TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Orang Tua Tiga Wanita


__ADS_3

"Ayah lagi ngapain di sini?" tanya seorang wanita kepada seorang pria yang sedang duduk menyendiri di sebuah kamar. Pria yang sedang termenung itu cukup terkejut dengan suara yang tiba tiba menggema di kamar yang bukan miliknya. Pria itu tersenyum, tapi senyumnya sangat tanggung dan tatapannya seperti menyimpan banyak kesedihan.


"Kabar Arimbi gimana ya, bu, sekarang?" bukannya menjawab, pria itu malah melemparkan pertanyaan kepada wanita yang saat ini melangkah mendekat ke arahnya. Pria itu bahkan menatap foto seorang perempuan yang sedang memakai toga. Foto anak perempuan dari pria dan wanita itu yang telah menghilang dari hidup mereka selama beberapa tahun terakhir ini.


Wanita itu menghela nafasnya cukup panjang dan berat. Tangan yang mulai keriput bergerak, terulur mengambil alih foto anaknya yang sedang di genggam oleh sang suami. mata wanita itu juga lekat memandangi putrinya yang nampak tersenyum bahagia di hari wisudanya. "Seandainya ibu tahu, mungkin ibu nggak pernah merasa khawatir setiap hari, Yah."


Sang suami mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, dimana dia dan istrinya berada. Sebuah kamar yang sudah lama ditinggal penghuninya. Masih tertata rapi tanpa diubah tata letak barang barangnya. "Seandainya saat itu Ayah tidak terlalu keras marah kepadanya, mungkin Arimbi masih berada di sini, bersama kita, Bu."


Sang istri pun mengulas senyum. Senyum yang sama dengan suaminya, senyum penuh rasa sedih. "Jika Arimbi ada di sini, berarti anak dalam kandungan Arimbi juga sudah terlahir dan mungkin saat ini sudah besar. Apa Ayah mau menerima anak itu?"


Pria itu tidak langsung merespon. Dia malah terpaku dan kembali menghela nafasnya yang terasa berat, lalu pria itu menunduk. "Seandainya Ayah tidak bisa mengontrol ucapannya, Bu."


Wanita yang duduk disisinya lantas tersenyum dan matanya menerawang, menatap foto foto anaknya yang banyak tertempel di dinding. Untuk sesaat suasana begitu terasa hening, hingga kedua orang itu dikejutkan oleh suara seoang wanita yang bekerja di rumah itu.


"Maaf, bu, Pak, di luar ada tamu?"


"Tamu? Siapa, Bi?"

__ADS_1


"Tidak tahu, Bu. Seorang laki laki dengan anak kecil." Kening suami istri itu sontak berkerut, begitu menndengar jawaban dari si bibi.


Di tempat lain di malam yang sama.


"Loh, Mamah ngapain malah tidur di sini sih, Mah? Di kamar langsung saja kenapa?" tanya seorang pria begitu membuka salah satu kamar yang ada di umahnya dan melihat seorang wanita terbaring di atas ranjang. Tapi ranjang itu bukanlah ranjang yang biasa dipakai untuk tidur wanita itu.


"Mamah ingin bermalam di sini sejenak, Pah," jawab wanita itu kepada pria yang saat ini sedang melangkah ke arahnya lalu dia meletakkan pantatnya ditepi ranjang yang sama, dimana wanita yang sejak lama menjadi istrinya sedang terbaring.


Pria itu menatap lekat sebuah foto yang tergantung di dinding kamar itu dalam ukuran yang cukup besar. Foto seorang anak perempuan yang tersenyum dengan wajah terlihat sangat cerah. "Mamah jangan terlalu memikirkan Rianti. Bukankah Mamah sudah tahu kabar dia dari Mirna?"


"Bagaimana Mamah tidak memikirkannya, Pah? Rianti hidup sendirian di kota orang yang tidak ada saudaranya. Dia berjuang sendirian di sana. Entah bisa makan tiap hari atau tidak anak itu. Sedangkan kita disini tiap hari bisa makan enak," balas sang istri dengan segala gemuruh yang membuat hatinya merasa sesak.


"Siapa?"


"Nggak tahu, Pak. Tapi wajahnya aku kayak pernah lihat." Kening sepasang suami istri itu sontak berkerut.


Masih di malam yang sama tapi di tempat berbeda juga.

__ADS_1


Terlihat sepasang suami istri sedang duduk berdua sambil menikmati hidangan yang tertata rapi di atas meja makan. Sang istri yang awalnya terlihat tersenyum ceria, mendadak senyumnya memudar saat melihat sesuatu di atas meja makan di hadapannya.


"Masakan kesukaan Eliza," ucapan wanita itu sontak membuat gerakan tangan suaminya terhenti, begitu nama wanita yang telah pergi dari rumah itu keluar dari mulut istrinya. Pria itu juga mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan wanita yang duduk tidak jauh darinya.


"Mamah masih mengingatnya?" tanya sang suami dengan tatapan yang susah diartikan.


"Apa Papah berpikir kalau Mamah akan melupakan anak perempuan kita? Kalau Papah, mungkin bisa saja lupa. Karena Papah hanya menyumbang benih," ucapan sang istri langsung membuat suaminya menatap ke arahnya.


"Kenapa Mamah selalu berpikiran seperti itu? Papah tidak seburuk yang Mamah tuduhkan," pria itu nampak protes. Sang istri memilih diam dan mengabaikannya. Di saat dia hendak mengambil makanan, suaraa seseorang membuat mereka mengalihkan pandangannya.


"Bu, ada tamu."


"Tamu? Siapa, Bi?"


Nggak tahu, Bu. Katanya namanya Randi."


"Randi?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2