
Setelah melayani seorang pembeli, Arimbi segera masuk ke dalam rumah begitu pembeli pergi dari rumahnya. Dilihatnya, sang anak sedang asyik menikmati puding yang dibelikan kakeknya saat baru pulang dari pasar tadi. Arimbi pun mendekat k anaknya dan mencubit dengan gemas pipi anak itu. "Nanti, kalau Ayah kamu pulang ke kota, gimana cara ibu nenangin kamu, Rey?"
"Ya kamu sekalian ikut Sandi ke kota, Mbi. Biar nanti kamu nggak bingung kalau Reyhan rewel," celetuk Pak seno dari arah dapur lalu dia duduk di kursi yang ada di ruang tengah. "Daripada kamu bingung nanti kalau Reyhan rewel nyari ayahnya. Yang ada malah Sandinya nanti yang tidak tenang. Mending kamu ikut aja."
"Nggak lah, Pak," jawab Arimbi sembari duduk di kursi yang lain tapi masih satu ruangan dengan Reyhan dan Pak Seno. Arimbi hanya menjawab singkat tanpa memberi alasannya.
"Apa kamu benar benar sudah tidak peduli dengan keadaaan orang tua kamu?" pertanyaan dari Pak Seno terdengar santai, tapi cukup menohok hati Arimbi yang langsung bergetar di dalamnya. "Kalau sikap kamu nanti ditiru oleh Reyhan bagaimana?"
"Bukannya nggak peduli, Pak," bantah Arimbi. "Mereka juga pasti masih marah sama aku."
"Terus, kamu nunggu mereka marahnya reda? Atau nunggu mereka yang menghampiri kamu duluan gitu?" pertanyaan dari Pak Seno tidak langsung dijawab oleh Arimbi. "Kalau kamu menghendaki hal itu terjadi ya, berarti kamu egois. Kalau sesuatu yang buruk terjadi pada orang tua kamu, kamu juga tetap akan berprinsip seperti itu terus atau gimana?"
"Ya nggak gitu juga kali, Pak," Arimbi terlihat tidak terima mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Pak Seno, membuat pria itu malah terkekeh.
__ADS_1
"Hehehe ... emang kamu yang menentukan nasib seseorang, Mbi. Mungkin memang ibunya Sandi kemari bilang orang tua kamu baik baik saja, tapi nggak mungkin juga kan orang tua Sandi tahu yang sebenarnya keadaan orang tua kamu. Nggak mungkin juga selama tiga tahun kamu tidak ada, orang tuamu selalu sehat."
Arimbi memilih diam. Meski begitu hatinya tidak bisa memungkiri kalau dia juga merindukan orang tuanya serta memiliki rasa khawatir yang cukup besar. Apa yang dikatakan Pak Seno, cukup menggugah hati Arimbi yang selama ini bimbang setiap mengingat orang tuanya. Ada sisi egois Arimbi yang mengatakan kalau orang tuanya datang menjemputnya berarti masalahnya dengan orang tua selesai.
"Pulanglah bersama Sandi, Mbi. Jangan biarkan egoismu nanti akan membuat kamu menyesal dikemudian hari," ucap Pak Seno sambil menatap serius wanita itu. "Usia orang kedepannya tidak ada yang tahu. Semakin Reyhan bertambah besar, berarti usia orang tua kamu juga semakin tua."
Arimbi masih terdiam dan hatinya bergetar hebat saat ini.
Di hari yang sama, di rumah di sebuah rumah makan, tiga pria nampak sedang sibuk dengan tugasnya masing masing. Karena waktu yang memang sudah siang, jadi keramaian rumah makan itu semakin terlihat nyata. Bersama karyawannya mereka bahu membahu bekerja sama memenuhi semua pesanan para pembeli.
"Iya, Mas," jawab Dandi yang saat itu baru menyerahkan pesanan milik pembeli yang lain.Sedangkan pesanan milik tukang ojeg itu sedang ditangani oleh Sandi.
"Libur berapa hari, Mas? Nggak lama kan?" tanya tukang ojeg itu dengan wajah terlihat ada sedikit rasa khawatir. "Sayang aja kalau liburnya terlalu lama. Nanti jatah rejeki saya berkurang cukup banyak, Mas, hehehhe ..."
__ADS_1
"Hahaha ... bisa aja kamu, Mas," Dandi pun ikutan tertawa. "Kita nggak tahu mau libur berapa hari, soalnya urusan di kota juga nggak tahu kelarnya kapan. Tapi ya semoga aja cepat selesai. Biar bisa secepatnya kembali ke sini."
"Ya semoga aja ya, Mas. Soalnya sayang aja sih, Mas, kalau kelamaan. Aku aja bisa bolak balik ke tempat ini sampai lebih dari lima kali dapat orderan kan?"
Dandi lantas tersenyum. Dia juga cukup mengerti dengan apa yang dirasakan para tukang ojeg lainnya. Tak lama setelahnya, pesanan milik tukang ojeg itu sudah siap dan sedang di kemas. Setelah mendapatkan makanan yang dipesan sesuai dalam aplikasi, tukang ojeg itu pun pergi.
Di saat bersamaan, Sandi dan Dandi tak sengaja memandang ke arah bocah yang biasa bermain ke tempat tersebut. Mereka berdua cukup terkejut karena tidak biasanya, Reyhan di antar oleh Arimbi. Biasanya tukang ojeg yang mengantar anaknya, tapi kali ini Arimbi ikut datang.
"Ayah!" teriak Reyhan seperti biasanya. Sandi pun hanya tersenyum dan menunggu kedatangan bocah yang sedang berlari menuju ke tempat ayahnya.
"Wuih! Anak ayah udah wangi," puji Sandi saat anaknya sudah berada dalam gendongan.
"Iya, karena Reyhan mau ikut ayah ke kota."
__ADS_1
...@@@@@...