
Rianti sungguh dibuat tidak percaya dengan cerita yang baru saja dia dengar. Bukannya Rianti tidak percaya kepada pria yang bercerita tentang kisah masa lalunya, tapi wanita itu merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Seorang sahabat mau menusuk sahabat yang lain demi menutupi aibnya sendiri. Benar benar cerita yang diluar dugaan.
"Lalu, kalian nggak membalas perbuatan Rusdi?" tanya Rianti lagi. sepertinya kisah yang Dandi ceritakan lebih menarik daripada tujuan mereka duduk berdua itu untuk apa. Mungkin sekedar hiburan dan juga sebagai pencair suasana agar tidak terlalu serius dan tegang.
"Kami sempat akan membalasanya. Bahkan kami sudah memiliki bukti bukti yang kuat untuk menghancurkannya. Namun beberapa hari kemudian, kami sadar, kami tidak perlu membalas perbuatan jahatnya. Terus, saat itu juga kami sedang fokus merintis usaha kami bertiga. Ya, walaupun Rusdi masih mengganggu kami, tapi kami memilih mendiamkannya, tidak peduli sama sekali. Tapi kali ini jika dia masih mengganggu kami lagi, ya terpaksa, kita harus ambil tindakan dong."
"Yah, memang harusnya begitu. Aku nggak mau keluargaku nanti salah paham lagi jika ada yang melaporkan kamu bersama wanita lain di dalam hotel. Kamu tahu sendiri, jika seseorang bertemu di hotel pasti yang melihatnya akan langsung berpikiran buruk."
Dandi lantas tersenyum sembari membenarkan ucapan wanita itu. Biar bagaimanapun apa yang diucapkan Rianti memang benar. Banyak orang yang mudah berpikiran negatif, hanya dengan memandang atau mendengar tanpa mengetahui yang sebenarnya. Saat pembahasan soal Rusdi sudah berakhir, Rianti dan Dandi kembali membicarakan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pernikahan mereka.
Tanpa terasa waktu terus bergulir, dan sekarang sore hari telah tiba. Di sana, di restoran yang ada dalam sebuah hotel yang cukup mewah, seorang wanita baru saja melakukan panggilan telfon dengan seseorang. Wanita itu duduk sendirian dan nampak sedang menunggu kehadiran seseorang sesuai janji yang telah dia buat.
Setelah menunggu beberapa lama, senyum wanita itu terkembang sambil melambai ke arah pintu masuk. Di sana, wanita itu melihat seseorang yang dia tunggu menampakan diri. Orang tersebut segera saja melangkah menuju ke tempat dimana wanita itu berada.
__ADS_1
"Maaf, saya telat. Anda pasti sudah menunggu cukup lama?" ucap pria itu dengan menunjukan wajah menyesal dan tidak enak hati.
"Tidak apa apa, Mas Randi. Aku juga belum lama datang kok," ucap wanita itu dengan santainya. "Silakan duduk, Mas." Pria bernama Randi lantas duduk si kursi yang letaknya di seberang meja. "Rekan kerja kamu mana, Mas? Kok kamu datang sendiri?"
Randi sontak tersenyum. Dia tahu benar kalau wanita di hadapannya pasti hanya berpura pura saja. "Kebetulan, mereka ada urusan lainnnya, jadi terpaksa mereka tidak ikut."
"Lah terus pembicaraan bisnis kita gimana? Apa ditunda?" wanita menunjukkan raut wajah lkecewanya.
"Tidak, tenang saja. Mereka sudah berpesan dan menyerahkan semua keputusannya kepada saya kok, Mbak. Kamu tenang saja."
"Ya begitulah," jawab Randi singkat kaarena tidak tahu harus ngomong apa lagi.
Wanita itu lantas tersenyum lalu dia memanggil seorang pelayan. "Kamu mau minum apa?" tawarnya kepada Randi. Pria itu menjawab minta yang dingin dingin saja. Wanita itu mengangguk dan memesan beberapa hidangan dan juga minuman. Entah apa yang direncanakan wanita itu, tapi gerak geriknya sedari tadi sudah diawasi diam diam oleh Randi.
__ADS_1
Dugaaan Randi memang benar, wanita itu sudah merencanakan sesuatu untuknya. Wanita itu bahkan terlihat sudah bekerja sama dengan pelayan yang tadi dipanggil dan diam diam memberi kode tertentu sebagai tanda kalau pelayan itu harus melakukan apa yang sudah direncanakan. Pastinya Randi tidak melewatkan hal sekecil itu.
Sambil menungu pesanan datang, mereka berdua kembali terlibat obrolan tentang bisnis yang akan membuat mereka menjadi rekan kerja. Bahkan bukan bisnis saja yang mereka bahas, si wanita malah sering memberi pertanyaan diluar topik dari pertemuan itu. Randi pun menjawab semua pertanyaan yang terlontar untuknya dengan jawaban asal. Randi merasa kalau wanita itu juga sedang menyelidiki kehidupan pribadi dirinya.
"Apa kamu sudah punya pacar, Mas?" tanya wanita itu disela sela obrolannya.
"Apa penting pertanyaan seperti itu harus aku jawab?" bukannya menjawab, Randi malah melempar sebuah pertanyaaan yang membuat wanita itu tercengang.
"Hahaha ... ya nggak juga sih?" wanita itu malah tertawa. "Kalau belum, siapa tahu, aku mungkin bisa daftar." Randi hanya membalas dengan senyuman tanpa ada niat untuk membalas ucapan wanita itu. Di saat bersamaan, pesanan mereka pun datang. "Ya udah selagi pesanan kita sudah datang, lebih baik kita makan dulu aja, Mas?"
Randi lantas tersenyum. "Apa aku boleh memesan hidangan yang lainnya?"
Dan wanita itu pun terkejut!
__ADS_1
...@@@@@...