
"Mas Bos, kami pulang dulu ya?"
"Iya, hati hati," jawab Sandi sembari menatap dua karyawannya yang langsung menancapkan gas motor mereka menuju ke rumah masing masing. Sandi lantas menutup pintu utama rumah makan dan menguncinya. Saat semuanya selesai, Sandi menghampiri sahabatnya yang sedari tadi terdiam di tempat yang sama. "Jangan terlalu dipikirkan," ucap Sandi sembari menikmati mie rebus yang dia beli di pedagang seberang jalan.
"Gimana nggak mau dipikirkan, San? Namanya juga punya otak, ya pasti langsung masuk kalau ada masalah," jawab Dandi sesekali menyeruput kopi yang tadi dia minta dibuatkan oleh Sandi.
"Ya kan, dari pada pusing mikiran kesalahan yang sudah berlalu, bukankah mending mikirin jalan keluarnya?" balas Sandi.
Dandi menghela nafas yang terasa berat dan menghembuskannya secara perlahan. "Entah jala keluar seperti apa yang harus aku lakukan. Untuk mendekati Rianti aja, sekarang aku tidak punya wajah."
Sandi tersenyum kecut. "Ya kan mending dianggap tidak punya malu, yang penting niat kita baik. Menebus kesalahan kita di masa lalu. Apa lagi aku yang sudah jelas jelas memiliki anak. Setidaknya aku harus memikirkan dia juga."
Dandi mengangguk beberapa kali. "Kamu beruntung, ada anak yang bisa dijadikan alat bantu kamu mendekati arimbi. nah aku? Coba kalau aku dulu juga ngehamilin Rianti, mungkin jalanku lebih mudah untuk mendekatinya."
"Hahaha ..." tawa Sandi seketika pecah. "Emang kamu bakalan tahu kalau ke depannya akan kayak gini? Nggak kan? Kita aja yang dulu terlalu sombong dan egois. Sudah tahu perbuatan kita bisa menghancurkan masa depan orang, tapi ternyata, kita tetep melakukannya."
__ADS_1
Dandi menghela nafasnya salam dalam. "Lalu apa rencanamu ke depannya, San? Apa kamu akan menikahi Arimbi? Secara kalian kan sudah punya anak?"
"Yah, mungkin memang kita harus menikah. Tapi, aku harus bisa meluluhkan hatinya dulu."
Dandi membenarkan ucapan sahabatnya, dan dia juga bertekad akan berusaha lebih ketas lagi, berjuang agar Rianti juga luluh kepadanya suatu saat nanti.
Sementara itu di tempat lain, Randi sendiri saat ini sedang merasa gugup. Begitu Pamannya Eliza melempar pertanyaan untuknya, Randi masih bingung harus memberi jawaban seperti apa. Yang lebih mengejutkan lagi, Eliza yag diharap bisa membantunya, maalah melengos dan memilih masuk ke dalam rumah meninggalkan Randi bersama sang paman.
"Kenapa begitu tegang, cah bagus?" ucap sang Paman saat dirinya mendapati Randi nmpak begitu canggung dan trogi.
"Hahaha ..." suara tawa Paman langsung menggelegar dan terdengar menakutkan di telinga Randi yamg memang perasaannya saat ini sedang dilanda panik. "Ya kan itu kalau hanya berduaaan di rumah sampai malam, wajar menjadi bahan gunjingan. Bahkan kalau perlu harus digerebeg. Tapi kan ini ada orang tua, ya masih aman."
Randi lantas memgangguk sembari tersenyum tanggung. jawaban pamannya eliza memang cukup masuk akal. "Apa rumah kamu dekat dengan rumah orang tua Eliza?" tanya sang paman lagi. Randi memang akhirnya mengakui kalau dia berasal dari kota, makanya sang Paman meminta pria itu untuk singgah sejenak.
"Nggak, Pak. Ibaratnya kita bisa dibilang hanya tetangga kabupaten gitu," jawab Randi dan disambut anggukkan oleh sang paman.
__ADS_1
"Terus kalian saling kenal dari mana?" tanya sang paman lagi seperti sedang menyelidiki.
"Kita sama sama kuliah di tempat yang sama, Pak," balas Randi yang memang mengenal Eliza di kampus.
"Owalah, teman kuliah? Satu kelas atau berbeda?"
"Berbeda kelas, tapi kita satu angkatan."
"Oh, begitu? Yayaya, berarti kalian seumuran ya?" tanya sang paman lagi dan Randi mengiyakan. Setelah sang paman mengangguk beberapa kali, tiba tiba raut wajah pria tua itu berubah menjadi agak serius. "Zaya sebagai Pamannya cukup prihatin dengan yang menimpa keponakan saya itu. Yah, walaupun keluarga aku dan keluarga orang tuanya Eliza tidak begitu dekat, tapi sebagai paman, saya merasa berhak melindungi Eliza."
Randi menatap lekat pria yang tatapanya sedang memandang ke arah lain. Memang apa yang terjadi pada Eliza, Pak? Kok Eliza sampai pindah ke kampung ini?"
Sang paman tersenyum tipis dan membalas tatapan pria yang lebih muda darinya. "Harusnya dia saat ini sudah menikah, tapi karena perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab, sang calon pengantin pria memutuskan sepihak pernikahan mereka gara gara sebuah tuduhan kalau Eliza seelingkuh dan suka ganti ganti pria."
Deg!
__ADS_1