
Di saat Sandi dan Dandi masih asyik bercengkrama, mereka mendengar pintu kontrakan mereka terbuka dan ada suara lain yang berasal dari lantai bawah. Keduanya sangat yakin kalau suara itu berasal dari temannya yang baru saja pulang. Benar saja, tak lama setelahnya, Randi muncul di lantai dua.
Kemunculan Randi tentu saja membuat dua temannya langsung menunjukan raut terkejutnya. "Wajah kamu kenapa, Ran? Kok lebam gitu?" tanya Sandi begitu Randi duduk dan bersandar di sebelah kanannya. Dandi sendiri memilih diam karena apa yang ingin dia tanyakan sudah terwakilkan oleh sahabatnya. "Kamu habis berkelahi?" sambung Sandi.
Randi langsung saja mengiyakan. "Tadi ada orang yang akan berbuat sok jago demi bisa mendapatkan Eliza."
"Sok jago? Maksudnya?" tanya Sandi lagi. Randi lantas menceritakan semua kejadian yang baru saja dia alami. Randi juga bercerita tentang ide yang dia lakukan sampai berhasil membawa Rudi ke rumah Pamannya Eliza. "Astaga! hahaha ... kok ada ya pria kayak gitu?"
"Nah iya, aneh banget. Kok sempat sempatnya bikin skenario kayak gitu?" sekarang Randi yang mengeluarkan suaranya. "Lah kamu kenapa malah pulang duluan? harusnya kan nyaksiin sidang sampai selesai, pasti seru banget tuh."
"Udah terlalu malam tahu," balas Randi. "Lagian melihat perbuatan Rudi juga bikin aku malu. Dia bersandiwara demi mendapatlkan cinta Eliza, nah aku, malah bersandiwara demi ngancurin hidupnya."
Sandi dan Dandi yang semula tertawa cukup riang, langsung tertohok mendengar ucapan yang keluar dari mulut Randi. Dengan kata lain, mereka juga tersindir atas perbuatan mereka di masa lalu. Perbuatan ketiga pria itu sungguh menunjukan kalau mereka adalah pria paling pengecut saat itu.
__ADS_1
"Besok libur dagang dulu gimana? Pasti besok badanku bakalan pegel pegel nih," usul Randi tak lama setelah mengakhiri ceritanya. "Lagian kita sudah hampir satu bulan tidak libur, kan?"
"Ah iya, benar juga," Dandi ikut menimpali. "Ya udah kita besok libur sehari saja, gimana, San?"
Sandi sontak menngangguk beberapa kali. "Baiklah." Akhirnya kesekapatan pun dibuat. Setelah ketiga pria itu ngobrol cukup lama, ketiganya lantas satu persatu beranjak menuju kamar untuk beristirahat karena rasa ngantuk yang sudah mulai menyerang.
Sementara itu masih di malam yang sama dan jauh di tempat lain, tepatnya di sebuah kota besar, seorang pria nampak sedang menggerakan badannya mengikuti hentakan musik yang menggema memenuhi ruangan yang memiliki cahaya remang remang. Pria itu tidak sendiri, ada beberapa orang disekitarnya yang terdiri dari laki laki dan perempuan. Berjejer minuman beralkohol nampak tersaji di atas meja, dimana pria itu berada.
"Ayo, Tuan, minum lagi yang banyak. Kita nikmati malam ini dengan bersenang senang," seorang wanita menyodorkan gelas berisi minuman kepada pria yang duduk di sebelahnya. Pria itu sudah terlihat mabuk meski ucapannya masih sangat nyambung.
Pria bernama Rusdi itu langsung terkekeh. "Kenapa kamu masih manggil aku, Pak? Ini bukan di tempat kerja kan?" pertanyaaan yang keluar dari mulut Rusdi tentunya cukup membuat pria itu bingung dan salah tingkah. "Di kantor aku memang atasan kamu, tapi di sini kita teman," ucap Rusdi sambil menggerayangi tubuh wanita di sebelahnya.
Usia pria itu dengan Rusdi memang tidak terlalu jauh. Hanya saja status dan jabatan mereka yang mengharuskan pria tersebut dan juga temannya yang duduk disebelah pria itu lebih menghormati Rusdi sebagai atasan mereka.
__ADS_1
Rusdi terlihat menenggak habis minuman yang disodorkan oleh wanita di sebelahnya. "Kalian, tolong antarkan aku ke kamar ya?" permintaan tolong yang diucapkan Rusdi tentu saja membuat orang yang satu tempat dengan pria itu tercengang. Rusdi bukannya menunjuk dan meminta dua wanita yang menemaninya, tapi malah menunjuk dua karyawan yang saat ini ikut dengannya.
"Anda tidak minta diantarkan wanita wanita cantik di sebelah anda?" tanya salah satu pria dengan segala rasa terkejutnya yang masih terlihat jelas.
"Benar, Tuan. Biar saya saja yang mengantar Tuan ke kamar," salah satu wanita yang duduk di sebelah kanan Rusdi mendukung usulan anak buahnya.
"Kalian mau aku pecat!" bukannya setuju dengan usulan karyawannya, Rusdi malah mengancam kepada dua karyawannya. Maka itu, dua pria itu langsung setuju dan mereka dengan gesit membawa tubuh mabuk Rusdi menuju salah satu kamar yang letaknya di salah satu lantai, masih satu gedung dengan tempat remang remang bermusik keras tersebut.
"Kalian mengingatkanku pada seseorang," ucap Rusdi dengan suara yang ngelantur.
"Siapa, Pak?"
"Orang orang yang sudah menghancurkan hidupku. Sampai kapanpun, aku akan membuat hidup mereka tidak tenang!"
__ADS_1
Dua orang yang sedang membantu Rusdi hanya bisa saling tatap dengan banyak pertanyaan dalam benak mereka.
...@@@@@...