
Masih di hari yang sama, terlihat, Eliza juga memasuki pekarangan rumahnya. Begitu turun dari ojeg, wanita itu bergegas masuk ke dalam rumah. Sejak Eliza tinggal di rumah sang paman, wanita itu memutuskan ikut berjualan bumbu seperti yang dilakukan keluarga pamannya. Awalnya sang paman melarangnya, tapi Eliza terus merengek sampai akhirnya Pamanpun mengabulkan.
Eliza biasa berangkat jam tiga pagi bersama anak sang paman yang memang jualan di pasar yang sama. Tapi Eliza pulang di saat hari sudah menjelang siang sekitar pukul sembilan pagi. Lalu setiap sore, Eliza menemani salah satu anak paman lainnya berjualan nasi goreng.
Sang paman yang akrab dipanggil Iksan sebenarnya sangat keberatan Eliza melakukan itu semua. Mengingat latar belakang Eliza yang anak kota dan juga anak kuliahan, Paman Iksan tidak tega harus melihat sang keponakan bekerja keras seperti itu. Tapi saat sang paman mendengar alasan yang diutarakan Eliza, Paman Iksan tidak memiliki pilihan lain selain mengijinkannya.
"Paman belum pulang, Bi?" tanya Eliza begitu dia sampai di dapur, nampak sang bibi sedang mempersiapkan bahan bahan untuk dimasak hari ini.
"Belum nih, Za. Paling lagi ngobrol sama temannya. Kayak nggak tahu Paman kamu aja kalau sudah di pasar," jawab sang bibi. Paman Iksan juga berjualan bumbu, tapi di pasar yang berbeda. Istilahnya di beda kecamatan. Eliza pun terkerekeh mendengarnya. Dia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air minum. Setelah dia duduk, Eliza langsung menghabiskan isi gelas yang dia pegang. "Kamu semalam ketemu cowok itu dimana, Za? Kok dia tahu kamu disini?"
Eliza menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaaan wanita yang sudah memulai kegiatan masaknya dengan memotong cabai dan yang lainnya. "Dia jualan di depan tempat dagangannya Taryo, Bi. Aku aja kaget waktu aku tahu dia tinggal disana."
__ADS_1
Si bibi sejenak mengerutkan keningnya. "Kok kayak kebetulan banget? Dia sering gangguin kamu dong?"
"Nggak juga sih, Bi. Soalnya rumah makannya juga cukup ramai, jadi dia sibuk di tempat jualannya."
Sang bibi kini mengangguk beberapa kali. "Dia jual makanan? Enak nggak?"
"Makanan khas sunda, Bi. kayak seblak, cuanki gitu. Ya enak sih rasanya, makanya sejak buka, tiap hari rame. apa lagi di kota ini jarang banget yang jualan kayak gitu."
"Wah, bagus tuh. Bisa menjadi calon suami idaman tuh, Za," goda si bibi. Mamun Eliza malah mencebikkan bibirnya dan dia tangannya meraih kacang panjang untuk dipotong potong. "Tapi bibi ngerasa kalau cowok itu memang beneran suka sama kamu deh, Za. Kamu nggak ada niat buat maafin dia? kelihatan dia sangat menyesal."
"hlHahaha ... tapi dari perbuatannya itu, bibi yakin kalau dia sangat mencintai kamu. Coba bandingkan sama pria yang akan menikah dengan kamu dulu. Bukannya melindungi kamu dan mencari kebenarannya, malah ngambil tindakan sepihak tanpa mau dengar penjelasan."
__ADS_1
Eliza hanya tersenyum kecut. Dia enggan menanggapi ucapan wanita di hadapannya. Bagi Eliza, membicarakan masa lalu sama saja membuka luka hatinya yang sudah mengering. Bahkan luka itu membuat Eliza selalu menolak beberapa laki laki yang datang dan mencoba mendekatinya. Bayangan kejadian di masa lalu, membuat wanita itu takut melangkah ke arah yang sama kembali.
Sementara itu pria yang sedang dibicarakan Eliza dengan sang bibi nampak sedang duduk santai bersama dua sahabatnya. Warung makan telah buka dan dua karyawannya pun telah datang. Tapi seperti biasa, jika warung baru buka, mereka masih bisa santai dan bercengkrama sambil menunggu pembeli datang.
"Kamu nggak ke tempat Rianti, Dan?" tanya Sandi di sela sela obrolan mereka. "Katanya mau isiin warung kita dengan jus olahannya?"
Dandi terlihat mendengus. "Apa mungkin Rianti akan menyiapkannya setelah kejadian kemarin? Aku yakin temannya itu juga udah nggak setuju aku kerja sama dengan Rianti."
"Ya dicoba dulu. Sekalian kamu minta maaf," saran Sandi. "Katanya nggak akan mau nyerah."
Dandi hanya terkekeh tanpa ada niat membalas ucapan sahabatnya. Di saat bersamaan, ketiga pria itu melihat seorang pria memarkirkan motor di depan rumah makan mereka. Mereka cukup terkejut saat melhat siapa yang bersama pria itu, terutama Sandi. Dia bahkan sampai berdiri dan beranjak mengahmpiri pria itu.
__ADS_1
"Reyhan, kamu sama siapa?"
...@@@@@@...