
Suasana haru sungguh terasa menyelimuti tiga wanita di kamarnya masing masing. Pembicaraan yang dilakukan mereka bersama sang ayah cukup membuat ketiganya merasakan kehangatan lagi, dari seorang pria yang dulu sangat menyayangi mereka sejak para wanita itu dilahirkan kedunia. Kini setelah peristiwa pahit yang menimpa ketiga wanita itu berlalu, hubungan mereka dengan para ayah, kembali menghangat dan semakin erat.
Dan suasana sangat hangat itu tetap terasa hingga sampai pagi hari. Banyak suara canda dan tawa yang hadir di dalam rumah yang beberapa waktu lalu nampak sepi. Kini mereka berkumpul kembali dengan penuh rasa bahagia setelah melalui peristiwa pahit bebeerapa tahun silam.
Suasana hangat juga bukan dirasakan keluarga ketiga wanita saja. Ketiga pria juga merasakan kehangatan yang tidak biasa setelah rencana pernikahan mereka. Masing masing dari keluarga selalu membahas tentang acara pernikahan. Bahkan saat sarapan pun, hal itu masih mereka bicarakan.
"Reyhan nggak nyariin kamu, San?" tanya Mamahnya Sandi disela sela acara sarapannya.
"Enggak tuh, Mah. Tadi aku tanya Arimbi, katanya saat ini Reyhan masih tidur," jawab Sandi sembari menikmati menu yang tersaji dihadapannya.
"Syukurlah, kalau dia juga betah di rumah Eyangnya. Biar bagaimanapun mereka masih keluarganya," ucap Mamahnya Sandi. "Kamu rencana balik kampung kapan, San?"
"Setelah semua urusan selesai, mah. Hari ini aku sama yang lain mau ngecek usaha yang ada di sini dulu, sekalian belanja semua kebutuhan untuk cabang yang di kampung," jawab Sandi. Sang mamah hanya mengangguk beberapa kali dan selanjutnya mereka kembali membicarakan yang lainnya.
Seperti yang direncanakan, ketiga pemuda saat ini sudah berada di salah satu tempat usaha mereka, yang menjadi tempat utama dan tempat awal mula usaha mereka berdiri. Karena di sana mereka sudah memiliki koki yang handal dan dapat dipercaya, jadi mereka cukup tenang saat sedang berdiskusi tentang sesuatu yang berhubungan dengan usaha mereka dan juga kehidupan pribadinya.
"Nggak nyangka ya, kita bertiga sama sama mendapat restu?" seru Randi dengan wajah yang tampak sumringah. "Aku pikir salah satu diantara kita akan ada yang ditolak."
__ADS_1
"Nah, aku juga mikirnya gitu," timpal Dandi. "Benar benar tegang aku semalam. Mana kakaknya Rianti kayak ingin nerkam gitu, tiap mandang ke arahku."
"Hahaha ... kalau aku malah santai. Nggak ada tegang tegangnya sama sekali," sahut Sandi.
"Kamu kan mending udah ada anak," Randi menimpali. "Nah kita? Cukup dengan dukungan doa saja, tanpa ada faktor pendukung yang lain."
"Hahaha ... benar!" seru Dandi. "Eh tapi kenapa tanggal pernikahan kita bisa beda sih? kenapa nggak sama sama sekalian?"
"Enak aja!" balas Sandi. "Nanti yang ngamplop bakalan bingung."
"Hahaha ..." Kedua teman Sandi sontak terbahak. "Nanti malam juga aku ke rumah Eliza lagi barengan orang tua tapi, buat ngelamar Eliza secara resmi."
"Ya sama kayak kalian, orang tuaku juga nanti malam ke rumah Arimbi," ucap Sandi. "Oh iya, kita pulang kampungnya mau bareng apa gimana?"
"Kalau menurutku sih, mending bareng aja. Tapi kita bawa mobil sendiri sendiri, gimana?" usul Dandi.
"Bawa mobil sendiri sendiri? terus kita parkir dimana? Di kontrakan kita kan garasinya hanya cukup untuk satu mobil dan dua motor?" tanya Randi.
__ADS_1
"Ya kan kita bisa parkirin mobil kita di samping kontrakan atau di dekat rumah cewek kita."
"Kalau aku sih terserah kalian aja gimana? Kalau mau pakai mobilku ya kita ngumpul di rumahku. Tapi kalau mau pakai mobil sendiri sendiri ya tinggal nentuin aja kita berangkat jam berapa."
"Lagian kalau bawa mobil sendiri, buat apa, kan kita dikonrakan nggak pergi kemana mana. Kalau ada apa apa, bisa pergi pakai mobilnya Sandi," ucap Randi.
"Tapi kan sayang juga dengan mobil kita kalau kita anggurin di rumah. Kita di sana bisa rentalkan ke penduduk yang membutuhkan loh," balas Dandi, dan berdebatan tentang mobil pun masih berlangsung hingga beberapa waktu lamanya.
Sementara itu di tempat lain, di siang yang sama, seorang pria nampak sedang ngobrol bersama tiga orang di hadapannya. Pria itu menyodorkan foto ke tiga orang tersebut. "Ini adalah foto tiga pria yang aku maksud, Kalian tentukan, mana yang akan kalian incar."
Tiga orang itu menerima foto tersebut dan mata mereka nampak berbinar. "Wah! ganteng ganteng banget!"
"Sudah pasti," ucap pria yang memberikan mereka. "Silakan kalian pilih siapa target kalian dan pastikan jebak pria pria itu sesuai dengan apa yang aku katakan tadi, mengerti?"
"Mengerti dong, Bos."
Pria itu lantas menyeringai.
__ADS_1
...@@@@@...