
Waktu kini menunjukkan pukul delapan lewat lima belas menit. Disana, di sebuah rumah makan berlantai dua, suasana tegang nampak begitu terasa dari salah satu meja yang dikelilingi oleh sepasang suami istri dan salah satu pria pengelola rumah makan tersebut. Pria bernama Dandi itu sedang dimintai pertanggung jawaban oleh sepasang suami istri yang sedang bertengkar karena sebuah kesalah pahaman yang dilakukan oleh Dandi.
"Sekarang kamu tolong jelaskan, kenapa kamu ngomong ke istri saya, kalau saya memiliki hubungan dengan Rianti?" tanya Agus, mencoba menahan amarah karena tuduhan perselingkuhan yang dilayangkan sang istri dengan sahabatnya.
Kening Dandi berkerut. Ada rasa terkejut di balik tatapan yang saat ini sedang menatap lawan bicaranya. "Rianti yang bilang, kamu ingat kan beberapa malam yang lalu saat aku duduk di depan toko buahnya?"
Kini gantian kening Agus yang berkerut, mengingat kejadian yang baru saja diceritakan oleh Dandi, Sedangkan sang istri memilih diam karena memang dia diminta diam oleh sang suami selama suaminya sedang melakukan penyelidikan. "Astaga! aku ingat," seru Agus. "Waktu itu memang Riianti tiba tiba bersikap aneh saat ada kamu."
"Saat ada aku?" Dandi nampak terkejut. Ucapan Agus barusan tentu membuat Dandi penasaran.
Sebelum menjawab, Agus menatap sang istri yang masih dalam mode kesal. "Mamah ingat nggak waktu Papah bilang sikap Rianti aneh kalau lihat pria ini? Nah, keanehannya itu dimulai sejak malam itu, sejak pria ini datang ke toko Rianti."
Dua orang yang ada di sisi akan dan hadapan Agus, masih belum mengerti maksud dari perkatakan pria itu. "Maksudnya gimana sih, Pah? Ngomong yang jelas dong?"
__ADS_1
"Gini, Mah, ketika ada pria ini di toko, tiba tiba Rianti bersikap manis ke Papah. Tapi begitu pria ini pergi, Rianti kembali bersikap biasa saja," terang Agus lalu dia menatap Dandi. "Sekarang yang saya tanyakan, apa kamu pernah ada hubungan dengan Rianti? Sebab aku perhatikan Rianti itu kayak benci banget sama kamu, sampai dia memilih berpura pura bilang kalau dia sudah menikah dengan aku."
"Apa! Pura pura mmenikah?" seru Dandi. Tiwi yang akan mengatakan hal yang sama dengan Dandi, jadi terbungkam karena ucapannya sudah diwakilkan oleh pemuda itu.
"Iya, dia bilang kayak gitu agar kamu nggak gangguin hidup dia," terang Agus dan kenyataan itu cukup membuat Dandi merasa tersentil DI Dalam relung hatinya.
Dandi tidak menyangka, hanya demi menghindari dirinya, Rianti sampai harus berbohong seperti itu dan kebohongannya malah menimbulkan kesalah pahaman dengan teman wanitanya. Sekarang Dandi tahu, kenapa tadi sore Rianti sangat marah dan berkata kalau Dandi sudah menghancurkan hidup wanita itu lagi. Ternyata karena salah paham.
"Jangan jangan, kamu yang menyebabkan Rianti memilih pergi dari rumah!" terka Tiwi setelah mencerna perkataan suaminya dan meyakini kalau mereka memang hanya salah paham saja. Apa lagi dari mulut sang suami, Tiwi mengetahui fakta kalau Rianti terlihat sangat membenci pria itu. "Nggak mungkin Rianti benci sama seseorang tanpa sebab, apa lagi kamu sama sama dari kota dan kamu juga baru datang, nggak mungkin kan? Rianti bakalan langsung benci jika batu melihat wajah kamu?"
"Nah, aku mikirnya juga gitu, Mah. Soalnya aku sudah beberapa kali melihat Rianyu menunjukkan amarahnya jika melihat pria ini," Agus menimpali dan ucapannya cukup membuat Dandi semakin terpojok.
Kini Dandi yang terpaku mendengar ucapan sepasang suami istri itu. wajahnya terlihat bingung karena dia merasa sedang disidang akibat kesalahan yang dia perbuat. Agus dan Tiwi sama sama menatap tajam ke arah Dandi yang saat ini lebih memilih diam.
__ADS_1
"Jangan jangan, kamu itu pria yang meninggalkan Rianti sehari sebelum acara ijab kabul dan kamu menfitnahnya dengan tuduhan tidak suci lagi, iya, yah?" tuduh Tiwi dengan tatapan menyelidik, Dan tuduhan itu sukses membuat wajah Dandi seketika pias dan merasa gugup.
"Apa, Mah! Jadi alasan Rianti pergi dari rumah karena itu?" Agus menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Tiwi sontak mengangguk.
"Jawab!" bentak Tiwi dengan lantang sampai orang orang yang masih ada disana termasuk Randi dan dua karyawannya dibuat terkejut mendegar teriakan wanita itu. Dandi yang sedari tadi terdiam menundukkan kepalanya dan dia mengangguk membenarkan tuduhan itu. "Dasar kurang ajar kamu!" Tiwi meraih gelas berisi es teh dan menyiramkannya ke arah kepala Dandi.
"Mamah!" pekik Agus dan dia langsung bertindak menahan sang istri agar tidak emosi.
"Dasar pengecut! Pecundang! Rianti punya salah apa sama kamh, hah! Kamu seenaknya mempermainkan perasaannya, dasar brengsek!" Tiwi yang memang mengetahui peristiwa yang menimpa sahabatnya, tak kuasa menahan amarahnya kepada Dandi.
"Mah, sabar. Mah," Agus mencoba menenangkan emosi istrinya.
"Bagaimana bisa sabar menghadapi pria pecundang seperti ini! Dia yang ngajak Rianti zina dengan segala janji manisnya, tapi dia yang memutar balikkan fakta. Dasar pecundang!"
__ADS_1
Dandi hanya terdiam dan dia memang pantas mendapatkannya.
...@@@@@@...