
Keadaan memanas sedang berlangsung dalam benak Sandi saat ini. Melihat anaknya akrab dengan pria yang tidak dia kenal, membuat dada Sandi dilanda gemuruh tiba tiba. Entah kenapa Sandi merasa pria itu akan menjadi saingan dalam menaklukan hati Arimbi. Atau mungkin saat ini Arimbi memang sudah dekat dengan pria itu. Sandi sungguh tidak mau menerka dengan keadaan dua orang di hadapannya.
Apa yang dipikirkan Sandi hampir sama dengan jalan pikiran pria yang saat ini sedang menggendong Reyhan. Setelah mengetahui keberadaan ayah dari anak kecil yang ada dalam gendongannya, pria itu merasa aura yang tidak biasa. Ada rasa khawatir yang tiba tiba menyeruak dalam benaknya begitu dia mengetahui fakta kalau ada pria dari masa lalu wanita yang tadi bersamanya.
"Kamu serius mau bawa Reyhan pulang?" tanya Sandi mencari kepastian akan datangnya Arimbi yang datang tiba tiba bersama seorang pria. Tentu saja Sandi merasa tidak rela jika Reyhan pulang bersama pria yang sedang menggendong anaknya. Sandi berpikir kalau Arimbi mungkin hanya akan pamer saja karena sudah bisa dekat dengan laki laki lain. Berbagai dugaan buruk muncul dalam pikiran Sandi saat ini.
"Emang kenapa kalau aku ngajak Reyhan pulang?" Arimbi malah terkesan tidak terima dengan pertanyaan yang diajukan oleh Sandi.
"Tadi kamu dengan entengnya nyuruh ojeg buat nganter Reyhan, belum ada satu jam Reyhan bersama ayahnya, sudah kamu jemput aja. Kenapa nggak nyuruh ojeg lagi aja buat jemput Reyhan?" mendengar pertanyaan Sandi, Arimbi justru semakin salah tingkah dan sikap wanita itu membuat kening Sandi sempat berkerut.
__ADS_1
"Loh, emang apa salahnya? Mau jemput kapanpun juga kan terserah aku, mau cepat atau lambat juga terserah aku, kenapa kamu malah kayak nggak terima?" Arimbi berusaha membela diri dan apa yang dikatakan wanita itu juga cukup mengejutkan bagi Sandi.
"Bukan masalah aku terima atau tidak. Aku merasa kamu aneh aja. Kalau memang kamu mau ambil Reyhan secepat ini, kenapa kamu capek capek nyuruh ojeg buat nganterin Reyhan? Kenapa bukan kamu aja yang nganter dan nungguin disini? Bukankah itu cukup aneh?" cecar Sandi sembari berusaha mengontrol emosinya.
"Bukan salah Arimbi, aku yang memintanya untuk menjemput Reyhan," pria yang menggendong Reyhan kini ikut buka suara. entah dia bermaksud membela Arimbi atau hanya ingin menunjukan kalau dia sangat dekat dengan Arimbi dan juga bocah dalam gendongaannya.
Pria itu bahkan seperti orang bingung saat Sandi melempar pertanyaan yang diajukan oleh Sandi. Bahkan pria itu sempat melirik ke arah Arimbi, seperti sedang mencari bantuan mengenai kedudukannya saat ini. "Saat ini saya memang bukan siapa siapanya Reyhan, cuma selama ini saya memang dekat dengan anak ini."
"Terus, meski anda dekat dengan anak saya, anda bisa seenaknya gitu menjemput bocah yang sedang main bersama ayahnya? Pakai membawa Arimbi segala agar anak itu cepat mau pulang?" pertanyaan Sandi yang cukup sarkas membuat pria itu juga sebenarnya merasa emosi. Tapi alih alih mengeluarkan emosinya, pria itu malah tersenyum.
__ADS_1
"Hehehe ... ya maaf jika kedatangan saya membuat anda tidak senang," ucap pria itu dengan santainya, lalu dia menatap bocah dalam gendongannya. "Reyhan mau pulang apa mau tetap disini?" pertanyaan yang cukup membuat Sandi merasa emosi. Pria yang menggendong anak itu sepertinya sengaja ingin membuat amarah Sandi semakin berkobar.
Apa yang dipikirkan Sandi saat ini memang tidak sepenuhnya salah. Pria itu memang sengaja melempar pertanyaan berbentuk pilihan sebagai simbol siapa yang lebih dekat dengan anak itu. ayahnya atau pria yang sedang menggendong Reyhan. sepertinya pria itu juga sangat yakin kalau Reyhan akan memilihnya.
"Rey, om tanya loh, kenapa diam? Reyhan mau pulang apa mau main disini?" pria itu kembali melempar pertanyaan. Meski pertanyaan itu begitu lembut tapi di telinga Sandi, pertanyaan yang keluar dari mulut itu seakan mendesak agar Reyhan memilih pulang bersamanya.
Bocah kecil yang sedang asyik menyeruput jus mangga itu lantas mendongak. Matanya memindai pria dewasa yang menggendongnya. Namun beberapa saat kemudian mata Reyhan beralih memandang pria yang dia panggil dengan kata ayah. "Reyhan mau sama ayah," jawaban itu akhirnya keluar dari mulut bocah kecil bernama Reyhan.
...@@@@@@...
__ADS_1