang Ibu dari pria yang beberapa bulan ini mengejar Arimbi.
Ingin rasanya Arimbi menyangkal dan membantah semua tuduhan yang datang kepadanya, tapi wanita itu cukup tahu diri, akan percuma jika Arimbi menceritakan semua yang menimpa dirinya kepada wanita yang tidak akan percaya dengan ceritanya. Arimbi memilih diam dengan segala gemuruh di dadanya.
Sama seperti Arimbi, Bu Farida juga merasa tidak terima dengan apa yang diucapkan Sintia. Meski Bu Farida tidak mengalaminya, tapi dia tahu bagaimana perasaan Arimbi saat ini. Wanita tua itu hanya mampu berusaha meredam amarah Arimbi agar bisa menahan rasa sabarnya lebih lama lagi.
Sedangkan Ibunya Mulyadi malah tersenyum cukup lebar mendengar ucapan Sintia. Tanpa perlu mengeluarkan makiannya, ucapan Sintia sudah sangat mewakili hati wanita itu untuk memberi ultimatum kepada wanita yang duduk di belakangnya. Ada rasa senang dan puas dalam hati Ibunya Mulyadi. Wanita itu sangat yakin kalau Arimbi sangat tersinggung dengan ucapan Sintia.
"Lalu, apa yang harus Tante lakukan, Sin? Mulyadi itu susah banget dibilangin. Setiap Tante ngomong, selalu dibantah. Dia terus terusan membela wanita itu. Benar benar Tante itu capek menghadapi anak Tante," ucap Ibunya Mulyadi dengan menunjukan wajah putus asanya.
__ADS_1
"Lah, Tante sudah pernah ketemu sama wanita itu belum?"
"Ya sudahlah. Awalnya sih terlihat kalau dia wanita baik baik. Tapi setelah tahu dia sudah punya anak tapi tidak pernah menikah, Ibu mana yang akan menerima wanita seperti itu begitu saja coba. Tapi Mulyadi terus saja ngotot kalau wanita itu adalah wanita yang baik. Sebel Tante mendengarnya."
Sintia nampak tersenyum lebar melihat kekesalan wanita yang ada di hadapannnya. Dia hendak membalas ucapan wanita itu, tapi gerakan mulutnya terhenti saat tiba tiba terdengar suara seseorang menggema di belakangnya dengan suara yang cukup keras.
"Ayah!" teriak seorang anak kecil yang sedang dalam gendongan seorang anak muda menuruni anak tangga yang ada di sana. Suara anak itu cukup keras sampai orang orang yang berada di ruangan itu menoleh ke sumber suara.
Jika Arimbi dan Bu Farida sangat antusias begitu mendengar suara bocah yang sangat dia kenal, berbeda dengan Ibunya Mulyadi. Wanita itu seketika mengerutkan keningnya saat melihat anak yang dia kenal menyebut kata ayah. dan wanita itu semakin dibuat terkejut saat seorang laki laki dengan wajah ceria menyambut anak ittu dan langsung mengendongnya.
Mendengar kata ibu sambil menunjuk ke salah satu arah, bocah laki laki bernama Reyhan sontak menoleh. "Ibu!" serunya. Sandi pun mengantar sang anak ke tempat ibunya berada.
__ADS_1
Tentu saja pemandangan seperti itu menjadi tontonan semua mata yang ada di sana, termasuk Ibunya Mulyadi. Wanita itu sungguh tidak menyangka dengan apa yang dia saksikan saat ini. Berbagai macam pertanyaan pun bermunculan dalam hatinya. Dengan segala pikiran yang sangat kacau, Ibunya Mulyadi memilih diam dan melanjutkan menikmati pesanannya yang belum lama ini telah tersaji di hadapannya.
"Wah, sepertinya Reyhan betah ya main sama ayah?" tanya Bu Farida. Tidak bermaksud menyindir tapi wanita yang ada di belakangnya justru merasa tertohok tatkala mendengarkan ucapan Bu Farida. "setelah ini kita pulang ya?" ucap Bu farida lagi.
Bocah yang sekarang dalam gendongan Arimbi nampak menggeleng dengan cepat. "Loh, kenapa Reyhan menggeleng? Reyhan nggak mau pulang?" tanya Arimbi dengan wajah terlihat cukup terkejut.
"Reyhan mau sama Ayah," balasan bocah itu cukup membuat Arimbi kesal. Sedangkan Sandi yang ada di sana malah tersenyum lebar mendengarnya.
"Ya Reyhan harus pulang dulu. Kasihan Ayah, kan capek, harus istirahat," Bu Farida mencoba ikut membujuk. Tapi melihat sikap bocah itu, sepertinya bujukan Bu Farida tidak akan mempan.
"Reyhan pulang dulu aja, ya? Besok main lagi sama Ayah, oke?" Sandi pun ikutan membujuknya dan nampaknya dia juga gagal. Terbukti, Reyhan langsung menggelang.
__ADS_1
"Sepertinya kalian memang harus menikah deh," celetuk Bu Farida sontak membuat terkejut orang yang mendengarnya.
...@@@@@@...