TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Begitu sampai di kantor polisi, Eliza dan Randi langsung mengatakan tujuanya datang ke tempat itu, setelah tadi berbasa basi sejenak. Tidak membutuhkan proses yang terlalu lama, setelah polisi meyakinkan Eliza dengan memberi banyak pertanyaan, Polisi pun mengabulkaan permintaan wanita itu untuk mencabut laporannya. Sebelum pulang Randi dan Eliza meminta izin untuk menemui tersangka yang hendak mencelakai Eliza.


"Ada keperluan apa kamu datang ke sini menemuiku? Apa kamu ingin menertawakan nasibku?" tanya Tejo terdengar menohok, begitu dia tahu siapa tamu yang akan menemui dia. Wajahnya benar benar terlihat tidak bersahabat.


"Harusnya kamu bersyukur dong, Eliza mau menemui kamu, berarti dia masih simpatik sama kamu," Randi yang membalasnya dengan Santai dan tentunya senyumnya sangat membuat kesal pria di hadapannya.


"Cihh! Simpatik? Nggak usah masang wajah pura pura sok baik! Bilang aja kalian memang senang aku dipenjara," tuduh pria bernama Tejo.


"Aku memang senang, kamu mendekam di penjara," kini Eliza yang mengeluarkan suaranya. Tejo yang mendengarnya langsung menunjukan sikap sinisnya. Namun sikap pria itu berubah saat Eliza memberi tahu tujuannya datang menemui Tejo. "Kalau bukan karena aku kasihan sama orang tua kamu yang memohon kepadaku dan keluarga aku, aku nggak bakal cabut laporanku dan membebaskanmu."


"Apa! Orang tuaku ..."


"Ya, mereka datang menemuiku sambil nangis nangis!" jawab Eliza lantang sampai Tejo tidak bisa meneruskan kata katanya. "Kamu tahu nggak? gara gara perbuatan kamu, orang tua kamu yang menanggung akibatnya. Dia diolok olok tetangganya, disalahkan oleh orang tua dari temen temen yang membantu kamu. Puas? Sudah menyusahkan orang tua kamu gara gara otak kotor kamu itu?"


Wajah angkuh dan sinis Tejo seketika berubah. Dia menunduk dengan perasaan yang tidak menentu. Yang pasti ada rasa tak enak setelah mendengar keadaan orang tuanya. Tentu, disudut hati yang terdalam tumbuh rasa penyesalan karena telah bertindak begitu bodoh hanya gara gara rasa kecewanya terhadap Eliza.

__ADS_1


"Semoga setelah kamu keluar dari penjara, kita tidak pernah bertemu lagi," ucap Eliza penuh penekanan dan dia segera bangkit dari duduknya, beranjak meninggalkan ruang pertemuan. Randi hanya tersenyum tanpa berkomentar, sembari mengikuti langkah kaki Eliza. Tejo menatap kepergian dua orang itu dengan pandangan nanar.


Saat keluar dari kantor polisi, Randi dan Eliza melihat seorang wanita yang sedang berteriak kencang. Dilihat dari sikap dan didengar dari teriakannya, kemungkinan wanita itu tidak terima ditangkap oleh polisi. Bahkan wanita itu sampai menangis meski kadang terdengar mengancam juga.


"Mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu?" tanya Randi kepada Eliza yang bengong karena memperhatikan wanita yang baru saja masuk ke dalam kantor polisi.


Eliza agak tergagap karena terlalu fokus dengan apa yang dia lihat. "Langsung pulang aja," jawab Eliza. Randi hanya mengangguk lalu mereka beranjak menuju ke tempat motor Randi terparkir.


Di tempat lain, tepatnya di toko buah, Rianti sedang membuatkan jus untuk para pedagang sambil sesekali memperhatikan tukang yang sedang melanjutkan pekerjaanya, memperbaiki pintu dan penutup toko, yang kemarin belum selesai. Di sana juga ada Agus dan pemilik toko yang sedang mengawasi tukang sambil ngobrol.


"Hehehe ..." Rianti malah cengengesan. "Ya maaf, Pak. namanya juga perempuan, ya mana tahu hal hal begituan. Lagian aku pikir juga kunci yang kemarin masih berfungsi dengan baik, jadi aku nggak laporan."


Si pemilik toko nampak tersenyum sembari mengangguk beberapa kali. "Tapi semalam aman kan? Waktu kamu tidur, nggak kesusahan saat mengganjal sementara?"


"Aman kok, Pak," jawab Rianti.

__ADS_1


"Ya tentu saja aman dong, Pak. Orang ada yang setia jagain dia," celetuk Agus.


"Wahh! Siapa? Pacarnya?" tebak si pemilik toko.


"Ya lebih tepatnya calon suami sih," jawab Agus lagi. Wajahnya jelas sekali terlihat kalau dia sedang meledek Rianti. Sedangkan wanita yang diledek hanya bisa melotot kepada pria yang menjadi suami sahabatnya itu.


"Hahaha ... ya baguslah. Jadi ada yang jagain disini. Orang cewek kok ya berani beraninya hidup di sini sendirian," ucap si pemilk toko. "Nanti kalau ada kejadian kayak kemarin gimana?"


"Hih, amit amit! Jangan sampai, Pak," sungut Rianti dan hal itu sukses membuat dua pria itu tertawa bersamaan. Di saat itu juga, datang seseorang yang memarkirkan motor di depan toko Rianti. Orang itu melangkah cepat ke dalam toko sampai mengambil perhatian orang orang yang ada di toko itu.


"Apa benar? Kamu yang bernama Rianti?" tanya orang itu langsung di hadapan Rianti.


"Iya, benar, saya Rianti. Ada apa ya, Mas?"


"Maksud kamu apa? Melaporkan Lila ke penjara, hah!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2