
Seperti yang sudah direncanakan, ketiga pria itu kini sedang berada di salah satu tempat usaha mereka. Saat ini ketiganya sedang berada di dapur untuk berdiskusi dengan para karyawan mereka. Banyak yang mereka bahas, mulai dari omset dan juga hal laiannya yang berhubungan dengan usaha ketiga pria itu.
Ketiga wanita dari tiga pria itu, saat ini juga berada di tempat yang sama. Bedanya, mereka kini duduk di salah satu tempat yang nyaman, berada di bagian sebelah kanan rumah makan milik tiga pria yang ada di kota. Ketiga wanita itu sedang menunggu, para pria yang sedang sibuk sendiri di ruangan lainnya.
Mungkin karena sudah bertemu beberapa kali, Arimbi, Rianti dan Eliza jadi terlihat lebih akrab. Mungkin karena mereka memiliki nasib yang sama meski jalan ceritanya berbeda, ketiga wanita itu jadi bisa saling berbagi cerita dan juga berbagi pengalaman mereka.
"Kok bisa ya nasib kita bisa sama kayak gini," ucap Eliza disela sela obrolan mereka yang dilakukan mereka bertiga. "heran aku loh. Bukankah ini ajaib yah?"
"Hahaha ... aku juga kadang mikirnya gitu," sahut Rianti. "Kita sama sama keluar dari rumah karena perbuatan cowok, eh nggak tahunya cowok yang menyakiti kita malah berteman. Aku tuh anehnya disitu."
"Dan lagi, kita juga kabur di tempat yang sama gitu," Eliza kembali bersuara. "Ya walaupun kampung kita beda beda, tapi tetap aja kan, kita berada di kecamatan yang sama dan terhubung satu sama lainnnya."
"Kalau aku sih mikirnya, mungkin memang ini sudah takdir kita," Arimbi ikut mengeluarkan suaranya sambil sesekali matanya mengawasi anaknya yang anteng dipojokan sambil memainkan mainan barunya. "Kalau bukan karena takdir, nggak mungkin juga kan? Kita dipertemukan dalam situasi yang sama?"
Kedua wanita yang bersama Arimbi nampak mengangguk beberapa kali. "Kalau memang ini adalah jalan takdir, apa mungkin cowok cowok itu juga takdir untuk menjadi jodoh kita juga?" tanya Rianti.
__ADS_1
"Bisa saja mereka memang jodoh kita. Cuma jalannya yang berbeda, nggak kayak pasangan lain pada umumnya," ucap Arimbi lagi.
"Iya juga ya? Kalau orang lain kayak mulus gitu dengan joodoh mereka. Nah kita, harus mengalami hal pahit dulu," sahut Eliza.
"Ucapan kalian sama persis dengan ucapan sahabatku," kata Rianti, "Katanya mungkin jodohku memang sengaja ditunda dengan cara yang menyakitkan. Nyatanya omongan sahabatku ada benarnya juga."
"Ada benarnya gimana?" tanya Eliza.
"Ya contohnya aja kamu," balas Rianti sambil menatap Eliza. "Kamu gagal nikah dan itu sangat menyakitkan bukan?" Eliza pun mengangguk. "Nah, tapi pada akhirnya ada hikmah yang cukup bagus. Kamu lepas dari laki laki brengsek yang sebenarnya."
"Ya kalau aku sih udah ada hikmahnya, tuh," jawab Arimbi sambil menunjuk anaknya. "Dengan adanya Reyhan dan juga keluarga Bu Farida, aku jadi tahu kalau hidup sederhana lebih nyaman. Ditambah lagi sikap Sandi benar benar berbeda sejak ketemu dengan anaknya. Dia benar benar sangat bertanggung jawab."
"Benar juga ya?" ucap Rianti. "Aku sendiri juga merasa hidup sederhana lebih menyenangkan. Dengan hasil yang pas pasan dan cukup untuk kebutuhan sehari hari, kalau disyukuri, nyatanya memang menyenangkan. Wajar sih, Papahku dulu sering marah marah kalau aku berfoya foya. Setelah aku merasakan susahnya nyari uang sendiri dari nol, benar benar ujiannya nikmat banget."
"Nah, benar itu!" seru Eliza. "Aku sendiri juga nggak nyangka, kalau aku berani jualan di pasar dan juga nasi goreng dipinggir jalan. Padahal dulu, ngebayanginnya aja nggak pernah. Penginnya kerja di kantor sendiri dengan gaji yang gede. Tapi sekarang nggak kepikiran kerja kantoran."
__ADS_1
"Hahaha ..."Arimbi dan yang lainnya kompak terbahak bersama. "Terus rencana kalian sendiri kedepannya gimana?" tanya Arimbi.
"Ke depannyanya? maksud kamu?" tanya Rianti.
"Ya, setelah kalian ketemu dengan orang tua kalian. Apa kalian akan tinggal bersama dengan orang tua kalian, atau kembali ke kampung?" balas Arimbi.
"Oh gitu?" ucap Rianti lagi. "Kalau itu sih mungkin aku akan tinggal di kampung aja. Menurutku lebih nyaman dalam segala hal."
"Benar," sambung Eliza antusias. "Di kampung, sesama tetangga lebih peduli. Ya walaupun kadang omongan tetangga juga sangat pedas, tapi kan banyak kebaikan juga di sana."
Arimbi pun membenarkan ucapan Eliza karena dia juga mengalamimnya. Namun di saat dia akan mengeluarkan suaranya, tiba tiba salah satu dari tiga pria mengeluarkan suaranya kalau mereka akan pergi ke tempat lain. Mau tidak mau, tiga wanita itu menghentikan obrolannya dan ikut pergi bersama tiga pria.
Di saat mereka semua keluar dari tempat usaha tiga pria.
"Loh, itu kan, orang yang di cari bos!" pekik seseorang. "Wahh! Harus segera ngasih tahu bos ini. Lumayan, dapat bonus," ucapnya sambil mengeluarkan ponsel untuk mengambil foto tiga pria bersama wanitanya sebagai bukti.
__ADS_1
...@@@@@...