TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Saran Sahabat Dekat


__ADS_3

"Aku tuh cukup senang kamu ada yang menjaganya, Ri. Walaupun Dandi pria brengsek, sebagai sesama laki laki aku tahu, kali ini dia itu sungguh sungguh ingin berubah. Maka itu, mending kamu nikah lagi aja sama Dandi."


Dua wanita yang ada di tempat yang sama, menunjukkan reaksi yang sama pula, begitu mendengar ucapan dari satu satunya pria yang ada disana. "Kamu kok nyaranin Rianti begitu sih, Pah? Papah tahu kan cerita Rianti dengan cowok itu gimana?" tanya Tiwi dengan suara yang cukup lantang karena begitu terkejut dengan ucapan suaminya.


"Ya, Papah tahu, tapi coba deh Rianti mikirin masa depan dia. Apa iya, Rianti nggak iri sama kamu, Mah? Kamu udah punya anak satu, sedangkan Rianti masih tenggelam dengan kisah masa lalu. Terus kapan berubahnya?" Rianti masih terbungkam. Namun pikirannya jelas sekali mencerna ucapan suami dari sahabatnya itu. "Ri, kalau kamu terus berpikir buruk dan nggak mau membuka diri, bisa bisa kamu nggak akan pernah nikah sampai kamu tua."


Meski terdengar kejam, apa yang dikatakan Agus ada benarnya. Bahkan kritikan yang pedas memang sesekali dibutuhkan untuk seseorang, bukan untuk menyakiti, tapi untuk memacu orang agar bisa bertindak maupun bersikap lebih baik lagi. Begitu juga dengan Rianti. Selama tinggal di kota kecil ini, tidak ada bebas yang memberi perhatian, kritikan dan lain sebagainya kecuali Tiwi dan suaminya, sampai membuat Rianti nyaman dalam kubangan masa lalu.


"Tapi apa yang dikatakan Mas Agus ada benarnya sih, Ri. Kamu terlalu menutup diri dengan laki laki," kini Tiwi juga mencoba memberi nasehat setelah tadi sempat mencerna ucapan suaminya. "Selama ini, kamu menolak beberapa pria hanya karena kamu masih trauma dengan masa lalu kamu bukan?"


Tidak ada respon dari wanita yang diajak berbicara. Wanita itu sendiri juga bingung mau memberi respon seperti apa, karerna yang dikatakan suami istri itu memang benar adanya. Rianti masih terbelenggu dengan kisah masa lalu yang menyakitkan dan dia membentengi diri kepada setiap pria yang mencoba mendekatinya.

__ADS_1


"Apa kamu dimasa lalu dengan Dandi pernah melakukaan hal yang lainnya, Ri?" tanya Agus yang membuat Rianti semakin terkejut. Bahkan wanita itu sampai menatap suami dari temannya itu dengan tatapan penuh tanya tapi juga otaknya memikirkan ke arah sesuatu.


"Hal yang lainnya? Maksudnya, Pah?" Tiwi yang melempar pertanyaan.


"Mamah pasti tahu lah, hal apa yang dimaksud. Kebanyakan jaman sekarang kan pacaran banyak yang melewati batas. Entah pada akhirnya berjodoh atau tidak, banyak pasangan yang statusnya pacaran tapi sudah berbuat layaknya suami istri."


Mata Tiwi sontak membulat dan pandangannya langsung dia lemparkan ke arah sahabatnya. Rianti sontak saja ikutan membelalak dan dia seketika menjadi agak gugup. Tatapan Tiwi memang menutut sebuah penjelasan, tapi Rianti tidak mungkin akan mengakui dan membuka aibnya sendiri.


"Ah iya benar!" seru Tiwi. "Ucapan suamiku ada benarnya juga. dari pada kamu pusing mencari cowok yang kedepannya belum tentu mikirin keadaan kamu dan mau menerima kamu apa adanya, bukankah lebih baik kamu kembali dengan laki laki yang mau menerima kamu dan masa lalu kamu, Ri?"


"Kalian sebenarnya lagi bahas apa sih?" Rianti yang sedari tadi lebih banyak diam, memilih menghindar dari pembicaraan yang membahas tentang hidupnya. Biar bagaimanapun meski Rainti memang butuh nasehat, tapi jika pada ujungnya seperti dipojokkan, Rianti pun merasa jengah juga.

__ADS_1


"Kamu itu, kalau dinasehatin susah banget," sungut Tiwi yang mendadak kesal karena sikap Rianti seperti tidak peduli dengan segala nasehat dari dirinya dan suaminya. "Mbok ya didengarin, diresapin, direnungin. Orang diomongin benar benar kok malah kayak gitu."


"Hahaha ..." Rianti terbahak. "Makasih sahabatku yang baik, yang cantik, yang bijaksana. Aku pasti akan memikirkan nasehat kamu, oke?" Rianti mala bersikap centil sampai membuat Tiwi mendengus. Sedangkan Agus hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istri dan Rianti yang sedang saling debat dan saling ledek. Padahal hanya dua orang, tapi ramainya seperti orang satu pasar.


Tak jauh dari keberadaan mereka bertiga, tepatnya di seberang jalan, ada beberapa mata sedang melempar pandangannya ke arah toko tersebut. Salah satu dari pemilik mata yang ada di sana, bahkan menunjukan tatapan penuh amarah dan kebencian.


"Itu tempat wanita yang aku ceritakan tadi."


"Cantik juga. Baiklah, kita terima tawaranmu. Nanti malam kita eksekusi dia."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2