
Malam itu, dalam sebuah rumah, semua orang yang saat ini duduk bersama dalam satu ruang tamu, nampak tercengang begitu mendengar ungkapan hati seorang pria tua, pemimpin dari keluarga sang pemilik rumah. Tidak ada kemarahan dalam wajah pria itu. Yang terlihat hanya wajah jujur seorang pria yang penuh dengan penyesalan.
"Kenpa Bapak terlalu memuji anak saya? Sepertinya anak saya tidak melakukan hal apapun seperti yang Bapak katakan tadi?" kata pria yang usianya hampir sama dengan pria yang menjadi tuan rumah. Sebagai tamu dan juga orang tua dari pihak laki laki, tentu saja dia sangat terkejut dengan pujian yang keluar dari ayahnya pihak perempuan.
"Tapi memang kenyataannya begitu, Pak, anak Bapak sudah membuka mata hati saya yang selama ini tertutup oleh rasa egois," ucap ayahnya Eliza. "Dia berani menghadap saya, mengakui kesalahannya dimasa lalu dan juga dengan lantang, Randi meminta maaf dan melamar anak saya. Saya yang usianya lebih tua dari dia saja merasa kalah dengan sikap Randi."
Sementara itu pria muda yang sedang menjadi bahan pembicaraan, hanya bisa senyum senyum saja, dan di dalam hati, dia merasa bangga atas pujian dari calon ayah mertuanya. Tentu saja sebagai laki laki, keberanian Randi memang sesuatu yang bisa dibanggakan dan menjadi nilai lebih dimata orang yang mampu berpikir positif.
"Baiklah," Ayahnya Randi kembali mengeluarkan suaranya. "Terlepas dari apa yang sudah dilakukan anak saya, malam ini kedatangan saya dan keluarga saya ke rumah ini, dengan maksud ingin melamar Eliza secara resmi untuk menjadi bagian dari keluarga kami. Semoga bapak dan Ibu, selaku orang tua Eliza berkenan menerima anak kami sebagai bagian dari keluarga kalian juga."
__ADS_1
Bapak Eliza pun tersenyum. "Baik, mungkin memang ini jalan jodoh mereka, jadi saya sebagai ayahnya Eliza menerima lamaran Randi kepada anak saya, Eliza."
Senyum semua orang yang ada di sana hampir semuanya terkembang secara bersamaan. Raut bahagia juga terpancar dari dua keluarga tersebut.
Rasa kaget dengan wajah tercengang juga saat ini sedang terjadi pada salah satu keluarga dari sahabat Randi. Ayah sekaligus keluarga Dandi yang lainnya cukup terkejut mendengar ucapan si tuan rumah. Kata kata yang keluar dari mulut pemimpin rumah tersebut, menghadirkan rasa haru bagi keluarganya sendiri, terutama putrinya, Rianti.
"Namanya juga manusia, Pak, sesekali berbuat salah itu wajar," Ayahnya Dandi kembali mengeluarkan suaranya. "Yang penting, kita mau mengakui kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulangnya serta memperbaiki kesalahan kita, pasti pintu maaf akan terbuka lebar bagi bagi orang orang seperti itu."
Ayahnya Dandi nampak tersenyum tipis. "Apapun itu, hubungan orang tua dan anak memang sebaiknya harus diperbaiki, Pak. Biar kedepannya, tidak ada lagi masalah yang membuat hubungan orang tua dan anak menjadi renggang."
__ADS_1
"Hahaha ... sepertinya saya memang harus begitu, Pak." dan suara tawa ayahnya Rianti membuat suasana canggung disana menjadi pudar.
Tak lama setelahnya, ayahnya Dandi langsung mengatakan maksud kedatangan mereka mengunjungi keluarga Rianti. Dengan tangan terbuka, ayahnya Rianti pun menerima lamaran kembali yang dilakukan keluarga Dandi. Kedua orang tua itu berharap, untuk kali ini anak anak mereka, benar benar akan menjalani pernikahan yang sesungguhnya, tanpa ada drama seperti sebelumnya.
Di tempat lain, rasa canggung juga sedang menyelimuti keluarga Sandi. Setelah mendengar ucapan ayahnya Arimbi, tentu saja ada perasaan tidak enak yang menyelimuti hati orang tua Sandi. Biar bagaimananpun apa yang dikatakan ayahnya Arimbi memang benar, Sandi dan Arimbi memang bukan dalam usia remaja lagi. Jadi seharusnya, keduanya bisa bersikap lebih bijak dan lebih dewasa lagi.
"Baiklah, Pak," Ayahnya Sandi kembali mengeluarkan suaranya. "Maka itu, kami datang kesini, ingin memperbaiki hubungan yang salah dari anak anak kita dengan menikahkan mereka, Pak. Saya selaku ayahnya Sandi, meminta ijin dan restu Bapak sekeluarga, untuk melamar Arimbi, putri bapak menjadi bagian dari keluarga kami."
Ayahnya Arimbi lantas tersenyum. "Yah, sebagai orang tua, saya juga menginginkan yang terbaik untuk anak saya. Melihat dia bahagia, tentu juga kebahagiaan tersendiri bagi kita sebgai orang tua. Jika Arimbi bisa bahagia dengan Sandi, dengan senang hati saya menerima lamaran bapak. Apa lagi diantara mereka sudah ada anak. Rasanya akan sangat tidak pantas jika orangtua Reyhan tidak disatukan, bukan?"
__ADS_1
Semua setuju dengan ucapan ayahnya Arimbi dan malam ini ketiga pria itu merasa lega karena lamaran mereka diterima dengan baik.
...@@@@@...