
Akhirnya setelah melalui bujukan yang cukup sulit, Reyhan mau pulang bersama Ibu dan Neneknya. Dengan menggunakan iming iming jajan di sebuah mini market, anak kecil itu akhirnya pulang dengan hati yang cukup senang. Memang tidak ada hal yang lebih menyenangkan bagi anak kecil selain dibelikan jajan dan juga mainan. Begitu juga yang dirasakan Reyhan saat ini.
Arimbi sendiri sebenarnya tidak terlalu suka Reyhan dimanja seperti itu. Dia tadi sempat protes agar Sandi tidak terlalu memanjakan anaknya, tapi Sandi sebagai seorang ayah, malah tidak mau menuruti larangan wanita itu. Bagi Sandi yang penting sang anak bisa terdiam dan mau diajak pulang.
Beruntung di sana ada Bu Farida yang menengahi. Meskipun Bu Farida tidak mendukung sepenuhnya dengan perlakuan Sandi kepada Reyhan, tapi melihat keadaan Reyhan yang tidak mau pulang, wanita itu terpaksa setuju dengan sikap Sandi yang masih dalam batas wajar.
Sedangkan wanita yang sedari menyindir Arimbi, pulang dengan segala rasa penasaran yang membuncah di dadanya. Meski begitu, dia juga sudah tidak sabar ingin memberi tahu putra kebanggannya tentang kenyataan yang baru saja dia lihat saat berada di warung makan khas sunda tadi.
"Mul! Mulyadi!" wanita itu langsung berteriak mencari anaknya begitu sampai rumah. Tadinya dia akan datang dengan wanita yang dia calonkan untuk anaknya, tapi wanita bernama Sintia pamit pergi terlebih dahulu karena ada panggilan dari orang tuanya. Jadi Ibunya Mulyadi memilih pulang pakai ojeg.
"Ada apa sih, Bu, teriak teriak segala, kayak di hutan aja," gerutu suaminya yang merasa terganggu dengan teriakan sang istri. Pria itu sampai meninggian suara televisi yang dia tonton karena sempat terganggu dengan teriakan istrinya.
__ADS_1
"Mulyadi mana, Pak? Ibu mau ngomong sama dia," baru saja namanya disebut, pria yang sedang dicari oleh ibunya terlihat keluar dari kamar. Rambutnya nampak basah. Mungkin saja pria itu baru saja mandi beberapa menit yang lalu.
"Ada apa sih, Bu, teriak teriak, berisik banget," gerutu sang anak sambil duduk di kursi yang lain tapi masih satu ruangan dengan ayahnya.
Wanita yang sedari tadi teriak teriak juga ikutan duduk di sebelah anaknya. "Ibu dapat kabar bagus. Kamu harus tahu dan semoga kabar ini bisa membuka mata hati kamu."
Kening Mulyadi sontak berkerut. Meski dia tahu apa yang akan dibicarakan sang ibu, Mulyadi memilih diam tak memprotesnya. Pria itu juga cukup penasaran dengan apa yang akan dikatakan ibunya. "Ada apa emangnya, Bu?"
"Tadi Ibu pergi sama Sintia ke rumah makan yang lagi rame itu, kamu tahu nggak apa yang ibu lihat?" Dengan malas Mulyadi mengangkat kedua pundaknya. "Tadi aku lihat anaknya Arimbi sedang bersama ayahnya," ucap Ibu dengan sangat anutias. Tapi kabar itu sangat tidak mengejutkan bagi Mulyadi. "Kok kamu terlihat biasa saja?"
"Aku juga tahu, Bu, kalau pemilik warung makan itu adalah ayahnya Reyhan, lalu apa hubungannya dengan aku?"
__ADS_1
Justru sang ibu yang dibuat terkejut begitu mendengar ucapan anaknya. "Kamu udah tahu? Tapi kok kamu masih mengharapkan Arimbi?"
"Emang apa salahnya sih, Bu kalau aku masih mengharapkan Arimbi? Toh, wanita itu tidak sejelek dengan apa yang ada dipikiran Ibu," lagi lagi Mulyadi tidak dapat menyembunyikan rasa kesalnya.
"Kamu sadar nggak sih, Mul? Astaga! Susah banget ngomongin kamu! Atau jangan jangan kamu juga sudah tidur dengan Arimbi sampai kamu nggak mau ninggalan wanita seperti itu!" melihat Ibunya yang langsung meluapkan amarahnya, Mulyadi memilih segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang sangat kesal.
"Emang Arimbi itu siapa, Bu? Kok bapak baru tahu kalau anak kita dekat dengan cewek?" Ayahnya Mulyadi baru membuka suaranya setelah sang anak sudah menghilang dari pandanga mereka. Wanita itu lantas menceritakan semuanya tentang Arimbi yang dia tahu termasuk fakta saat wanita berada d rumag makan milik Sandi.
"Bingung aku, Pak," ucap sang ibu terlihat putus asa.
"Udah, jangan terlalu bingung, nanti kita cari sama sama jalan keluarnya," usul sang suami dan hal itu langsung mendapat persetujuan dari istrinya.
__ADS_1
Di waktu yang sama tapi di tempat berbeda, para pengunjung rumah makan yang didiirikan tiga pemuda masih saja di datangi para pembeli. Sore ini, pengunjung lebih banyak yang datang daripada beberapa hari kemarin. Di saat Randi sedang menaruh hasil olahanyya ke dalam piring yang tergeletak di atas meja, matanya menangkap wanita yang sedang dia kejar, sedang bersama pria lain memasuki rumah makannya.
...@@@@@...