
Setelah mendapat ide yang menurutnya bagus, Sandi dengan memantapkan hati untuk berbicara dengan wanita yang masih merias wajahnya di atas motor. Sandi lantas membuka kaca mobil sampai membuat wanita itu terkejut.
"Loh, kirain mobil kosong! Nggak tahunya ada orang di dalam," seru wanita itu yang mau tidak mau berhenti sejenak saat sedang memakai bedak.
"Mbak, bisa bicara sebentar," permintaan Sandi tentu saja sangat kembali membuat wanita itu terkejut.
"Kamu mau ngomong sama aku?" tanya wanita itu dengan jari menunjuk ke arah dirinya sendiri. Sandi dengan mantap mengangguk sampai membuat wanita itu tersenyum. "Mau ngomong tentang apa, Mas? Perasaan, kita tidak saling kenal deh."
"Saya tahu, saya cuma mau minta tolong, Mbak," ucap Sandi yang membuat kening wanita itu berkerut. "Mbak masuk aja sini."
"Nggak bicara di dalam tempat karaoke saja, Mas?" tanya wanita itu sedikit curiga.
"Mbak nggak usah takut, saya bukan orang jahat kok. Masuk aja," balas Sandi yang sepertinya mengerti tentang rasa takut dan curiga yang ditunjukan oleh wanita itu.
Karena Sandi terlihat meyakinkan, wanita itu memasukan alat riasnya ke dalam tas lalu mencabut kunci motor baru berpindah tempat, membuka pintu mobil yang memang ada di dekat motornya. "Mau minta tolong apa sih, Mas? Mau minta dicarikan temen tidur?"
"Haahaha ... nggak, Mbak," bantah Sandi. "Apa kamu kenal dengan pria yang bernama Mulyadi?"
"Mulyadi?" tanya wanita itu dengan kening yang berkerut, pertanda kalau dia sedang berpikir saat ini. "Mulyadi anak juragan meubel?" Sandi mengangguk dengan yakin. Beruntung tadi dia juga mendengar hal itu dari tetangga Arimbi. "Emang kenapa, Mas?"
"Apa dia langganan disini? Tadi aku lihat dia masuk ke tempat ini," Sandi mulai menyelidiki.
__ADS_1
"Hahaha ... orang daerah sini, siapa sih yang nggak kenal Mulyadi, Mas. Dia kan langganan di tempat ini. Aku aja pernah beberapa kali menemani dia." Sandi seketika terperangah mendengar jawaban dari wanita itu.
"Bukankah tadi siang Mulyadi melamar cewek? Katanya dia anak baik baik. Masa adik aku dibohongi sih?" rencana Sandi mulai berjalan.
"Hah! Mulyadi melamar adik kamu?" Sandi langsung mengangguk dengan cepat agar wanita itu percaya. Bahkan karena anggukan yang Sandi berikan sebagai jawaban, wanita itu sampai terbahak. "Hahaha ... berarti adik kamu sedang kurang beruntung, Mas."
"Kok gitu, Mbak? Maksudnya gimana?" pertanyaan pancinga mulai terlontar.
"Mulyadi memang kalau di rumah kelihatan alim, Mas. Kamu tahu, kan, nama orang tuanya?" Sandi mengangguk sambil menyebut nama orang tua Mulyadi yang dia tahu dari cerita orang tuanya dan juga tadi saat Bu Farida bercerita ke warga. "Tapi Mulyadi tidak sealim itu. Kalau orang tuanya tahu kelakuan anaknya, pasti mereka bakal jantungan."
"Berarti dia memang sering gitu? Main ke tempat ini ya, Mbak?"
"Itu dia, Mbak, aku juga sebenarnya udah ngelarang adik aku agar tidak beerhubungan dengan Mulyadi, tapi kan kamu tahu sendiri, Mbak, Mulyadi kelihatan alim banget dan bisa cari muka. Aku sih sebenarnya sudah tiga kali lihat Mulyadi di sini, tapi kan aku ragu dan juga aku nggak ada bukti. Jadi ya aku tetap kalah suara."
Wanita itu nampak manggut manggut, mengerti dengan apa yang dikatakan Sandi. "Lalu kamu mau minta tolong sama aku tuh gimana maksudnya, Mas?"
"Jadi gini, Mbak ..." Sandi langsung menceritakan idenya kepada wanita itu. "Tenang aja, Mbak, ada imbalannya kok?"
"Berapa?"
"Lima juta, cukup kan?"
__ADS_1
Wajah wanita itu langsung berbinar. "Yakin, lima juta?" tanya si wanita memastikan. Dengan mantap Sandi mengangguk. "Yakin, Mas?"
"Iya, masa aku bohong? Kelihatan nggak kalau aku bohong?" Wanita itu langsung menggeleng dengan wajah yang masih berbinar. "Jadi mau nggak, Mbak?"
"Mau lah, tugas mudah ini," wanita itu malah terlihat antusias. "Mau pakai ponsel aku apa ponsel kamu, Mas?"
"Ponsel kamu aja dulu ya, mbak."
"Terus, nanti nyerahin hasilnya gimana?"
"Ya kan aku nunggu di sini, paling aku nanti perg sebentar ke ATM, ambil uang."
"Apa nggak kelamaan, Mas?"
"Nggak lah, demi mendapat bukti, aku mau kok nungguin kamu, Mbak.."
"Baiklah, lima juta loh ya?" Sandi langsung mengiyakan dengan sangat meyakinkan. Wanita itupun dengan semangat langsung keluar dari mobil Sandi, untuk menjalankan tugasnya.
"Kapan lagi dapat uang banyak tanpa harus telentang," gumam wanita itu dengan sangat gembira.
...@@@@@...
__ADS_1