
Sandi terlihat begitu lega saat berhasil menyerahkan anaknya ke keluarganya. Meski cara mendapatkannya salah, Sandi cukup senang karena keluarganya mau menerima Reyhan yang merupakan cucu pertama di keluarrga mereka. Begitu pamit kepada Reyhan dan anaknya terlihat tidak rewel, Sandi langsung saja keluar dari kamar.
Kening Sandi langsung berkerut karena begitu keluar dari kamar, dia melihat Randi sedang duduk dengan tiga wanita, dan Sandi sangat mengenal tiga wanita itu. Sandi bahkan seperti mendengar suara hati Randi yang sedang berteriak minta pertolongan ketika mata keduanya saling bertatapan. Sandi hanya bisa menyeringai jahat tanpa ada niat memberi pertolongan. Dia segera saja beranjak menuju ke lantai bawah.
"Loh, kamu sendirian? Reyhan mana?" tanya Dandi yang saat itu sedang duduk melamun karena sudah agak santai dalam melayani pembeli.
"Reyhan sama orang tuaku," jawab Sandi sembari duduk di kursi yang ada di sebelah Dandi. "Kirain rame, tadi Randi memanngilku."
"Udah agak santai ini, udah sore juga. Emang Randinya mana? Kok tidak ikut turun?"
"Loh, emang kamu nggak tahu?" tanya Sandi cukup terkejut dengan pertaanyaan yang Dandi lontarkan. Dandi langsung menggeleng dan wajahnya seperti orang bingung. "Randi di atas, lagi duduk bareng Iren, Ayunda dan Eliza."
"Hah!" seru Dandi. "Pantas, tadi ada yang pesan, tapi maksa pada kami, agar Randi yang nganterin pesanan itu. Rupanya trio barbar ngumpul? Hahaha ... bakalan diulek habis itu Randi."
"Hahaha ... tadi juga aku lihat, wajah Randi tegang banget gitu."
Di saat dua temannya sedang terbahak, Randi justru sedang menahan rasa gugupnya menghadapi teman teman Eliza. Dulu, Randi pernah sekali disidang sampai tidak berkutik oleh mereka, saat ketahuan kelakuannya. Sekarang entah apa lagi yang akan dia terima. sepertinya Randi sudah sangat pasrah.
"Kok kamu bisa kepikiran buka usaha di sini sih, Ran?" tanya Ayunda. Nadanya sih biasa saja, tapi justru ini awal jalan yang akan membuat Randi mati kutu tak berkutik nantinya.
__ADS_1
"Ya kebetulan aja Sandi yang punya ide untuk buka usaha di kota ini," jawab Randi dengan sikap setenang mungkin.
"Oh karena Sandi? Bukan karena ada Eliz
za di kota ini?" pertanyaan menjebak dari mulut wanita mulai dilontarkan dan Randi harus hati hati dalam memilih jawaban.
"Aku malah tidak tahu kalau Eliza ada di kota ini," wanita yang namanya baru saja disebut malah bersikap acuh sambil menikmati hidangannya.
"Masa sih nggak tahu? Kan jualan kalian berhadapan gitu?"
Seirus!" Randi terlihat meyakinkan. "Itu saja aku baru tahu saat Eliza hendak ke masjid."
"Ya pastinya ada, tapi bukan rencana seperti dulu lagi," Randi benar benar memikirkan jawaban yang harus bisa membuat sahabat Eliza percaya kalau pria itu sudah berubah.
"Rencana apa lagi? Apa rencana untuk melakukan hal yang lebih parah dari yang sudah pernah kamu lakukan?"
"Bukan," bantah Randi. "Kalian tanya aja rencanaku sama dia." Randi malah menunjuk ke arah Eliza.
"Loh, kok aku?" protes Eliza. "Ngapain aku di bawa bawa?" dari wajahnya jelas sekali kalau dia tidak terima dengan ucapan Randi.
__ADS_1
"Ya emang kamu tahu, kan, tujuan aku mendekati kamu. Bahkan Paman kamu aja niat sekali mendekatkan kita berdua," Randi benar benar menggunakan peluang yang ada agar terhindar dari perbuatan bar bar dua teman Eliza itu. Cukup dulu saja Randi dibuat malu oleh mereka di depan teman temannya selain Sandi dan Dandi.
Iren dan Ayunda yang semula ingin mengerjai Randi, langsung tercengang begitu mendengar ucapan pria itu. "Paman Eliza ingin mendekatkan kalian?" tanya Iren dengan tatapan menyelidik kepada dua orang yang duduk di beda tempat tapi masih satu meja.
"Kamu di sini ikut siapa sih, Za?" tanya Ayunda di tengah tengah rasa penasarannya dengan ucapan Randi tadi.
"Eliza itu di sini ikut pamannya. Dan Pamannya itu nyuruh aku untuk jagain eliza, karena Eliza disini banyak cowok yang gangguin. Ya, aku tentu mau aja dong."
"Hah!" seru dua sahabat Eliza dengan rasa terkejut yang hadir kembali. Bagaimana kamu bisa dekat dengan Pamannya Eliza?" tanya Iren.
Ayunda menoleh ke arah Eliza. "Za, emang kamu nggak cerita ke Paman kamu tentang perbuatan buruk pria ini, sampai kamu pergi dari rumah?"
"Eliza tidak cerita, tapi aku yang memberitahukan tentang perbuataanku kepada Pamannya."
"Apa! kamu serius?"
"Seriuslah! Bahkan aku dan Eliza akan dinikahkan."
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@...