TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Santai Di Siang Hari


__ADS_3

"Gimana, Pah, udah selesai?" tanya seorang wanita kepada suaminya yang baru saja datang menghampirinya.


"Belum, Mah," jawab pria itu yang langsung duduk di sebelah istrinya, lalu pria itu menatap wanita lain yang ada di sana, yang sejak tadi ngobrol dengan istri dari pria itu. "sepertinya urusan toko baru akan selesai besok, Ri. Kayaknya kamu malam ini harus di temani Dandi lagi deh?"


"Hah!" wanita bernama Rianti sontak memekik dengan suara yang sedikit lebih kencang. "Masa nggak bisa langsung jadi dalam satu hari? Nggak mau ah! Masa tidur sama dia lagi."


"Pintu tokonya itu sudah rusak parah, jadi mau sekalian diganti yang lebih aman. Lagian, orang kunci pintu hampir rusak gitu, kamu nggak lapor sama pemilik toko. Ya wajar tadi orang yang punya toko rada kesal. Kalau terjadi apa apa sama kamu semalam, berarti salah kamu juga karena teledor."


Rianti sontak cengengesan. "Ya kan aku nggak tahu. Tahunya kunci dan yang lainnnya masih fungsi, ya menurutku itu berarti masih aman," Rianti tidak mau kalah. Biasa, khas wanita, tidak mau disalahkan. "Tapi masa satu hari nggak selesai? Kan masalah kunci doang?"


"Bukan masalah kunci aja. Itu ada beberapa bagian yang memang harus dibenerin. Lagian untuk keamanan kamu juga kan? Apa kamu mau, terjadi hal yang kayak semalam?"


"Hih, amit amit, nggak lah."


"Ya udah, Nanti minta tolong sama Dandi, buat nemenin kamu tidur lagi."


Rianti langsung menekuk wajahnya, sedangkan Tiwi malah cengengesan dengan dua alis matanya terangkat beberapa kali. Hal itu semakin membuat Rianti bertambah kesal.


"Mau dibeliin pengaman enggak, Ri?" tanya Tiwi dengan tatapan penuh ledekan. Rianti sontak melotot, membuat Tiwi tertawa cukup keras. "Hahaha ... enak loh, Ri. aku aja ketagihan."

__ADS_1


"Ih, apaan sih kamu," sungut Rianti sambil memalingkan wajahnya ke arah rumah makan yang terlihat cukup ramai. bahkan Rianti juga melihat sebuah mobil berhenti di samping rumah makan, lalu dari dalam mobil itu keluarlah seorang anak kecil bersama tiga orang dewasa, satu pria dan dua wanita.


"Ayah!" teriak Reyhan dengan suara kencang hingga mengalihkan perhatian pengunjung di sana. Bocah itu bahkan langsung lari menuju area dapur, tanpa peduli peringatan yang keluar dari orang orang dewasa yang mengenalnya.


"Reyhan kok manggilnya Ayah mulu? Om nya nggak dipanggil?" protes Randi yang saat itu langsung menangkap bocah itu dan menggendongnya.


"Reyhan mau sama Ayah, Om," bocah itu berusaha memberontak.


"Ayah lagi sibuk, sebentar lagi selesai. Reyhan sama Om dulu ya?" bujuk Randi. Sandi yang melihat anaknya merengek hanya tersenyum sembari bergegas menyelesaikan pekerjaannya.


"Reyhan mau sama Ayah," rengeknya.


"Iya itu sebentar lagi Ayah selesai," Randi sekuat tenaga menahan tubuh Reyhan yang terus memberontak. Dandi yang juga ada di sana, hanya bisa geleng geleng kepala seraya tersenyum gemas dengan tingkah anak dari sahabatnya itu. Begitu juga dengan keluarga Sandi, mereka juga gemas dengan Reyhan yang sedari tadi merengek minta sama ayahnya.


"Ihh, gemesin banget sih anak kamu, San," ucap Randi.


Sandi hanya tersenyum lebar, lalu dia mengendus tubuh anaknya. "Reyhan belum mandi ya? Kok masih bau asem?"


"Gimana mau mandi, orang dari tadi merengek minta kesini," Sandrina yang menjawabnya. Dia dan orang tuanya duduk di kursi tak jauh dari meja pembatas dengan dapur. Sandrina menyerahkan kantung yang dia bawa dari rumah Arimbi. "Nih, pakaian dan alat alat kebutuhan Reyhan, kali aja abang bisa memandikannya."

__ADS_1


"Astaga! Ini iBunya santai banget gitu ya? Orang Ayahnya lagi dagang, malah disuruh mandiin anak segala."


"Ya nggak apa apa. Biar kamu juga tahu bagaimana rasanya mengurusi anak. Jangan hanya bisanya bikin, terus kamu tinggalin," Sandi langsung mendengus mendengar sindiiran ayahnya.


"Papah sama Mamah jadi pulang hari ini?" tanya Sandi begitu dia keluar dari area dapur dan bergabung dengan orang tuanya.


"Jadi lah, bisnis Papah siapa yang jalanin. Kamu sendiri nggak mau nerusin," jawab pak Suryo.


"Ya bukannya nggak mau, Pah. Aku kan pengin mandiri juga. Lagian ada Sandrina," balas Sandi tak mau kalah.


"Lalu kapan kamu akan menemui orang tua Arimbi?"


"Besok minggu. kebetulan, persediaan dagangan pada habis, jadinya ya sekalian aja belanja. Dandi dan Randi juga ada urusan, kita akan pulang bareng bareng besok."


"Ya baguslah, lebih cepat lebih baik. Biar Arimbi tidak ditikung orang," Mamah yang bersuara.


"Ditikung?"


"Iya. Tadi pas Mamah ke rumah Arimbi, ada yang hendak melamar dia."

__ADS_1


"Apa!"


...@@@@@...


__ADS_2