
"Tadi kita sedang membicarakan tentang pernikahan kita, Paman. baru rencana sih, jadi dia ngancam aku supaya tidak bilang bilang ke yang lain dulu, termasuk Paman." Eliza langsung mendelik, tapi Randi pura pura tidak melihatnya dengan cara mengalihkan pandangannya ke arah Paman Iksan yang saat ini sedang tersenyum lebar, setelah mendengar kebohongan Randi yang sangat meyakinkan.
"Benarkah?" Paman Iksan terlihat antusias. "Akhirnya keponakan Paman mau mikah juga, biar nggak jadi perawan tua. Emang kapan rencananya? Paman harus tahu loh, karena di sini, Paman sebagai orang tua Eliza."
"Apaan sih, Paman," Eliza semakin terlihat kesal.
"Secepatnya, Paman. Setelah aku mendatangi orang tua Eliza untuk minta restu," Eliza semakin melongo, sedangkan Paman Iksan terlihat semakin kegirangan.
"Bagus! Itu namanya baru lelaki sejati. Ya udah, niat baik kalian segera saja dilaksanakan, biar ngggak ada fitnah. Apa lagi kalian sudah memasuki usia yang cukup matang unuk nikah, bukan?"
"Beres, Paman. Kalau begitu, aku pamit dulu," Randi pun langsung meninggalkan rumah Eliza dengan hati riang. Berbeda dengan Eliza, wwanita itu menekuk wajahnya lalu mengikuti ajakan Paman Iksan untuk masuk ke dalam rumah.
"Apa benar kamu udah siap nikah?" tanya Bibi begitu memasuki kamar Eliza. Mendengar kabar dari suaminya tentang Eliza yang sudah mau menikah, tentu saja menjadi kabar yang menyenangkan buat keluarga kecil itu. "Syukur lah, Za. Akhirnya kamu mau nikah juga. Bibi capek mendengar gunjingan para tetangga yang selalu tanyain kamu."
Eliza yang tadi hendak membantah pertanyaan Bibi langsung mengurungkan niatnya begitu mendengar ucapan Bibi tentang gunjingan para tetangga. "Emang kenapa, Bi?"
__ADS_1
Si bibi tersenyum sembar duduk di tepi ranjang. "Ya para tetangga kan sering lihat, banyak anak laki laki main ke sini sejak kamu tinggal di sini. Mereka pikir ya itu pacar kamu, tapi sampai sekarang malah kamu masih sendirian. Apa lagi usia kamu juga sudah pantas untuk nikah menurut warga kampung."
Eliza nampak mengangguk beberapa kali. Dia tentu tahu dengan keadaan di sini, memang berbeda dengan kehidupan di kota. Apa lagi di komplek tempat tinggal Eliza, kebanyakan tetangganya lebih banyak yang tidak kenal satu sama lain. benar benar semuanya berbeda jauh. Baik dari hal yang positif, ataupun yang negatif.
"Rencananya, pernikahan kamu akan digelar di sini, apa di kota, Za?" Eliza yang sedari tadi terdiam sontak terkesiap mendengar pertanyaan Bibinya. Lalu dengan pelan dia menggeleng. Sikap Eliza membuat Bibi kembali tersenyum. "Kalau orang tua kamu masih marah dan tidak mau merestui, kamu nikah disini saja. Nanti biar Paman yang menjadi wali kamu. Sudah jelas bukan, kalau yang sedarah dengan ayah kamu ya Paman."
"Entahlah, Bi, aku lelah. Aku belum bisa berpikir jernih," jawab Eliza sambil membaringkan tubuhnya dan memunggungi si bibi.
Bibi kembali tersenyum sembari mengusap lembut keponakannya. "Tidurlah. Semoga setelah ini, tidak ada hal buruk lagi yang menimpa kamu, Za." mendengr ucapam Bibi, Eliza malah merasa terharu. Bahkan airmatanya menetes beberapa kali. Sudah pasti, dia jadi teringat akan orang tuanya dan segala hal yang sudah dia lalui sejak gagal nikah.
"Jadi kamu akan menemui orang tua Arimbi?" suara yang keluar dari mulut Dandi jelas sekali terdengar saat Randi memasukan motor ke dalam garasi. Matanya menangkap dua sosok sahabatanya yang nampak sedang ngobrol di sana. Rumah makan telah tutup dan dua karyawannya juga telah pulang.
"Ya mau tidak mau aku harus menemui mereka. Apa lagi orang tuaku sudah memberi ultimatum," ucap Sandi.
"Ada apa? kok kayak serius banget?" tanya Randi begitu dia menghampiri dua sahabatnya dan ikutan duduk di kursi yang mengelilingi satu meja di sana.
__ADS_1
"Ini, si Sandi disuruh segera menamui orang tua Arimbi. Sudah dapat lampu hijau dari Om Suryo," Dandi yang menerangkan.
"Wahh! Enak dong, orang tua kamu sudah ngasih restu," seru Randi.
"Maka itu, aku lagi bingung soal waktu untuk menemui orang tua Arimbi. Mana Papah ngasih ultimatum agar aku bertindak secepatnya lagi."
"Emang Papah kamu belum pulang?" tanya Randi lagi.
"Ya belum, mereka nginep di hotel. Besok mau ngajak Reyhan piknik. Semangat banget, begitu udah tahu punya cucu, Papah sampai lupa sama pekerjaanya."
"Hahaha ... orang tuaku gitu juga kali ya nantinya," sahut Dandi.
"Ya udah, kita pulang aja dulu. Aku juga harus secepatnya ngasih tahu orang tua Rianti kalau kami akan segera nikah."
"Hah!"
__ADS_1
...@@@@@...