TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA

TIGA PRIA DAN MASA LALUNYA
Para Warga Di Rumah Arimbi


__ADS_3

Malam itu, dua orang yang dulu terpisah karena sebuah kesengajaan, kini nampak duduk bersama di dalam satu mobil. Keduanya larut dalam obrolan tentang sosok kecil yang sekarang sudah terlelap dipangkuan wanita yang ada di sana. Sosok kecil itu seakan menjadi jembatan yang menghubungan dua orang dewasa yang pernah berseteru.


Sandi, salah satu orang yang ada di mobil itu, hatinya kini sedikit lebih lega. Wanita yang duduk di sebelahnya, kini sudah bisa diajak bicara meski kadang ucapan wanita itu terdengar menohok di telinga Sandi. Sindiran yang keluar dari mulut wanita bernama Arimbi mengenai perbuatan Sandi di masa lalu, sering kali membuat pria itu terbungkam.


Walaupun sering tersindir dan selalu diingatkan dengan kesalahan di masa lalu, setidaknya itu membuat Sandi bisa lebih bijak lagi dalam bersikap. Bahkan pria itu cukup senang karena kemarahan Arimbi, tidak sebesar seperti saat mereka bertemu kembali untuk pertama kalinya.


"Loh, kok di rumah banyak orang?" ucap Sandi, begitu mobil yang dia kemudikan, kini hampir saja memasuki halaman rumah Arimbi. "Ada apa, Mbi? Apa terjadi sesuatu?"


Arimbi menggeleng. "Tidak tahu. Perasaan tadi aku pergi, semuanya baik baik saja."


Begitu mobil memasuki pekarangan rumah Arimbi dan terparkir di sana, hampir semua orang yang melihat kedatangan mobil tersebut langsung menatap ke arah mobil, dan nampak seperti sedang menunggu kedatangan Arimbi. Ternyata dugaan mereka benar, saat Arimbi keluar dari mobil, suara para warga langsung terdengar riuh.


"Itu Arimbi pulang," ucap salah satu warga, ucapanya hampir sama dengan warga lainnya. Arimbi segera melangkah cepat menuju ke rumah.


"Jadi itu ayahnya Sandi?" saat Sandi turun dari mobil, para warga langsung banyak yang berkomentar. Mereka semua langsung mempersilakan Sandi dan Arimbi agar cepat masuk ke dalam.


"Bu, Pak, ada apa ini?" tanya Arimbi sambil melangkah menuju tempat Bu Farida berada.

__ADS_1


"Duduk dulu, Mbi, Biarkan Pak Rt yang menjelaskan," balas Pak Seno. Sandi pun sama, dia diminta duduk di kursi yang tadi diduduki salah seorang warga.


"Sebelumnya saya minta maaf, Mba Arimbi, saya selaku Rt di sini hanya ingin menanyakan beberapa keluhan warga," Pak Rt mulai bersuara. Arimbi dan yang lainnya nampak mendengarkan dengan seksama.


"Keluhan bagaimana, Pak?" tanya Arimbi.


"Jadi gini, selama ini kan warga sini tahu, Mba Arimbi seorang wanita tanpa suami, terus beberapa hari terakhir ini, kamu juga dekat dengan anaknya pemilik toko meubel, kan? Terus laki laki ini, siapanya kamu, Mbak? Kata Bu Farida, dia ayah kandungnya Reyhan?"


"Iya, benar, saya ayahnya Reyhan Ada apa emangnya, Pak?" Sandi yang menjawab sekaligus melempar pertanyaan.


"Sebelumnya saya minta maaf ya, Mas. Sebelumnya saya mendapat laporan kalau anda itu laki laki yang nggak benar. Sebenarnya ini bukan keinginan saya untuk berbicara tentang keburukan anda. Cuma ada warga yang resah dengan kedatangan anda di kampung ini."


"Ya saya tidak bisa menjelaskan, nanti kamu bisa tanya sama Bu farida atau Pak Seno. Saya sudah mengatakannya kepada mereka. Yang saya ingin tanyakan, tujuan anda kesini apa benar, mau menikahi Arimbi, seperti yang dikatakan Bu Farida?"


"Iya, Pak," jawab Sandi tanpa ragu. "Malah rencananya saya minggu besok mau ke kota menemui orang tuanya Arimbi."


"Loh, bukankah orang tuanya Arimbi sejak kemarin datang ke sini? Tadi pagi aja saya lihat mereka datang?" tanya salah satu warga dan didukung sama warga yang lain.

__ADS_1


Sontak saja Tuan rumah dan juga Sandi terlihat terkejut mendengarnya. "Ibu tahu darimana berita itu?" tanya Arimbi.


"Ya kan aku lihat juga, Mbi. Terus ada yang bilang kalau itu orang tua kamu," jawab Ibu itu dan ibu ibu yang lain juga mengatakan hal yang sama.


"Ibu pasti tahu dari Mulyadi yah?" tebak Arimbi.


"Ya bukan, tapi temannya," jawab si Ibu itu, tapi ibu yang lain malah ada yang menjawab kalau dia memang tahu dari Mulyadi, tadi sebelum petang. Keterangan para ibu tentu saja langsung disambut gelengan kepala serta senyuman oleh Sandi dan Tuan rumah.


"Emang Mulyadi ngomong apa aja, Bu?" tanya Arimbi lagi.


"Ya banyak, katanya, Mas ini cowok yang nggak benar, memperngaruhi Reyhan agar jauh dari Mulyadi. Intinya semua yang tidak benar lah."


"Dan ibu ibu pada percaya begitu saja?"


"Percaya sih nggak, Mbi, makanya kami ngajak Pak Rt untuk datang menasehati kamu."


Lagi lagi Sandi dan Tuan rumah dibuat tersenyum. "Maaf ya, Bu, tadi pagi dan yang kemarin kemarin itu sebenarnya yang datang bukan orang tua saya. Tapi orang tua pria ini, ayahnya Reyhan."

__ADS_1


"Hah!"


...@@@@@@...


__ADS_2