
Dari obrolan di pagi hari itulah, akhirnya tiga pria itu bertekad akan memperbaiki kisah masa lalunya demi sebuah masa depan yang lebih baik. Mungkin itu memang langkah yang tepat, karena, daripada mencari seseorang untuk merangkai masa depan tapi dihantui kesalahan di masa lalu, bukankah lebih baik memperbaiki masa lalu untuk kebaikan dimasa depan.
Kini seprti hari sebelumnya, ketiga pria itu sedang menyiapkan segala kebutuhan untuk usaha yang sedang mereka jalani. Mereka berbagi tugas sesuai tugas masing masing sembari membicarakan rencana mereka untuk menghadapi wanita wanita dari masa lalu mereka. Entah rencana apa yang akan mereka jalankan, tapi yang jelas, mereka tidak mau terus terusan menyandang status sebagai laki laki pengecut.
"Kalau kita sama sama ngejar wanita itu, lalu bagaimnana dengan usaha kita ini? Apa kita panggil salah satu tukang masak yang ada di kota?" Randi memberi usulan disela sela kesibukan mereka.
"Bener, tuh. Kita mana mungkin punya waktu untuk mengejar para wanita kalau waktu kita sendiri habis seharian disini," Dandi pun ikut bersuara.
"Ya terserah kalian saja enaknya gimana. Kalau urusan dapur butuh tambahan tenaga ya uddah kita gunakan saja orang dari kota. Tapi kita harus tahu keadan rumah makan kita di sana gimana?" kata Sandi menyetujui usulan dua sahabatnya.
"Ya udah nanti kalau sudah selesai, kita hubungi aja kantor utama kita," balas Dandi dan semuanya nampak setuju.
Mereka kembali fokus pada pekerjaan mereka hingga pukul sembilan pagi. Dua orang karyawan yang bekerja di sana berdatangan. Ada dua jam kerja yang bekerja di rumah makan tersebut. jam kerja pertama, dilaksanakan pukul semiban pagi sampai pukul tujuh malam, dan jam kerja kedua dilaksanakan pukul satu siang sampi tutup sekitar jam sembilan malam.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya slsandi begitu mereka telah seleai bersiap diri untuk jualan. Karena baru buka jadi tempat itu masih cukup sepi. Semua yang bekerja di sana masih bisa bersantai.
"Mau beli jus di tempat Rianti," ucap Dandi sambil melangkah dan tak ketingggal mulutnya cengengesan juga.
"Awas, nanti suaminya marah loh," ancam Randi menakuti nakuti.
"Ya nggak apa apa. Aku rebut aja sekalian. salah sendiri punya istri dua," tantang Dandi lalu dia menghilang dari balik pintu. Sandi dan Randi hanya geleng gelang kepala melihat kepergian Dandi yang terlihat sangat bercaya diri.
"Kalau aku modusnya apa ya? Buat deketin Eliza?" tanya Randi sembari menikmati cemilan berupa makaroni yang tidak terlalu pedas. "Masa iya, aku pura pura beli mie greng terus. Yng ada aku bosen."
Kening Randi sontak berkerut dan melirik sahabatnya. Sok tahu! Kenal juga enggak," sungut Randi.
"Loh, kamu perhatikan saja deh. Eliza kalau menjelang jam sembilan malam, pasti nggak keliahatan kan? Besar kemungkinan dia jam segitu udah pulang. Karena dia cewek jadi nggak mungkin jualan samapi tengah malam kayak saudaranya."
__ADS_1
Alis Randi terangkat satu, pertanda kalau dia sedang mencerna ucapan sahabatnya. "Benar juga ya," balas Randi. Namun tak lama setelahnya wajah Randi nampak berbinar. "Ah, aku tahu, aku tahu caranya gimana mendekati Eliza. hahaha ... yess!"
Sekarang gantian Sandi yang mengerutkan keningnya. Dua karyawan yang sedari tadi duduk di kursi depan juga sempat heran melihat sikap aneh salah satu bosnya. "Gimana caranya?" tanya Sandi ingin tahu.
"Ada deh," balas Randi sok misterius, membuat Sandi merasa sedikit kesal.
Sementara itu, Dandi sekarang sudah sampi di toko buah yang dikelola Rianti. Selain menyediakan buah segar, toko tersebut juga memang menjual jus buah. Ada jus buah yang dibuiat secara dadakan, ada juga jus buah yang sudah di kemas ke dalam gelas plastik. Jus yang sudah di kemas, terbuat dari buah buahan yang sudah terlalu matang. Jadi daripada busuk dan mubazir, Rianti menyiasatinya dengan membuat jus dalam kemasan dan di jual dengan harga dua ribu rupiah per gelasnya.
Melihat pria yang baru datang, Rianti langsung memasang wajah galaknya. Sedangkan Dandi pura pura bersikap biasa saja, bahkan cenderung cuek. "Mau apa lagi kamu ke sini?" tanya Rianti ketus.
"Mau beli jus, Mbak," balas Dandi santai. "Jus mangga satu."
Tanpa mengiyakan, Rianti langsung bersiap meracik jus pesanan Dandi. Sedangkan Sandi diam diam bepikir mencari cara agar bisa ngobrol dengan wanita penjual buah lebih lama lagi. Hingga saat mata Dandi melihat tumpukan gelas jus di lemari pendingin yang ada di sana, Dandi tiba tiba memiliki ide yang cukup bagus untuk menjalankan rencana pendekatannya.
__ADS_1
...@@@@@...