TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Pertemuan Antar Sahabat


__ADS_3

"Eliza!" mendengar suara yang cukup kencang dari arah jalan raya, wanita yang saat ini sedang sibuk membantu saudaranyaa menggelar lapak dagangannya merasa terpanggil. Lantas wanita itu langsung saja menoleh ke arah suara itu berasal. Mata Eliza seketika langsung membelalak saat matanya menatap orang yang dia kenali berada di dalam mobil sambil tersenyum dengan sangat lebar.


"Ayunda! Iren!" seru Eliza. "Sini mampir!"


Wanita yang tadi berteriak memangggil Eliza sontak membentuk bulatan dengan jempol dan jari telunjuknya, kemudian dia memilih menepikan mobil selagi lampu masih dalam keadaan merah. Begitu kedua wanita itu turun dari mobil, kehebohan langsung tercipta diantara tiga wanita yang ada di sana. Bahkan karena terlihat sangat heboh, ketiga wanita itu sampai menjadi pusat perhatian orang orang di sekitar termasuk Taryo, suadaranya Eliza.


"Kalian habis darimana? Kok bisa sampai di kota ini?" tanya Eliza setelah mengajak kedua temannya untuk duduk di bangku panjang yang biasa digunakan para pembeli yang membeli nasi goreng dan makan di tempat itu.


"Dari rumah Eyang. Kamu kan tahu, rumah Eyangku ada di ibu kota kabupaten ini. Aku sengaja ngajak Iren, buat temen," jawab Ayunda.


"Ah iya, aku ingat," jawab Eliza singkat.


"Kamu ternyata sembunyi di sini, Za? Kita pikir, kita nggak akan ketemu lagi. Kita sempat nyari kamu kemana mana loh," ucap Ayunda.


"Hehehe ... maaf. Kalian masih sering main ke rumah?" tanya Eliza.


"Ya sekarang sih udah jarang. ngapain ke rumah kamu kalau kamunya nggak ada. Emang kamu nggak kangen rumah gitu?" tanya Ayunda.

__ADS_1


"Ya pasti kangenlah," Iren malah yang menjawab. "Kamu nggak kasihan gitu sama orang tua kamu? Terakhir aku lihat tiga bulan yang lalu, ibu kamu agak kurusan."


Hati Eliza mencelos begitu mendengar kabar keadaan wanita yang telah melahirkannya. "Tapi mereka telah mengusirku, Ren. Aku nggak mau, mereka semakin membenciku jika melihat wajahku."


"Ya jangan begitu dong, Za. Biar bagaimanapun mereka orang tua kamu, nggak mungkin mereka membenci kamu sedalam itu. Apa lagi mereka sudah tahu semuanya kalau itu hanya fitnah yang dilakukan Randi dan teman temannya," ucap Iren.


"Apa Randi pernah datang ke rumahku?" tanya Eliza.


"Kayaknya sih belum, tapi temannya yang bernama Rusdi yang pernah aku lihat datang ke rumah kamu. Saat itu aku sedang ngantar kue, oleh oleh dari Mamahku," Ayunda yang menjawabnya.


"Dan kamu tahu nggak, Za? Calon suami kamu itu sangat menyesal loh ninggalin kamu gitu aja. Tapi ada untungnya juga sih dia ninggalin kamu," Iren tiba tiba bercerita.


"Emang dia kenapa?" Eliza jadi penasaran dengan kabar mantan kekasihnya yang gagal jadi suaminya itu.


"Satu bulan setelah dia membatalkan pernikahannya dengan kamu, dia nikah dengan cewek lain dan kamu tahu nggak? Cewek itu udah hamil dua bulan lebih."


Apa!" mata Eliza langsung membelalak begitu mendengar kabar mantan kekasihnya. "Yang bener, Yun? jadi dia ..."

__ADS_1


"Tepat! kamu diselingkuhin. Untung kalian nggak jadi nikah. Coba kalau kamu jadi nikah, paling kamu bakalan dipoligami."


"Sialan! Kok bayu munafik banget ya?" Eliza langsung terpancing amarahnya. "Kalian ingat nggak, omongan dia dan keluarganya saat menghina aku dan keluargku? Katanya aku cewek murah meriah dan gampangan, eh nggak tahunya dia yang gampangan. Kurang ajar."


"Hahahah ..." suara tawa Ayunda dan Iren pecah bersamaan. "Kita juga datang kepernikahannya loh, dan kita buat malu keluarga Bayu," ucap Ayunda.


"Hah! Gila! Kalian serius?"


"Serius lah. Kalau ada kamu, pasti kita bakalan puas banget. Sayangnya kamu malah pergi duluan, huu .." Eliza sontak ikutan tertawa dan kehebohan masih berlanjut.


"Eh, di depan ada warung seblak tuh," tunjuk Iren yang matanya saat itu melihat rumah makan di seberang jalan lapak jualan Eliza. "Kita ke sana yuk, pengin makan yang pedas pedas."


"Nggak ah, kalian aja yang kesana. Aku harus bantuin saudaraku jualan," tolak Eliza dengan alasan yang sebenarnya masuk akal. Tapi di balik itu, ada alasan Lain yang lebih bisa mengejutkan dua temannya.


"Nggak bisa! Kamu harus ikut!" Iren sudah pasti tidak terima dengan penolakan yang Eliza lakukan. "Kita itu udah lama nggak seru seruan bareng. Ayo!"


Karena ditarik tangannya oleh kedua sahabat lamanya, mau tidak mau Eliza ikut mereka ke rumah makan di seberang jalan. Firasat Eliza sudah tidak enak saat langkah kakinya perlahan mendekati tempat tujuan. Dan benar saja, begitu kaki mereka memasuki warung makan itu, mata ketiga wanita langsung melihat sosok laki laki yang sangat mereka kenal.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2