TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Seperti Keluarga Kecil


__ADS_3

Semakin bertambah usia, waktu seakan berjalan begitu cepat. Seperti ini hari ini, baru saja tadi siang Dandi ngobrol dengan Rianti dan sahabatnya, tanpa terasa kini sore telah menjelang. Kebetulan rumah makan saat ini tidak terlalu ramai, Dandi minta izin kepada dua temannya untuk pergi ke kantor polisi.


"Eh, Arimbi," seru Dandi saat keluar dari pintu samping dan melihat wanita yang dia kenal sedang melangkah dari taman kota ke arah rumah makan Dandi. "Mau jemput Reyhan?"


Arimbi mengangguk dengan perasaan canggung. "Apa Reyhan tidak rewel, sedari pagi nggak ada kabar?"


Dandi lantas tersenyum. "Dia anteng kalau di sini. Apa lagi yang jagain Reyhan juga banyak. Tadi aja udah tiga kali main mobil remot di situ," Dandi menunjuk mobil ke arah tempat mobil mainan di salah satu sisi taman kota. Arimbi hanya mengangguk saja. "Mbi, aku minta maaf ya, soal yang dulu aku lakukan dengan Sandi ke kamu?"


Arimbi tertegun. Namun tak lama setelahnya dia memilih pergi tanpa memberi respon apapun. Dandi hanya menghela nafas dalam dalam. Biar bagaimapun dia juga merasa bersalah karena telah ikut andil dalam menghancurkan hidup Arimbi, meski tidak ikut menidurinya. Dandi bergegas naik ke motor yang terparkir di samping warung dan melajukannyya menuju toko Rianti.


"Ibu!" teriak Reyhan yang saat itu sedang bermain di meja kasir dengan salah satu karyawan di sana. Bocah itu langsung minta turun, dan segera berlari menuju ke arah Ibunya.


"Ibunya Reyhan cantik ya?" celetuk si karyawan dan hal itu sampai terdengar oleh Randi dan Sandi yang memang saat itu lagi santai.


"Pantes, Mas Bos nggak bisa move on, barang bagus gitu," karyawan lainnya yang seorang pemuda ikut nyeletuk juga, dan dia langung mendapat pelototan mata dari Sandi yang bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri Arimbi dan anaknya. Sang karyawan langsung cengengesan sambil menunjukkan dua jarinya yang membentuk huruf V.

__ADS_1


"Reyhan belum mandi? Kok bau asem," tanya Arimbi setelah mengendus tubuh anaknya.


"Mandi tadi pagi doang," Sandi yang menjawabnya. "Baru bangun tidur dia. Itu aku lagi masak air buat mandiin."


"Mandi di rumah aja yuk, kita pulang, udah sore loh. Main mulu dari pagi," ucap Arimbi tanpa memandang pria yang berdiri menghadapnya.


"Pulang sama Ayah," jawaban Reyhan sontak membuat Sandi tersenyum, sedangkan Arimbi langsung mendengus. "Tadi kan sudah sama Ayah? Sekarang gantian sama Ibu ya?" bujuk Arimbi.


"Nggak mau. Mau pulang sama Ayah," Reyhan mulai mengeluarkan jurus merengeknya.


"Pasti ini kamu yang ngajarin!" tuduh Arimbi dengan wajah langsung berubah.


"Nggak lah, aku pulang aja," ucap Arimbi ketus. "Ibu pulang dulu ya, Rey."


"Ibu jangan pulang, pulang nanti sama Ayah," Reyhan malah mengatakan hal yang tidak terduga sambil mengerek.

__ADS_1


"Tapi, Rey. Itu motor Ibu lagi ditungguin Kakek," tolak Arimbi dengan mencari alasan yang menurutnya masuk akal.


"Nggak mau! Ibu pulang sama Ayah," Reyhan tidak mau kalah. bahkan anak itu hampir saja menangis.


"Udah sih, Mbi, nurut Reyhan aja. Nggak malu apa dilihat banyak orang?" ucap Sandi yang sebenarnya merasa kesal juga. Arimbi mengedarkan pandangannya dan memang benar, banyak mata yang sedang memandang mereka. Baik yang ada di dalam rumah makan maupun yang ada di pinggir jalan.


"Lalu motor aku gimana?" Arimbi berusaha mencari alasan lain.


"Nanti aku suruh karyawanku buat nganterin. Yang penting Reyhan nggak rewel," ucap Sandi tegas agar tidak terlihat kalau dia juga sebenarnya kesal. Arimbi tidak ada pilihan selain menuruti permintaan anaknya. Apa lagi Reyhan rengekannya semakin kencang, membuat Arimbi tidak bisa berkutik lagi.


Sandi menggendong Reyhan masuk dan diikuti oleh Arimbi di belakangnya. Pria itu juga memberi perintah pada dua karyawan. Satu untuk mengantarkan motor Rianti ke rumahnya dan satunya membawa motor lain untuk menemani dan juga membawa karyawan itu kembali ke toko.


"Kamu siapkan air, biar aku yang mandikan Reyhan. baju bersih Reyhan masih ada kan?" tanya Arimbi.


"Masih," jawab Sandi dan dia menyerahkan Reyhan kepada ibunya lalu bergegas membuat air hangat. Setelah semuanya siap, Sandi memilih duduk sambil mengawasi Reyhan yang sedang dimandikan di kamar mandi yang memang pintunya terbuka dan terlihat dari are dapur.

__ADS_1


"Kalian udah kayak keluarga kecil aja ya? menyenangkan," celetuk Randi dan hal itu sukses membuat Sandi tersenyum lebar.


...@@@@@@...


__ADS_2